Bag.10 – NOSTALGIA

NOSTALGIA

Oleh: B.P Sitepu

Ketika redaksi Buku meminta saya menulis, saya agak bingung. Isi Buku belakangan ini sudah cukup bervariasi. Lalu, apalagi yang harus akan ditulis supaya tidak terkesan sejenis dengan yang lain ? Akhirnya saya mencoba tampil beda dengan isi, gaya dan teknik yang mungkin terkesan bersifat pribadi. Mudah-mudahan nostalgia ini memberikan variasi lain dalam terbitan kali ini.


Dengan hati-hati sekali saya perlahan-lahan menggerak-gerakan alat cukur berbaterai. menjelajahi rambut-rambut putih yang tumbuh berantakan memenuhi pelipis, dagu, sampai ke sekitar lehernya. Karena sudah demikian panjang, alat cukur yang saya beli beberapa jam lalu di Pasar Senen terasa kewalahan untuk membabat rambut-rambut  kasar itu. Berkali-kali alat cukur itu macet karena kepenuhan rambut. Ketika rambut-rambut itu mulai berguguran , terlihat raut wajahnya yang telah ditelan usia serta terkesan pucat didera penyakit yang sudah menahun. Namun, dibalik itu masih terbersit bekas raut muka yang gagah dan penuh wibawa. Sudah  hampir lima menit alat cukur itu bekerja keras dengan suara desingan mengisi keheningan antara kami berdua. Dia tidak berbicara dan saya pun terpaksa diam. Kesepian itu mengundang lamunan dengan versi yang berbeda antara beliau dan saya. Saya teringat kembali ke masa silam ketika sosok tubuh yang sekarang terbaring lemah itu memimpin suatu biro tempat pertama kali saya bekerja sebagai pegawai negeri.

Disiplin, ulet dan bekerja keras, itulah ciri yang dimilkinya. Perhatiannya kepada tugas dan semua stafnya membekas di hati semua orang di Biro itu. Ketika mempersiapkan konsep bahan jawaban Menteri untuk DPR beliau selalu mengikutinya sampai larut malam. Tanpa merasa sungkan, beliau tidak jarang hanya memakai kaus oblong karena kepanasan ketika bekerja lembur. AC sentral telah lama dimatikan dan pada waktu itu belum ada AC seplit. Dengan lahap beliau menikmati makan malam nasi bungkus bersama-sama dengan semua pegawai yang ikut lembur. Beliau pulalah yang menugaskan saya belajar ke Australia, biarpun pada waktu itu saya masih berstatus calon pegawai negeri. Tanpa merasa kehilangan gengsi dan kehormatan, beliau mengantarkan saya ke bandara dan menjemputnya ketika kembali ke tanah air untuk mengadakan penelitian. Dalam kesibukan sehari-hari beliau masih sempat memberikan perhatian dan motivasi yang besar dalam surat-suratnya menanggapi laporan kemajuan studi saya. Why not the best?. Prinsip Jimmy Carter sering diulanginya. Semangatnya sungguh mempesonakan. Padahal kami baru saling mengenal kurang dari setahun. Kami bukan pula sedaerah, pun tidak sesuku, juga tidak seiman. Beliau adalah keturunan ningrat sedangkan saya anak petani desa yang masih tergolong “udik”.

Saya pandang lagi wajah yang mulai terlihat bersih sesudah dicukur. Saya usap bekas cukuran itu dan di sana sini masih terasa tonggak-tonggak pangkal rambut yang kasar. Matanya terpejam seperti kelelahan, namun tidak tertidur. Dalam hati, saya bercanda sebagai seorang tukang cukur yang leluasa meraba dan mengusap wajahnya yang tidak akan mungkin saya lakukan ketika dia masih menjabat Kepala Biro. Terbayang pula bagaimana dengan penampilan sebagai Bapak, beliau pernah menasihati dan mengingatkan saya karena beliau menganggap saya mulai tidak bisa mengendalikan diri. Terkenang pula ketika beliau terhenyak bangun ketika saya selesai membaca konsep sambutan Menteri. Dengan nada serius beliau menanggapi isi konsep pidato itu cukup mengasyikkan sehingga dapat membuat beliau tertidur. Dalam hati saya tertawa geli. Lalu, konsep itu diketik rapi dan keesokannya dibacakan oleh Menteri dalam upacara pelantikan salah seorang rektor. Ketika mengikis tonggak-tonggak rambut yang tersisa di dagunya, lamunan menerobos kenangan ketika beliau datang dan menginap di rumah keluarga saya pada suatu malam ketika beliau sudah menikmati masa pensiun. Ah betapa bangganya saya pada waktu itu. Tidak terlihat kepenatan di wajahnya, tidak terlihat kekakuan pada tingkah lakunya di rumah yang sangat sederhana dan di pinggiran itu. Beliau bercerita banyak dengan semangat yang tidak pernah luntur. Beliau bangga tinggal bertani di tengah-tengah orang desa di daerah Indramayu. Beliau merasa sebagai seorang inovator dan change agent di  kalangan masyarakat desa. Beliau begitu baik, peduli, tulus, dan penuh perhatian kepada orang lain. Nikmatilah hidup ini sebagaimana adanya , pesannya.

Tubuh yang kekar dan dulu pernah menjadi pejuang dan guru olah raga itu, kini terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya sudah jauh lebih bersih dari sebelumnya. Saya tidak tahu mengapa selama di rumah sakit, beliau membiarkan jambang, kumis dan jenggotnya yang putih itu tumbuh menyeramkan. Sosok tubuh itu pula yang telah berhasil mendidik putra satu-satunya menjadi  seorang dokter spesialis dan putri satu-satunya menjadi dokter umum yang mengajar di Fakultas Kedokteran sebuah Universitas ternama. Kadar gula tinggi  membuat raganya lemah tetapi semangat tetap tinggi dengan pikiran yang masih jernih. Dalam keadaan yang demikian beliau masih mengajak saya berdiskusi dalam bahasa inggris yang sangat fasih. Mengagumkan..!

Saya selalu menyempatkan diri menjenguknya sore atau malam hari. Sampai pada suatu ketika sebagian tubuhnya mulai kaku serta tidak dapat digerakkan lagi, tetapi ketika saya datang ia masih menggumam sebentar. Beberapa hari kemudian… saya ikut berdiri menghadap gundukan tanah merah sambil berdoa semoga arwah orang yang saya kagumi dan telah banyak berbuat baik itu diterima  Allah di tempat yang layak. Di rumah, sambil mengenang beliau, saya mengambil buku tebal berjudul Top Management:Handbook, pemberian almarhum ketika saya menyelesaikan program S3. Saya buka halaman pertama, terlihat jelas tulisan tangan almarhum: Buat Ananda, Semoga…Tanpa terasa air mata menetesi tulisan itu. Harapan beliau mengikuti kata”Semoga” itu ternyata tidak dapat saya penuhi.

*  *  *

Suatu hari, menjelang tengah malam, melalui telepon saya diminta datang ke rumah sakit. Betapa terkejut saya mendengar berita itu, karena pada hari sebelumnya ketika saya berkunjung ke rumah sakit, saya tidak mendapat firasat apa-apa. Saya segera meluncur ke rumah sakit itu, dan menemukan sudah banyak keluarga yang berkumpul. Masing-masing wajah memancarkan sinar kecemasan. Saya diberitahu bahwa tinggal saya satu-satunya yang ditunggu untuk memulai acara berdoa. Saya sangat penasaran dan menyeruak kerumunan orang-orang yang mengelilingi tempat tidur itu. Saya menatap wajah kurus, pucat dan lemas. Ketika melihat saya, beliau melontarkankan sekilas senyum dan menanyakan jam berapa saya selesai mengajar. Saya kaget, beliau masih mengingat hari itu hari Rabu, hari yang saya pergunakan mengajar sepanjang hari sampai malam. Sehabis acara berdoa, saya duduk menyendiri di pojok ruangan sementara keluarga lain pergi dan menunggu di luar kamar. Perjalan malam yang semakin larut membuat beberapa orang di ruangan itu saling berdiam diri sambil mengamati pasien yang kelihatan mulai tertidur. Entah dari mana awalnya, kenangan lama muncul kembali mengisi kekosongan pikiran saya.

Di ruang tunggu bandara di Kalimantan Tengah, kami saling berangkulan menjelang kepulangan rombongan kembali ke Jakarta. Perpisahan itu menandakan suatu hubungan bathin yang mendalam khususnya kepada saya. Beliau memiliki arti tersendiri dalam kehidupan saya ketika sebelumnya beliau menjadi atasan saya di Jakarta. Saya belajar dari beliau bagaimana menikmati kehidupan dalam kejujuran dan keprihatinan. Beliau begitu polos dan lugu. Loyalitas merupakan salah satu prinsipnya yang kentara dan konsisten. Tidak pernah terbersit kemarahan dan kebencian dalam pribadinya, bagaimana pun besarnya kesalahan yang dibuat. Kadang-kadang saya berpikir beliau memang tidak tahu bagaimana caranya memarahi orang. Tidak ada perubahan yang berarti dalam sifat dan pembawaannya ketika beliau kembali lagi bertugas di Ibukota. Selama sekitar tujuh tahun beliau menjadi atasan saya lagi dan saya menganggapnya lebih sebagai guru dan sahabat. Kemudian usia memisahkan kami kembali di tempat kerja. Lima tahun kemudian, pada suatu upacara keluarga yang sangat sederhana sebagai ucapan syukur atas selesainya tugasnya sebagai abdi negara, saya diminta memberikan sambutan dan menguraikan kisah hidupnya. Betapa terkejutnya saya mendapat tugas yang terhormat itu. Jelas saya tidak siap karena tidak menduga  mendapat tugas seperti itu. Apalagi dari sekian banyak yang hadir, semuanya sedaerah dan sesuku dengan beliau dan tentunya mereka lebih mengenal beliau dan keluarganya dari pada saya. Dalam sambutan singkat itu saya mengemukakan kebaikan, kesederhanaan, kesabaran, ketenangan dan kegemaran beliau termasuk mengkonsumsi vitamin “R” alias rokok. Sebulan kemudian beliau jatuh sakit dan bulan berikutnya di opname lebih dari sebulan. Beberapa bulan kemudian masuk rumah sakit lagi dan…lagi. Penyakit yang dideritanya kronis. Saya selalu berusaha ikut mengantarkannya setiap kali masuk ke rumah sakit. Pernah dokter sepertinnya sudah menyerah, tetapi rupanya rencana dan kuasa Tuhan berbeda dengan perhitungan manusia. Sampai sekarang beliau masih bertahan dengan disiplin dan semangat hidup yang memberikan hiburan buat keluarga, walaupun tetap konsultasi ke dokter dan sewaktu-waktu opname lagi. Beliau harus banyak beristirahat di tempat tidur, suatu pekerjaan yang tidak mudah dapat dilaksanakan. Sehabis bekerja keras dan jujur sekian puluh tahun, beliau menikmati masa pensiunnya di tempat tidur ditemani dengan derita akibat penyakit yang tidak pernah diduga sebelumnya.

*   *   *

Alih atau pindah tugas, bukan hal yang aneh dalam karier pegawai negeri, sebagaimana saya alami sendiri sejak menjadi pegawai negeri. Tapi alih tugas di Pusat Perbukuan memberikan kenangan sendiri. Setelah bertugas di Bagian Tata Usaha lebih dari satu dekade atau sekitar 12 tahun, saya dialih tugaskan ke Bidbangnas BPSB. Sekali lagi bagi saya hal itu wajar-wajar saja. Tetapi dalam peralihan tugas itu kebaikan teman sekerja di Bagian Tata Usaha sangat membekas. Semula saya berpikir alih tugas itu akan disertai dengan perubahan perlakuan dan perhatian mereka. Namun, dalam kenyataannya sangat berbeda. Mereka menyiapkan semua peralatan yang  mungkin saya perlukan ditugas baru itu. Keperluan sehari-hari masih mereka sediakan sebagaimana sebelumnya saya masih bertugas di Bagian Tata Usaha. Keperluan sekecil apapun, entah itu hal-hal yang berkaitan dengan administrasi kepegawaian, dengan cepat dan cekatan mereka bantu tanpa terlihat kekesalan di wajahnya. Kalau komputer atau printer mengalami gangguan, dalam waktu singkat sudah ada dari Bagian Tata Usaha yang membantu dan mengatasi masalah tanpa menunggu hari esok. Apabila berpapasan, sapaan yang tulus mengawali perbincangan yang akrab. Bahkan dalam tugas-tugas yang seharusnya saya sudah dilupakan, tetapi masih tetap dilibatkan. Waktu 12 tahun memang tidak singkat dan dalam kurun waktu itu saya mungkin telah menebar dan menyemai benih-benih kekesalan yang akan saya tuai dalam buah kebencian ketika meninggalkan tempat itu. Tetapi rupanya mereka begitu baik, sehingga tempat boleh saja berbeda, tetapi sikap dan perlakuan mereka tetap sama. Ingat kebaikan orang lain dan keburukan kamu, namun lupakan kebaikan kamu dan keburukan orang lain. Mungkin demikian prinsip yang mereka anut.

Sampai pada suatu hari dalam bulan Mei 2000, saya memerlukan surat keterangan dari Kepala Pusat Perbukuan dalam proses alih tugas ke perguruan tinggi. Lagi-lagi kebaikan atasan tercurah melebihi harapan saya. Beliau memberikan surat keterangan yang isinya memberikan keleluasaan mengajar di perguruan tinggi walaupun saya masih menjabat eselon dan status kepegawaian masih di Pusbuk. Sungguh luar biasa kebijaksanaan dan kemurahan hari yang demikian. Sungguhpun tafsiran dapat berbeda, tapi bagi saya hal tersebut merupakan suatu kebaikan yang tidak mungkin dapat saya balas.

Reorganisasi memang tidak dapat dibendung dan pada umumnya membawa konsekuensi. Akan tetapi saya memperoleh kesan, perubahan struktur Pusbuk yang ikut mengalih tugaskan saya enam bulan lalu (Oktober 2000), tidak mengubah perlakuan teman-teman kepada saya. Pada saat merasa akan dilupakan, saya masih tetap ikut diperhatikan. Benar-benar kebaikan hati yang mengharukan dan saya merasa seperti dimanjakan.

*   *    *

Saya benar-benar tidak dapat menolak ajakan guru besar untuk membantu mengajar di program S1, di salah satu perguruan tinggi negeri begitu saya menyelesaikan program S3 di penghujung tahun 1994. Bukan karena beliau mantan dosen saya tetapi karena mengingat himbauan Direktur Program Pasca Sarjana ketika menutup Sidang Ujian Terbuka. Antara lain beliau mengatakan agar saya bersedia bergabung dengan civitas akademika atau setidak-tidaknya membantu alma mater. Alasan kedua, guru besar itu mengajak karena beliau bermaksud menunaikan ibadah haji. Mungkin karena sudah terlalu sering dan lama menikmati kebaikan orang lain, pada waktu berikutnya saya tidak sanggup menolak setiap ajakan untuk terus mengajar tidak hanya di Program S1 tetapi juga di program S2 dan S3, tidak hanya di perguruan tinggi negeri tetapi juga di perguruan tinggi swasta. Namun, saya merasa semakin konyol, karena dalam mengelola  mata kuliah di perguruan tinggi, saya membantu tiga guru besar yang senior dan kawakan. Saya merasa tidak berarti dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa dibandingkan dengan kemampuan mereka. Namun beliau-beliau itu begitu sabar membimbing dan membina saya. Apalagi ketika menghadapi mahasiswa program S3 eksekutif yang di antaranya terdapat beberapa pejabat dan dosen senior yang pernah menjadi atasan saya dan besar kemungkinan mereka telah membaca lebih banyak buku ilmiah dari pada  diri saya. Saya sebenarnya masih dalam tahap belajar mengajar.

Membantu mengelola mata kuliah yang berkaitan dengan Ilmu Manajemen di Program Pasca Sarjana menyadarkan saya betapa tertinggalnya pengetahuan dan kemapuan  manajemen yang selama ini saya anut dan terapkan ketika bertugas di bidang administrasi. Betapa memalukan hasilnya sekiranya saya masih melakukan praktek manajemen dengan paradigma yang sudah obselete itu. Teori manajemen sudah banyak berubah, paradigma sudah bergeser serta premis dan postulat yang baru banyak muncul dan berkembang. Arogansi kekuasaan dan wewenang tidak akan laku lagi serta akan membuahkan kemandulan.

Ketika proses alih tugas ke perguruan tinggi mulai berjalan, saya semakin banyak terlibat dalam civitas akademika. Tawaran dan ajakan datang silih berganti. Keramahan dan keterbukaan teman-teman serta alam perguruan tinggi sendiri, membuat saya mulai menemukan dan membentuk jati diri sebagai warga civitas akademika, yang harus terus menerus membaca buku dan belajar dari orang lain. Namun birokrasi nampaknya memberi warna yang tidak jauh berbeda di semua organisasi. Untuk mendapatkan penetapan dan pengakuan jabatan akademis tidak dapat hanya mengandalkan kebaikan hati orang lain. Ia memerlukan proses yang cepat atau lambatnya bergantung pada banyak variabel. Sungguhpun banyak pihak di kalangan perguruan tinggi yang peduli atas konsekuensi birokrasi tersebut, namun kesabaran tetap diperlukan entah sampai kapan.

Dalam usia yang sudah melebihi separuh abad ini, betapa besar dan mulianya anugerah Tuhan dengan menciptakan begitu banyak manusia  yang begitu baik dan membekas di hati. Dengan berbagai cara mereka mencoba berbuat sesuatu yang bermakna untuk meningkatkan kualitas kehidupan saya. Sungguh menakjubkan dan mengharukan! Semoga Tuhan Allah membalasnya karena saya tidak akan mampu dan masih sangat jauh dari semua kebaikan itu!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s