PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR

Pengembangan Sumber Belajar

BP. Sitepu*)

*) Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

Opini

Belajar berbasis aneka sumber diyakini dapat mengatasi tidak hanya berbagai kesulitan dalam proses belajar dan membelajarkan, akan tetapi juga dapat mendidik peserta didik cara belajar yang tepat sehingga dapat belajar secara mandiri sepanjang hayat. Untuk itu, belajar berbasis aneka sumber perlu dilakukan seawal mungkin dalam proses pembelajaran. Tulisan ini menelaah peranan aneka sumber belajar yang perlu dikelola secara terpadu dan terintegrasi di lembaga-lembaga pendidikan sehingga proses pembelajaran benar-benar membuat peserta didik sebagai subjek dan selalu menyenangi kegiatan belajar. Atas dasartelaahan yang demikian, tulisan ini menyarankan perlunya mengembangkan, mengelola, danmemanfaatkan Pusat Sumber Belajar di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, sebagai salahsatu alternatif dalam mengatasi masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.

Kata kunci: Proses belajar membelajarkan, pengambilan keputusan, sumber belajar.

Abstrak

Resources-based Learning is believed not only beneficial in teaching-learning process, but also in students’ life-long learning. In this case resources-based learning should be carried out as early as possible in learningprocess. This article discusses how to manage and integrate learning resources to facilitate students to learn joyfully. The article also proposes to develop learning resources unit or centre in education institutions as one of the alternativies to improve educational quality. Based on this study result, it is recommended to develop, manage, and use learning resources center in education institution in Indonesia as an alternative for education for all and education quality improvement.

 

Pendahuluan

Perkembangan peradaban manusia ditandai dalam tiga tahap mulai dari era pertanian, ke era industri, sampai era informasi. Masing– masing era memiliki ciri-ciri dalam sistem kemasyarakatan termasuk dalam keluarga, ekonomi atau perdagangan dan pendidikan (Reigeluth, 1994: 4). Dalam era pertanian sistem pendidikan diarahkan pada pemberian keterampilan agar peserta didik dapat hidup dengan mengolah dan memanfaatkan sumber-sumber alam agar dapat bertahan hidup. Pada era revolusi industri peserta didik dipersiapkan menyediakan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan industri. Dengan demikian, sistem persekolahan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja sebagai buruh pabrik. Sekolah mengajar peserta didik menghafal dan bukan membelajarkan mereka memecahkan masalah secara kreatif. Peserta didik dipersiapkan menghadapi dan melayani mesin serta bekerja secara mekanistis.

Akan tetapi sekarang ini revolusi industri sudah berlalu dan kebutuhan telah berubah. Dewasa ini peserta didik perlu mempelajari kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dan masyarakat. Mereka perlu belajar bagaimana cara untuk mengambil keputusan sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dan bagaimana memilah serta memilih informasi yang tersedia begitu banyak untuk keperluan meningkatkan kemampuan mereka. Dalam keadaan yang demikian lembagalembaga pendidikan diharapkan muncul dan melaksanakan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan ini.

Pergeseran Paradigma

Perubahan masyarakat sebagai akibat perkembangan peradabannya juga ikut mengubah paradigma masyarakat terhadap pendidikan. Reigeluth (1994: 8) misalnya berpendapat bahwa perubahan itu terutama diakibatkan oleh tuntutan lapangan kerja. Pada era industri penyelenggaraan pendidikan didasarkan antara lain pada tingkat kelas, penguasaan materi, tes berdasarkan norma dan penilaian non-autentik, penyajian berdasarkan pengelompokan bahan ajar, berpusat pada guru, menghafal fakta-fakta yang tidak bermakna, kemampuan membaca dan menulis yang terpisah, dan buku merupakan sarana belajar utama. Sementara itu dalam era informasi, pendidikan dianggap merupakan proses untuk maju secara berkesinambungan, belajar berdasarkan hasil, tes secara individu dengan penilaian yang berbasis kemampuan, perencanaan belajar yang personal, belajar kooperatif, belajar beraneka sumber, guru berfungsi sebagai pemandu atau fasilitator, pembelajaran yang bermakna berdasarkan penalaran dan pemecahan masalah, diarahkan pada kemampuan berkomunikasi, dan menggunakan teknologi maju sebagai sarana utama dalam belajar dan membelajarkan. Lebih rinci dari apa yang dikemukakan Reigeluth, sebagai akibat kemajuan teknologi dan perubahan di tempat bekerja, Belt (1997) mengenali perbedaan visi pendidikan dalam era industri dan era informasi dari aspek peserta didik, sarana dan prasarana belajar, proses belajar dan membelajarkan, serta pola pembelajaran. Berkaitan dengan sarana dan prasarana, dalam era industri buku merupakan satusatunya alat utama, dan ruang kelas merupakan dunia belajar dan membelajarkan. Sedangkan berkaitan dengan proses, belajar dan membelajarkan diselenggarakan berdasarkan tingkat kelas dan usia tertentu serta selesai dalam batas waktu tertentu dengan tujuan untuk mewujudkan manusia yang berpendidikan (educated person). Bahan ajar ditentukan dan dikembangkan oleh guru sebagai pembicara utama di kelas dan pembelajaran diarahkan pada penguasaan isi bahan ajar yang diuji dengan menggunakan tes berdasarkan norma yang ditetapkan oleh kelas atau sekolah. Proses belajar mengutamakan hafalan dan fakta-fakta disajikan secara terpisah, kemampuan membaca yang terpisah, persaingan antar peserta didik. Sementara itu guru berfungsi sebagai penyalur pengetahuan (dispenser of knowledge), membelajarkan sesuai kasus dan sistem membelajarkan yang tertutup. Visi pendidikan di era informasi, menurut Belt, mengalami perubahan yang sangat berarti. Dari aspek sarana dan prasarana pendidikan, buku bukan lagi sumber belajar dan membelajarkan yang utama dan satu-satunya tetapi teknologi dan perpustakaan elektronik. Belajar dan membelajarkan tidak hanya dibatasi dalam ruang kelas yang tertutup oleh dinding, lantai dan langit-langit, tetapi dunia yang terbuka luas menjadi ruang kelas. Bahan ajar tidak lagi dibatasi pada rancangan yang dibuat guru tetapi mengacu pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta didik. Hasil belajar diuji bukan lagi semata-mata berdasarkan penguasaan menghafal tetapi mengacu pada kemampuan (outcomes-based) yang ditunjukkan peserta didik dan diukur menggunakan tes berbasis kemampuan (performance based assessment) dengan tujuan membentuk peserta didik menjadi pemelajar mandiri (self directed learner). Oleh karena itu, belajar dan membelajarkan tidak lagi dibatasi dengan tingkat kelas dan umur tertentu, tetapi merupakan kemajuan yang berkesinambungan dengan prinsip belajar sepanjang hayat dan terbuka.

Suasana belajar tidak lagi menunjukkan persaingan antar peserta didik tetapi lebih bernuansa kerja sama dan kolaborasi dalam kelompok belajar. Guru tidak lagi berfungsi sebagai penyalur pengetahuan tetapi lebih berperan sebagai pemandu, mentor, atau fasilitator yang memberikan pendampingan belajar. Perubahan paradigma tentang pendidikan seperti yang dikemukakan baik oleh Reigeluth maupun Belt seperti yang diuraikan itu menuntut perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya dalam proses belajar dan membelajarkan. Dalam membangun pendidikan menghadapi era informasi, Warren (2002), Sekretaris Dewan Pendidikan Negara Bagian Michigan serta Ketua Kelompok Kerja Dewan untuk Menyongsong Era Informasi, berpendapat bahwa perlu diperhatikan perubahan-perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era informasi ini perubahan yang sangat berarti dan drastis dalam bidang budaya, ekonomi, politik, organisasi, dan teknologi di seluruh dunia, memunculkan tuntutan dan harapan baru terhadap pendidikan. Sungguhpun terdapat kemajuan, perubahan dalam pendidikan dianggap lamban menanggapi tuntutan zaman. Standar pendidikan dan cara-cara bersekolah (schooling) tradisional yang masih berlaku dewasa ini dianggap sudah usang dan ketinggalan. Lingkungan belajar dan membel-ajarkan yang lebih berbasis papan tulis dan kapur serta berpusat pada pembelajar perlu segera diubah menjadi berbasis teknologi dan berpusat pada pemelajar.

Dalam era informasi yang sudah mulai menggejala dalam dekade terakhir abad ke 20 serta meledak dalam abad ke 21 ini, reformasi di bidang pendidikan perlu dilakukan terutama dalam memahami dan melaksanakan proses belajar dan membelajarkan. Pendapat bahwa pendidikan adalah bersekolah dan bukan belajar perlu segera ditinggalkan. Bersekolah mengarahkan pikiran pada bangunan, pendidik yang mengajar dengan menggunakan buku, serta papan tulis dan kapur di hadapan deretan peserta didik yang duduk rapi. Bersekolah dalam keadaan yang demikian adalah berfokus pada pendidik dan sistem. Sedangkan belajar adalah berpusat pada peserta didik, proses, dan hasil belajar. Era informasi menawarkan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar dan kepada pendidik untuk membelajarkan tanpa batasan waktu, tempat, ras, suku, agama, golongan, gender, keadaan sosial dan ekonomi, maupu  asal usul. Pendidikan yang berorientasi pada era informasi memungkinkan pendidik melakukan program belajar individual kepada masingmasing peserta didik serta menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik.

Download Artiekl untuk Dibaca Lebih Lanjut :

http://www.ziddu.com/downloadlink/10498217/Hal.79-92PengembanganSumberBelajar.pdf

About these ads

4 thoughts on “PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s