I. Buku dan Perkembangannya

I.  Buku dan  Perkembangannya

 

          Bab ini membicarakan beberapa pengertian tentang buku secara umum. Perkembangan buku sebagai media komunikasi mulai dari bentuk yang sederhana sampai pada bentuk seperti sekarang ini, digambarkan mulai dari menggunakan bahan dan alat yang kuno sampai menggunakan peralatan dengan teknologi mutahir. Kemajuan teknologi dalam memproduksi buku tidak mengubah fungsi buku itu secara berarti sebagai sumber informasi. Bab ini juga membahas fungsi, jenis, keunggulan dan keterbatasan buku sebagai sumber informasi untuk keperluan belajar dan membelajarkan serta berbagai alasan yang membuat buku dapat bertahan dan berkembang dalam era teknologi informasi dan teknologi komunikasi yang semakin canggih dewasa ini.

 Kemajuan teknologi telah dapat membuat proses desain dan produksi buku dapat dilakukan lebih cepat dengan tampilan lebih menarik, akan tetapi fungsi dan cara menggunakannya tidak berubah. Kemajuan teknologi informasi membantu penyusun bahan pelajaran dalam menyusun bahan naskah bahan pelajaran. Penyusun bahan pelajaran juga dapat merancang tampilan naskahnya termasuk membuat ilustrasi yang sesuai dan menarik untuk menjelaskan konsep-konsep materi bahan pelajaran.

 Pendahuluan

 Buku  dalam bahasa Indonesia, book dalam bahasa Inggris,  das Buch dalam bahasa Jerman, dan boek dalam bahasa Belanda, atau biblos dalam bahasa Yunani memiliki berbagai pengertian walaupun pada hakikatnya memiliki  inti makna yang sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  (1998, hal. 152) buku diartikan sebagai “lembar kertas yang berjilid, berisi atau kosong”. Pengertian ini sangat sederhana dan umum  tetapi secara khusus menyatakan bahan, susunan, dan isi sebuah buku. Bahan buku itu adalah kertas yang disusun dalam bentuk jilidan  serta berisi tulisan atau kosong. Atas dasar pengertian ini maka apabila bahannya terbuat dari bukan kertas, misalnya dari lontar, kulit kayu atau kain tidak dikategorikan sebagai buku. Buku, dalam pengertian ini, juga tidak dibatasi dengan ketebalan atau jumlah halaman. Dilihat dari bentuk dan tampilan isi pada kertas,  pengertian buku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  ini mengenal buku cetakan, buku tulis, dan buku gambar. 

Ensiklopedi Indonesia (1980, hal. 538) memberikan pengertian buku secara lebih luas dengan menyebutkan bahwa:

 Dalam arti luas buku mencakup semua tulisan dan gambar yang ditulis dan dilukis atas segala macam lembaran papirus, lontar, perkamen dan kertas dengan segala bentuknya: berupa gulungan, dilubangi dan diikat dengan atau dijilid muka belakangnya dengan kulit, kain, karton dan kayu.

 Pengertiaan buku dalam Ensiklopedi Indonesia (EI)  lebih luas dari yang diberikan dalam KBBI. Bahan buku menurut EI tidak hanya terbatas dari kertas tetapi juga dari bahan lain seperti papirus, lontar, dan perkamen. Bentuk buku tidak dibatasi pada yang terjilid saja tetapi juga yang dalam bentuk gulungan , diikat atau dilubangi. Sedangkan isi buku memuat informasi dalam bentuk tulisan atau gambar. Berbeda dengan KBBI, EI tidak menggolongkan kumpulan kertas yang tidak mengandung informasi (kertas kosong biarpun terjilid) sebagai buku. Sama dalam KBBI,  pengertian ini juga tidak memberikan batasan jumlah halaman sebuah buku.

 Secara ringkas H.G. Andriese dkk menyebutkan buku merupakan “informasi tercetak di atas kertas yang dijilid menjadi satu kesatuan”. Pengertian ini memberikan ciri buku sebagai kumpulan kertas tercetak dan terjilid tanpa batasan jumlah halaman. Bahan buku  dibatasi pada kertas, seperti pada definisi KBBI. Sama dengan pengertian yang disebutkan dalam EI, definisi ini tidak menggolongkan kertas kosong yang berjilid sebagai buku.

Unesco pada tahun 1964, dalam H.G. Andriese dkk. memberikan pengertian buku sebagai “Publikasi tercetak, bukan berkala, yang sedikitnya sebanyak 48 halaman”. Pengertian Unesco ini lebih memperhatikan buku dari aspek sifat terbitan (bukan sebagai bahan cetakan yang terbit secara berkala seperti majalah) dan jumlah halaman isi (paling sedikit 48 halaman tidak termasuk kulit, halaman judul, daftar isi, dan pengantar). Pengertian ini tidak memberikan alasan yang jelas latar belakang atau alasan tentang sifat terbitan dan jumlah halaman tersebut. Lebih jauh Unesco menyebutkan bahwa apabila jumlah halaman kurang dari 48 halaman, publikasi tercetak itu disebut brosur. Sama dengan pengertian yang diberikan oleh EI dan H.G. Andries dkk., Unesco juga tidak menggolongkan kumpulan kertas kosong  yang terjilid sebagai  buku.

 Keempat pengertian tentang buku yang dikemukakan itu memberikan rumusan yang berbeda satu sama lain, walaupun dalam hal tertentu memiliki kesamaan. Semuanya sepakat bahwa buku pada umumnya terdiri atas kertas yang terjilid tanpa pembatasan ukuran (tinggi dan lebar) dan jumlah halaman maksimal.  Ketiga pengertian yang terakhir memberikan batasan bahwa buku mengandung informasi dalam ragam tulisan atau cetakan,  pada hal dalam bahasa Indonesia (sebagaimana terlihat juga dalam pengertian buku dalam KBBI) buku itu tidak selalu mengandung informasi tertulis atau tercetak sebagaimana dikenal seperti buku tulis atau buku bergaris (buku untuk menulis), buku gambar (buku untuk menggambar). Sifat publikasi atau penerbitan dan jumlah halaman yang dibatasi dalam mengartikan buku (menurut Unesco) juga merupakan hal yang dalam pengertian sehari-hari sering berbeda. Dalam keseharian, jarang diperhatikan sifat terbitan itu (apakah terbit berkala atau tidak) dalam mengidentifikasikan sebuah buku. Oleh karena itu tidak jarang terbitan berkala yang tebal, seperti jurnal ilmiah, buku statistik, atau buku petunjuk telpon, disebut buku. Jumlah halaman pun sering tidak dijadikan petunjuk dalam mengenali sebuah buku. Bahan cetakan yang terjilid tapi kurang dari 48 halaman  disebut sebagai buku, misalnya buku untuk Taman Kanak-Kanak, buku untuk siswa kls 1 dan 2 SD atau buku bergambar yang pada umumnya kurang dari 49 halaman.

Sungguhpun terdapat unsur-unsur yang sama dalam keempat definisi yang dikemukakan, namun terdapat juga perbedaan. Sesuai dengan isi tulisan ini yang membicarakan tentang teknik penulisan naskah buku pelajaran, maka buku di sini diartikan sebagai kumpulan kertas tercetak dan terjilid berisi informasi dengan jumlah halaman paling sedikit 48 halaman yang dapat dijadikan salah satu sumber dalam proses belajar dan membelajarkan. Jumlah halaman yang mengacu pada pengertian buku yang dirumuskan Unesco dipakai juga sebagai batasan buku karena sebagai salah satu sumber informasi dalam proses belajar dan membelajarkan, di samping kualitas, kuantitas informasi juga dianggap penting serta ikut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran itu. Oleh karena fungsinya sebagai salah satu sumber informasi dalam proses pembelajaran, maka pengertian buku di sini tidak mencakup buku tulis/bergaris dan buku gambar yang pada hakikatnya belum memiliki informasi sebagai bahan belajar dan membelajarkan

Perkembangan Buku

Sejak lahir, manusia melakukan berbagai cara untuk menyampaikan perasaan dan pikiran/gagasannya kepada orang lain, mulai dari bentuk yang paling sederhana sampai pada bentuk yang paling rumit. Secara sederhana bentuk-bentuk komunikasi yang lazim dilakukan manusia ialah melalui bahasa lisan, bahasa gerak gerik (gesture),  bahasa tanda (codes) dan bahasa tulisan. Bahasa tulisan merupakan sarana komunikasi yang terakhir ditemukan walaupun penemuannya sudah lebih dari 4000 tahun yang lalu. Tulisan dalam bentuk yang paling sederhana dan mungkin lebih cenderung disebut merupakan gambar-gambar yang sendiri-sendiri atau digabung-gabung sehingga mengandung makna, ditemukan di dinding-dinding gua ribuan tahun Sebelum Masehi (SM). Gambar-gambar dan tulisan-tulisan mengandung catatan tentang peristiwa-peristiwa yang dialami sekelompok manusia sehingga dapat diketahui oleh orang lain dan kemudian menjadi sejarah. Gambar-gambar di dinding-dinding goa itu berkembang menjadi awal perwujudan budaya tulisan dalam bentuk paling sederhana sebagai media komunikasi.

Penduduk yang bermukim di pinggir Sungai Euphrates di Asia Kecil  sekitar tahun 2000 SM membuat tulisan pada lempengan tipis dari tanah liat, kemudian dibakar sehingga keras. Informasi  dalam bentuk gambar atau tulisan pada lempengan tanah liat itu dapat disimpan dan dibawa ke tempat lain sehingga lebih banyak orang dapat membaca dan mengetahuinya. Sementara itu penduduk di Sungai Nil, menggunakan batang pohon papirus dalam membuat buku. Pohon ini banyak tumbuh di pesisir Laut Tengah dan di sepanjang pinggir Sungai Nil. Pohon papirus dipotong-potong dengan panjang sekitar 60 cm, kemudian kulitnya dibuang. Potongan  pohon papirus ini diiris tipis-tipis dan disambung-sambung dengan lem sehingga menjadi lembaran panjang yang kemudian digulung. Di atas gulungan inilah orang membuat gambar dan tulisan. Model gulungan ini juga dipakai oleh bangsa Romawi untuk menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan dan gambar. Akan tetapi bahan yang dipakai adalah kulit domba yang disebut perkamen (parchment) yang pembuatannya lebih mudah daripada dari kayu.

Informasi tertulis dalam bentuk gulungan masih dipakai untuk berbagai keperluan sampai sekitar tahun 300 Masehi (M). Gulungan itu dibuat semakin panjang dengan menyambung-nyambungnya  dan dijahit sehingga semakin kuat. Bentuk ini disebut codex yang menjadi cikal bakal lahirnya buku seperti yang ada sekarang ini.

Penemuan kertas dari bahan serat yang disebut hennep  di Tiongkok pada tahun 105 M memberikan pengaruh besar dalam pembuatan buku yang sebelumnya dalam bentuk gulungan menjadi bentuk terjilid. Pembuatan kertas menyebar dan berkembang ke negeri-negeri lain seperti ke Asia Tengah, Arab, Spanyol dan Eropa. Pabrik kertas pertama dibangun di Perancis pada tahun 1189, di Italia pada tahun 1276, dan di Jerman pada tahun 1391.

 Sampai tahun 1400 informasi dalam bentuk tulisan dibuat dengan tangan  memakai tinta dan disalin untuk penggandaan dan penyebarluasannya. Pekerjaan menulis atau menyalin itu banyak dilakukan di biara-biara dan perusahaan-perusahaan sampai Johannes Gutenberg di kota Mainz, Jerman, menemukan mesin cetak yang masih sangat sederhana pada tahun 1450. Mesin cetak pertama yang dibuat oleh Guttenberg adalah pembuatan huruf-huruf lepas yang terbuat dari timah. Huruf-huruf tersebut kemudian disusun dengan menggunakan acuan yang dapat distel. Melalui mesin ini bahan informasi tercetak dapat digandakan dalam jumlah banyak. Proses (susun huruf dan cetak)  inilah merupakan awal percetakan. 

 Selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mesin cetak pun berkembang dan membawa dampak dalam percetakan buku. Dewasa ini mesin susun huruf hampir ditinggalkan dalam pencetakan buku. Dengan menggunakan kecanggihan komputer, naskah dapat diketik, diberikan ilustrasi, diedit, dan diatur/disusun sesuai dengan jenis serta ukuran huruf dalam tata letak yang dikehendaki, termasuk pembuatan gambar dan warna, serta langsung dihubungkan ke mesin cetak yang secara otomatis memprosesnya sehingga tercetak, terjilid, terpotong menjadi buku yang siap digunakan. Di samping lebih cepat, pembuatan buku dapat dilakukan dengan lebih menarik penampilannya serta dalam jumlah yang lebih banyak.

 Dengan perkembangan program lunak (soft ware) komputer seperti program Page Maker dan Microsoft Word, penulis/pengarang buku dapat merancang dan menyusun naskahnya dalam bentuk yang dikehendaki.

 Keunggulan Buku

 Dua dekade belakangan ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah memacu perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi secara cepat, sehingga berbagai bentuk informasi dapat disampaikan dan disajikan dari jarak jauh secara cepat, lebih menarik, dan relatif murah. Kemajuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi ini juga dimanfaatkan dalam proses pendidikan pada umumnya termasuk dalam proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan melalui berbagai jenis media pandang-dengar (audiovisual media). Sungguhpun demikian, ternyata media pandang-dengar belum dapat sepenuhnya mengungguli dan menggantikan buku sebagai salah satu sumber informasi dan sumber pembelajaran.

Dibandingkan dengan media pembelajaran lain, buku memiliki keunggulan spesifik yang dapat dikategorikan dalam isi, pemanfaatan, dan harga buku.

 1.     Isi Buku

a. Sesuai untuk semua jenis informasi atau kajian.

Buku dapat dipakai untuk berbagai jenis informasi atau kajian, fiksi, fiksi ilmiah, atau non fiksi, untuk keperluan hiburan, dokumentasi, atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Informasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk.

Untuk memperjelas dan membuat lebih menarik, informasi dapat disajikan dalam bentuk narasi/deskriptif, ilustrasi (gambar, grafik, tabel), atau gabungan berbagai bentuk.

c. Buku pelajaran dapat memberikan struktur bahan ajar

Pembelajar dan siswa dapat mengetahui keseluruhan bahan yang dipelajari dan  urutan serta struktur bahan ajar dapat dilihat secara jelas

2. Pemanfaatan Buku

a. Waktu dan tempat belajar dapat disesuaikan.

Informasi dalam buku dapat dibaca dan dipelajari tanpa batas waktu dan tempat, kapan saja dan di mana saja dikehendaki asal tersedia penerangan yang cukup. Bentuk fisiknya yang sederhana  dan praktis juga membuatnya mudah dibawa kemana-mana.

b. Belajar sesuai dengan kemampuan.

Informasi dapat dipelajari sesuai dengan kecepatan membaca dan memahami informasi di dalam buku. Mereka yang mengetahui secara tepat informasi yang diperlukan, mungkin tidak perlu membaca bagian-bagian yang tidak relevan, tetapi langsung memilih bagian-bagian tertentu saja. Dengan demikian tidak perlu membaca keseluruhan isi buku. Untuk memudahkan pemahaman, buku dapat pula diberi tanda-tanda (distabilo atau diberi garis bawah) atau diberi catatan-catatan tambahan.

c. Mengulangi dan meninjau kembali

Untuk meningkatkan pemahaman, pembaca dapat membaca berulang-ulang bagian-bagian yang dirasakan sulit, sampai betul-betul dipahami maknanya. Untuk menyegarkan ingatan, buku dapat pula dibaca kembali secara keseluruhan atau hanya bagian-bagian tertentu yang diinginkan. Siswa dapat pula membandingkan informasi tentang hal yang sejenis dari buku yang berbeda atau dari sumber informasi lain

d. Bahan ajar serta tugas-tugas yang siap pakai

Buku pelajaran yang baik berisi informasi yang lengkap tentang bahan ajar dan disertai dengan tugas, latihan, dan soal-soal, sehingga pembelajar dan siswa tidak perlu lagi membuang waktu untuk mencari dan melengkapinya dari sumber-sumber lain, kecuali untuk pengayaan.

e. Sumber informasi yang efisien

Buku dapat dimanfaatkan oleh banyak pemakai dan dapat dipindahkan dari seorang pemakai kepada pemakai lain. Buku yang sama di perpustakaan dapat dibaca dan dipinjam oleh banyak pemakai jasa perpustakaan. Bahkan tidak terhitung jumlah orang yang sudah memanfaatkan buku-buku tua yang mengandung informasi yang bermutu atau bersejarah. Walaupun berkali-kali  dibaca dan dipelajari banyak orang, isi buku tidak memiliki kelunturan. Dalam kaitannya dengan pemerataan untuk memperoleh kesempatan untuk belajar, buku merupakan media pembelajaran yang dapat menjangkau dan memberikan kesempatan yang sama kepada banyak anak.

f. Tidak memiliki ketergantungan pada sumber daya.

Berbeda dengan media elektronik pada umumnya, buku dapat dimanfaatkan tanpa ketergantungan pada sumber daya seperti tenaga listrik atau baterai. Dengan demikian buku dapat dibaca dan dipelajari di tempat-tempat yang belum terjangkau tenaga listrik. Oleh karena itu di negara-negara yang sedang berkembang dan belum memiliki sumber daya listrik di semua wilayahnya, buku merupakan salah satu sumber belajar utama.

 3.      Harga Buku

a. Harga buku relatif murah.

Bahan buku terbuat dari kertas dan biaya pencetakannya relatif murah. Semakin banyak tiras buku dicetak, semakin murah pula harganya. Di samping itu biaya pengiriman buku juga tergolong lebih murah dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Di kebanyakan negara (termasuk Indonesia) biaya pengiriman buku melalui pos mendapat keringanan dari tarif biasa.

b. Dapat disesesuaikan dengan kemampuan daya beli

 Agar dapat dijangkau oleh kebanyakan lapisan masyarakat, bahan buku dapat pula dipilih dari kertas koran yang harganya lebih murah. Sebagai contoh, sampai sekarang ini di Cina pada umumnya buku-buku pelajaran dicetak di atas kertas koran, sehinga harganya lebih murah dan jangkauannya dapat lebih luas. Untuk keperluan tertentu, buku dapat pula dibuat dari kertas yang bagus dan tahan lama serta diberi sampul dengan karton keras (hard cover) serta dilapisi dengan sampul (jacket) sehingga berpenampilan mewah. Pembuatan buku seperti itu tentu lebih mahal dan biasanya jangkauannya juga terbatas. Perbedaan mutu dan jenis kertas untuk buku pada hakikatnya tidak terlalu mempengaruhi mutu informasi yang ada di dalamnya. Mutu cetakan, termasuk warna, akan lebih baik dan  jelas pada kertas yang lebih bermutu. Oleh karena itu buku-buku tertentu diterbitkan dalam dua edisi, edisi hard cover (lux) untuk sasaran khusus, dan edisi soft cover/paper back untuk sasaran yang umum/luas.

 Keterbatasan Buku

Di samping kelebihannya dibandingkan dengan media lain, buku memiliki keterbatasan sebagai berikut.

1.      Tidak dapat memenuhi kebutuhan semua siswa di semua tempat dan semua waktu.

Setiap siswa atau setiap kelas memiliki kemampuan, ciri, serta kebutuhan yang berbeda-beda. Perbedaan itu dapat terjadi karena perbedaan pengalaman belajar, budaya, atau geografis. Oleh karena itu penyeragaman buku pelajaran untuk siswa yang berbeda latar belakang pendidikan, sosial, dan budayanya kurang efektif sebagai sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang standar. Sungguhpun isi buku dapat disempurnakan atau direvisi dari waktu ke waktu, pada umumnya isi buku tidak dapat serta merta mengikuti perkembangan informasi (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang aktual karena proses revisi dan penerbitannya memerlukan waktu yang relatif lama.

2.      Cenderung monolog

Penyajian informasi melalui buku cenderung monolog dalam arti informasi datang dari satu pihak saja (pengarang buku) dan sulit dapat dilakukan komunikasi interaktif yang bersifat langsung. Apalagi kalau penyajian informasi kurang memperhatikan karakteristik pembaca atau siswa, keadaan yang demikian sangat mudah dapat menimbulkan kejenuhan membaca dan belajar.

3.      Membatasi kreatifitas

Struktur dan urutan bahan ajar dalam buku pelajaran dapat mengurangi kreatifitas guru dalam memilih bahan ajar dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan pembelajaran.

4.      Keterbatasan daya fisik buku

Buku dibuat dari kertas yang memiliki daya tahan terbatas. Di samping mudah robek dan rusak kena air atau kelembaban udara, daya tahan kertas apabila sering dipakai biasanya hanya mencapai sekitar lima tahun. Warna kertas juga dapat berubah menjadi kuning sehingga kurang nyaman dibaca.

 Fungsi Buku

 Buku dalam bentuk yang paling sederhana dikenal sebagai sarana komunikasi dalam ragam tulisan. Sejak awal buku dirancang dan dipergunakan sebagai media komunikasi yang dengan simbol-simbol tersendiri memuat perasaan,  pikiran, gagasan, atau pengetahuan penulisnya untuk disampaikan kepada orang lain atau untuk dirinya sendiri.

Buku dipergunakan pula sebagai sarana untuk melestarikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan demikian, buku merupakan salah satu sumber informasi tentang perkembangan budaya manusia sejalan dengan perkembangan peradabannya. Walaupun teknologi informasi dan teknologi komunikasi berkembang pesat dan cepat, penampilan buku secara fisik tidak banyak berubah. Buku masih terdiri atas lembaran-lembaran kertas tercetak yang disatukan atau dijilid menurut urutan tertentu, bertutupkan dan beralaskan kertas tebal atau karton yang tercetak pula. Secara fungsional buku berperan sebagai wahana dan sarana komunikasi tercetak dalam sejumlah bab dengan penyajian yang mengikuti suatu sistematika yang wajar. Dalam sepuluh tahun terakhir ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mendorong perkembangan  pembuatan dan pemanfaatan buku elektronik (electronic book) yang pada hakekatnya bentuk dan isinya sama dengan buku tetapi ditampilkan dengan menggunakan komputer.

Melalui buku dapat dipelajari dan dipahami keadaan masa yang lampau dan sekarang  serta dapat dimanfaatkan untuk meramalkan kemungkinan keadaan yang masa yang akan datang. Pemikiran dan pengalaman ilmuwan pada umumnya direkam dan disebarluaskan melalui buku. Tidak jarang pula perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni diawali dari pemikiran yang dituangkan dalam buku.

Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa dikaitkan dengan proses pembelajaran, buku pada umumnya dan buku pelajaran pada khususnya berfungsi sebagai salah satu sumber informasi untuk:

1.   memperluas wawasan,

2.   memberikan pengetahuan baru,

3.   memperdalam pengetahuan sebelumnya,

4.   memberikan inspirasi baru, dan

5.   mendorong untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah dimiliki.

 Jenis Buku

 Buku dapat digolongkan ke berbagai jenis berdasarkan berbagai sudut pandang. Dilihat dari fungsinya, secara umum buku dapat digolongkan sebagai (a) buku bacaan dan (b) buku pelajaran. Sedangkan dilihat dari jenis isinya, buku dapat digolongkan sebagai (a) buku fiksi, (b) buku fiksi ilmiah, dan (c) buku non fiksi. Dilihat dari bentuk penyajiannya, buku dapat pula dikategorikan pada (a)buku bacaan, (b) buku bacaan/cerita bergambar dan (c) buku komik.

Berdasarkan penggunaannya di sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah (berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah No. 262/C/Kep/R. 1992), menggolongkan buku  ke dalam empat jenis.

  1. Buku Pelajaran Pokok

Buku pelajaran pokok  atau sering juga disebut buku wajib ataau buku paket adalah buku yang digunakan oleh siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Buku ini  memuat bahan pembelajaran yang dipilih dan disusun secara teratur dari suatu mata pelajaran yang minimal harus dikuasai oleh siswa maupun guru pada tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Belakangan ini buku pelajaran pokok ini disebut juga buku teks pelajaran (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 11 Tahun 2005) dengan definisi:

 Buku pelajaran adalah buku acuan wajb untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.

 2.      Buku Pelajaran Pelengkap

Buku pelajaran pelengkap atau buku pengayaan adalah buku pelajaran yang melengkapi isi buku pelajaran pokok. Buku pelajaran pelengkap dimaksudkan untuk  memperkaya, memperluas dan memperdalam pengetahuan siswa dan mendukung isi kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, buku teks pelengkap dapat berisi hanya pokok-pokok bahasan tertentu saja dari kurikulum tetapi dibahas secara luas dan mendalam. Bahan ini diperlukan siswa untuk lebih memahami konsep-konsep yang ada dalam buku pelajaran pokok.

3.      Buku Bacaan

Buku bacaan adalah buku yang digunakan sebagai penambah pengetahuan atau pengalaman atau juga sebagai hiburan, yang menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi buku bacaan fiksi dan non fiksi. Buku bacaan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pendukung mata pelajaran bahasa, tetapi juga untuk mata pelajaran lain tetapi disajikan dalam bentuk ceritra atau bacaan. Perbedaannya dengan buku pelajaran pelengkap terlihat pada bahasa, bentuk, dan sistematika penyajian. Buku bacaan disajikan dalam bahasa yang lincah, dengan bentuk dan sistematika sebagaimana layaknya suatu cerita. Sedangkan buku pelajaran pelengkap disajikan dalam bentuk bahasa baku yang dapat memberikan kesan kaku serta dalam bentuk dan sistematika yang teratur.

4.      Buku Sumber

Buku sumber adalah buku yang digunakan sebagai sumber informasi oleh siswa dan atau guru untuk mendapatkan kejelasan tentang suatu bidang ilmu atau keterampilan. Buku sumber berfungsi sebagai rujukan resmi atas suatu masalah dan kebenaran informasinya dianggap terjamin dan diakui. Contoh buku sumber ialah kamus, ensiklopedia, himpunan peraturan, dan  atlas.

 Dilihat dari sasaran atau peruntukannya, buku dapat juga dikelompokkan ke dalam (a) buku siswa, (b) buku guru, dan (c) buku siswa dan guru. Buku siswa adalah buku pelajaran yang disusun khusus untuk keperluan dan pegangan siswa dalam proses belajar, seperti buku pelajaran konvensional dan buku modul, dan buku kerja/lembar kerja siswa. Buku guru adalah buku yang khsusus disusun untuk keperluan dan pedoman guru dalam membelajarkan siswa dalam mata pelajaran tertentu, seperti buku Pedoman Guru. Sedangkan buku siswa dan guru adalah buku yang dijadikan sumber informasi oleh siswa dan guru dalam proses belajar dan membelajarkan  seperti kamus, ensiklopedia, dan atlas.

Contoh penggolongan buku seperti yang telah diberikan menunjukkan bahwa buku dapat digolongkan secara berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan. Penggolongan jenis buku itu dapat berkembang terus dan tidak ada cara yang paling lengkap atau paling benar.

 Uraian dalam bab ini menunjukkan bagaimana buku dari bentuknya yang paling sederhana berkembang menjadi salah satu sumber informasi dan sumber belajar dan membelajarkan yang banyak digunakan karena berbagai kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan media elektronik. Kenyataan menunjukkan bahwa buku pelajaran sebagai salah satu bentuk media cetak tidak dapat ditinggalkan begitu saja dalam proses pembelajaran khususnya di tempat-tempat yang belum terjangkau oleh media elektronik. Penting dan strategisnya kedudukan buku sebagai sumber belajar dan alat pembelajaran sehingga perlu dipelajari dan dikembangkan sedemikian rupa agar tidak kalah menarik dari media lainnya. Dengan demikian maka masalahnya ialah bagaimana naskah buku disusun dan dikembangkan, dirancang penyajian dan penampilannya secara fisik sehingga siswa tertarik dan termotivasi untuk membaca dan membelajarinya tanpa mengabaikan fungsi buku itu sebagai media penyampaian pesan yang dalam hal ini ialah ilmu pengetahuan, teknologi atau seni.

 Ringkasan

 Budaya tulis yang mendasari pembuatan buku berkembang selaras dengan kemajuan peradaban manusia yang bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Pesan dalam bentuk tulisan atau gambar disampaikan dengan menggunakan berbagai media seperti lempengan tanah liat, papyrus, daun lontar, kulit binatang, kain, dan kertas. Dengan mesin cetak yang ditemukan oleh Guttenberg, buku dapat dibuat dalam jumlah banyak dengan bentuk seperti sekarang ini sehingga dapat dijadikan sebagai media informasi dengan berbagai jenis pesan/isi untuk berbagai keperluan.

            Dibandingkan dengan media lain, buku memiliki keunggulan dilihat dari isi,  distribusi, pemanfaatan, dan harganya. Kekhasan keunggulan buku itu membuat buku tidak dapat sepenuhya digantikan oleh media lain sehingga dalam kemajuan dan kecanggihan media elektronik dewasa ini, buku masih digunakan sebagai sumber informasi khususnya untuk keperluan belajar dan membelajarkan. Sungguhpun demikian buku juga memiliki keterbatasan dalam penyajian pesan, fisik, serta sasarannya.

            Buku dapat dibedakan dari jenis isinya, penggunaan, dan sasarannya. Dilihat dari isinya buku dapat dibedakan buku fiksi dan non-fiksi atau buku pelajaran dan buku bacaan. Dilihat dari pemanfaatannya dalam proses pembelajaran buku dapat dikelompokkan ke dalam buku pelajaran pokok/buku teks pelajaran, buku pelengkap, buku bacaan, dan buku sumber. Sedangkan dilihat dari sasarannya buku pelajaran dapat juga dikelompokkan sebagai buku untuk siswa/pemelajar, buku untuk guru/pembelajar, serta buku untuk siswa/pemelajar dan pembelajar/pembelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s