Bag.11 – TELMI

TELMI

Oleh: B.P Sitepu

Prinsip, cara menjalani serta menikmati kehidupan ini berbeda untuk masing-masing orang. Mungkin ada kesamaan satu sama lain tetapi jarang (kalau tidak dapat dikatakan tidak pernah) identik sama biar untuk orang yang kembar sekalipun. Hal ini dapat dimaklumi karena kenyataan memang tidak pernah ada orang yang mengalami pengalaman yang persis sama dari detik ke detik dan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, mungkin suatu kekeliruan umum yang sering dilakukan di kala orang mengatakan dalam suatu pertemuan, “Mari kita persamakan persepsi”. Karena pada hakikatnya tidak akan pernah kita memiliki persamaan persepsi secara mutlak tentang suatu gejala, objek, atau peristiwa. Mungkin saja orang dapat memiliki pengertian yang sama tentang konsep “rumah”, tetapi nyaris tidak pernah terjadi gambar “rumah” yang ada di benak orang  adalah persis sama satu sama lain, karena pengalaman masing-masing orang tentang rumah itu berbeda. Contoh lain misalnya yang berkaitan dengan tempat bekerja. Persepsi setiap karyawan tentang  Pusat Perbukuan akan berbeda satu sama lain. Mungkin ada yang menganggap kantor itu tempat meniti karier atau tempat mencari nafkah, atau tempat mengabdi di dunia pendidikan atau “tempat ngerumpi” (dari pada di rumah tidak ada pekerjaan) atau barangkali juga ada yang tidak memiliki persepsi sama sekali. Yang terakhir ini mungkin tipe orang “masa bodoh” yang tidak perlu dilestarikan. Perbedaan yang demikian akan semakin tajam apabila objek yang dibicarakan itu abstrak yang menyangkut nilai nilai atau  value. Dengan berpikiran demikian maka wajar saja kalau ditemukan atau dialami perbedaan antar individu yang berkaitan dengan persepsi apalagi tentang prinsip hidup yang juga dipengaruhi oleh tujuan hidup.

Untuk apa  hidup di dunia ini? Akan menjadi apa di di kemudian hari? Apa yang sebenarnya dicari di dalam menjalankan kehidupannya? Pernahkah ia membayangkan apalagi merencanakan apa dan bagaimana text riwayat hidupnya dibacakan menjelang keberangkatannya ke liang lahat untuk menyatu menjadi tanah? Pertanyaan-pertanyaa demikian mungkin menarik untuk diteliti. Jarang terdengar atau dipublikasikan hasil-hasil penelitian sejenis itu. Mungkin belum pernah juga ada penelitian tentang prosentasi manusia yang benar-benar memiliki tujuan hidup. Tidak jarang terdengar ada ungkapan bahwa tujuan hidup seseorang itu adalah bahagia lahir dan bathin  di dunia dan akhirat. Akan tetapi tujuan yang demikian jelas terlalu abstrak dan sulit diukur sehingga perlu rincian lebih lanjut secara konkrit atau nyata. Pertanyaan-pertanyaan seperti dikemukakan tadi perlu dijawab oleh setiap orang. Jawaban pertanyaan tersebut akan melandasi minat, motivasi, serta semangat hidupnya. Sekali lagi, jawaban atas pertanyaan tadi tidak akan pernah identik sama antar sesama manusia, biar pun mereka suami istri dan hal demikian dianggap wajar.Memahami latar belakang demikian akan mempertebal toleransi terhadap perbedaan, perbedaan cara pandang, perbedaan pemahaman, serta perbedaan prilaku.

Salah satu perbedaan cara berpikir dan bekerja orang Jepang dan orang Amerika ialah orang Jepang sangat loyal terhadap organisasi tempat bekerja dan untuk kesetiaan itu dia membayarnya dengan bekerja keras dan menjadikan lingkungan pekerjaan itu sebagai dunia hidupnya. Orang Jepang  betah bekerja di organisasi yang sama semampunya. Ia menghayati dan mencintai serta  rela mati dalam pekerjaannya. Pejabat Jepang tidak ragu-ragu mengundurkan diri dari jabatannya apabila menganggap prilakunya mencemarkan nama baik organisasinya.  Sudah barang tentu prinsip hidup yang demikian tidak terlepas dari budaya Jepang yang berciri monarki dan mengutamakan loyalitas. Sulit bagi orang Jepang pindah pekerjaan walaupun ada tawaran yang lebih tinggi dan menyenangkan dari organisasi lain.Berbeda dengan orang Amerika yang menonjolkan rasionalitas dengan berpikir sistem dan sistemik  yang membuat dunianya lebih luas serta ingin menjelajahi unsur-unsur sistem sebanyak mungkin. Bagi orang Amerika bekerja lebih dari dua tahun di tempat yang sama dengan tugas dan fungsi yang tidak berbeda, membuatnya jenuh, tidak kreatif dan tidak dapat berkembang. Oleh karena itu tidak jarang terlihat orang Amerika berpindah-pindah pekerjaan dari satu organisasi ke organisasi lain serta dengan jenis pekerjaan yanng berbeda-beda. Prinsip dan cara berpikir yang demikian tentu dipengaruhi oleh budaya Amerika yang bersifat individualistik dan rasional. Bagaimana dengan bangsa lain? Jawabannya akan berbeda-beda pula, dan tidak mustahil ada yang jawabannya tidak jelas karena budaya yang dianutnya pun “tidak jelas”.

Sejak tahun 1998 banyak pegawai Pusat Perbukuan yang menyadari pentingnya peningkatan pendidikan. Secara adminsitratif peningkatan pendidikan dengan bukti ijazah dapat meningkatkan golongan kepangkatan, yang berarti juga dapat meningkatkan gaji secara resmi, serta memungkinkan menerobos batas kepangkatan akibat latar belakang pendidikan. Secara kehidupan sosial, dengan mengantongi ijazah lebih tinggi, gengsi sedikit bertambah walaupun tugas dan fungsi di tempat bekerja tidak berubah. Paling tidak gelar itu dapat dipakai sebagai pelengkap nama pada batu nisan di kemudian hari.  Secara karier ada secercah harapan, ijazah itu merupakan “jembatan” dalam meniti karier. Mungkin juga ada yang tidak begitu peduli dengan tujuan administratif, sosial, atau pengembangan karier yang dapat dicapai melalui pendidikan berijazah itu. Yang dia cari ialah ilmu untuk meningkatkan kemampuan dirinya tidak peduli di mana saja ia bekerja. Perbedaan motif yang melatarbelakangi keinginan belajar melaui jalur pendidikan berijazah itu akan mempengaruhi minat, motivasi, semangat serta prilakunya ketika menempuh pendidikan.

Sungguh menggembirakan bahwa di Pusat Perbukuan terdapat upaya lembaga dan upaya pribadi untuk memungkinkan seorang karyawan menempuh pendidikan berijazah atau bergelar. Cukup banyak karyawan yang semula berijazah SD atau SLTP yang sudah menyelesaikan pendidikan setingkat SLTA atau bahkan banyak yang semula berijazah SLTA kini sudah menyandang gelar S1. Walaupun barangkali belum semua (khususnya yang bergelar S1) telah menikmati makna ijazah itu, peningkatan pendidikan itu diharapkan dapat meningkatkan kinerja individu dan pada gilirannya kinerja Pusat Perbukuan. Kalau dalam kenyataannya tidak demikian, berarti ada kemungkinan “kekeliruan” dalam pendidikan atau dalam sistem organisasi atau dalam kedua-duanya.

Bagaimana dengan karyawan yang menempuh pendidikan program pasca sarjana? Mungkin sedikit memprihatinkan kalau kata “mengecewakan” dianggap terlalu keras. Mulai tahun 1996 semangat menggebu-gebu melanda sejumlah karyawan untuk menempuh pendidikan program pasca sarjana baik dengan biaya sendiri apalagi kalau dapat bea siswa. Patut dikagumi jumlah karyawan Pusbuk yang menjadi mahasiswa pasca sarjana! Hampir mencapai 30 orang. Selama proses perkuliahan mereka termasuk mahasiswa yang “loyal” dilihat dari kehadiran. Mungkin karena suasana baru ( dari kanor ke kampus), mungkin karena teman baru, mungkin karena materi kuliah menarik, entah karena berbagai kemungkinan lain, kesetiaan mereka mengikuti kuliah dan membayar uang kuliah patut dipuji. Akan tetapi apakah Pusat Perbukuan sudah menuai panen sumber daya manusia yang berkualitas dalam tujuh tahun terakhir ini sebagai hasil jerih payah mengikuti program pasca sarjana di berbagai perguruan tinggi? Tidak sampai 30 % dari peserta program pasca sarjana itu yang sudah diwisuda. Aduhai ….. kemana mahasiswa karyawan Pusbuk itu sekarang? Mengapa sesudah selesai kuliah tatap muka dan mulai menghadapi penelitian mereka ‘kabur’? Apakah mereka hanya kangen kepada dosennya saja sehingga kerajinan itu hanya menonjol ketika kuliah tatap muka? Apakah mereka sibuk mencari wang di era yang serba susah ini? Apakah mereka sedang berjuang keras mempertahankan eksistensi Pusbuk yang tugas dan fungsinya mulai “meramping” tapi tidak langsing? Apakah karena kenyataan yang mereka saksikan ijazah pasca sarjana bukan merupakan jaminan pengembangan karier? Sejauh mana pertanggungjawaban mereka atas beasiswa yang pernah mereka nikmati itu?

Mahasiswa Pusbuk yang selama kuliah menjadi “idola” kampus pudar menjadi “siluman” dan. terdapat kecenderungan mereka yang belum menyelesaikan kuliahnya itu menjadi calon potensial untuk drop out. Sayang … sungguh disayangkan! Namun, tidak ada yang dapat dijadikan kambing hitam, tidak ada yang dapat dipersalahkan. Kembali berpulang kepada diri masing-masing. Tujuan hidup yang tidak jelas akan membuat kesuraman dan kegelapan tujuan kuliah. Untuk apa mengikuti program pasca sarjana? Meningkatkan mutu diri? Mode? Ikut-ikutan? Gengsi? Pengembangan karier? Bodo … ah! Tidak jelas! Kalau yang terakhir ini jawabannya, telmi ( telat mikir) membelenggu dirinya. Kalau sampai usia 40 tahun seseorang itu masih belum dapat melepaskan dirinya dari belenggu telmi, dia ketingggalan kereta api kehidupan karena “Life begins at fourty.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s