Bag. 12 – TIDAK PERCAYA, COBA SAJA!

TIDAK PERCAYA, COBA SAJA!

Oleh: B.P Sitepu

Terlepas dari mutu isi atau penampilan wajahnya, walaupun nasibnya tidak jarang berakhir di keranjang sampah, entahpun terbitnya tidak selalu teratur apalagi tepat waktu, juga jelas tidak sepopuler komik Crayon Shinchan, sungguhpun kadang-kadang menjadi bahan cemoohan,.. ternyata Buletin Intern Pusat Perbukuan atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Buku ini, masih tetap nongol dan masih punya harapan hidup walaupun mungkin tidak seprti terbitnya mentari di pagi hari. Proficiat untuk pengelola khususnya untuk penulis-penulisnya. Lahir dalam bentuk yang paling sederhana, terkesan seperti selebaran biasa dan berusaha mengembangkan diri ala kadarnya serta mencoba menerapkan prinsip-prinsip penerbitan dalam suasana keprihatinan. Itulah proses kehidupan Bulin ini. Tetapi, Alhamdulillah dapat menambah usianya dari waktu ke waktu sampai melebihi usia tiga tahun.

Di samping ketangguhan pengelola, ketersediaan naskah merupakan urat nadi kehidupan suatu penerbitan. Tidak terbitnya atau tersendat sendatnya penerbitan media cetak sering disebabkan tidak tersedianya naskah dalam jumlah atau mutu yang diharapkan. Kenyataan ini dialami juga dalam menerbitkan naskah buku pelajaran. Keterlambatan penyelesaian penulisan dan penyuntingan naskah merupakan kendala yang sampai saat ini sulit dapat diatasi secara tuntas. Harapan bahwa dengan penanganan penerbitan buku pelajaran dilakukan oleh sebuah lembaga tersendiri, sehingga dapat lebih profesional, nampaknya belum dapat dicapai. Berbagai pengalaman yang muncul selalu sampai pada dan mendukung kesimpulan sebelumnya bahwa tidak dapat berbuat banyak kalau naskah tidak tersedia. Perancang, penata letak atau perwajahan, percetakan serta penyalur buku akan tidak hanya bingung tetapi bengong kalau naskah tidak ada. Namun nasib penulis terkesan masih terabaikan.

Untuk mempersiapkan penulis-penulis artikel yang dapat diandalkan, Pusat Perbukuan telah melatih belasan pegawainya. Hasil pelatihan itu telah mendorong penerbitan Bulin ini yang semula diharapkan sebagai wadah sementara bagi calon-calon penulis andal sebelum mereka “go public” di media lain yang lebih “wah”. Akan tetapi, kenyataan yang kita hadapi nampaknya tidak saeindah warna aslinya. Sungguhpun Bulin dapat bertahan hidup, tulisan-tulisan yang dimuat nampaknya masih menampilkan wajah yang itu-itu juga. Isi tulisan pun nampaknya berputar pada pusaran dengan arus yang tidak jauh berbeda. Dari belasan calon penulis yang  sudah dilatih ternyata hanya 5 atau 6 orang saja yang mengejawantahkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan itu. Apakah yang lainnya telah go public ke media lain? Atau apakah sesudah mengalami pelatihan itu mereka semakin yakin bahwa tulis menulis bukan dunianya? Atau apakah isi dan proses pelatihan itu tidak mencapai tujuan?

Dalam obrolan santai diperoleh berbagai jawaban dan tanggapan mengapa motivasi menulis di Bulin kurang kuat yang diantaranya (a)Tidak tahu apa yang akan ditulis (b)Buat apa menulis di Buli, toch tidak banyak yang membaca (c)Menulis di Bulin hanya untuk orang-orang yang kurang kerjaan (d)Tulisan di Bulin tidak berbobot dan (e)Menulis di Bulin?Nggak usyah ya! Semakin peka kita terhadap ocehan itu, semakin banyak alasan atau anggapan yang diperoleh. Tentu sah-sah saja! Apa lagi dewasa ini aroma demokrasi semakin merebak ke mana-mana, sehingga orang dapat mengeluarkan lebih banyak pendapat dan komentar, sungguhpun di lain segi belum terlihat banyak perubahan yang berarti.

Terlepas dari berbagai alasan dan komentar yang dikemukakan, ada sebaiknya juga kalau kita mengingat kembali berbagai sumber bacaan yang menunjukan manfaat lain  yang diperoleh dari menulis. Banyak pendapat mengatakan bahwa menulis (a) melatih berpikir teratur atau runtut (sistematis), (b) mendorong kreativitas dalam melahirkan gagasan/pikiran baru, (c) mempertajam penalaran, (d) mengaktifkan dan memperkuat daya ingat, (e) merupakan interaksi dengan diri sendiri sehingga terjadi proses belajar reflektif, (f) mendorong minat dan kegemaran membaca, dan (g) memberikan nilai tambah dalam berbagai bentuk seperti popularitas dan penghasilan. Manfaat yang disebutkan itu baru terbatas pada kepentingan diri si penulis dan itu pun belum lengkap. Masing-masing orang yang punya pengalaman sendiri sehingga kalau didaftar, maka manfaatnya akan banyak sekali. Akan tetapi mengapa tidak banyak orang menulis? Jawaban pertanyaan ini berpulang kembali kepada kita semua yang memang belum tergolong sebagai penulis profesional.

Komentar tentang isi tulisan di Bulin nampaknya juga bervariasi antara lain (a) Syok ilmiah. (b)Berlagak suci. (c)Picisan. (d) Asal menulis. (e)Penuh ajaran alias menggurui. dan (g)Ah.. itu-itu lagi! Mungkin banyak lagi yang tidak terdeteksi. Biasanya menilai dan memberikan komentar lebih mudah dari pada membuat sendiri. Hal itu adalah lumrah dan biasa-biasa saja. Namun komentar itu dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi pengelola dan penulis Bulin serta merupakan penuntun  yang mengantar kita kembali pada rambu-rambu yang dipasang oleh orang-orang yang termasuk berhasil menulis. Secara samar-samar rambu-rambu itu memberikan arah sebagai berikut.

Menulis untuk kepentingan sendiri, seperti menulis catatan/buku harian tentu saja berbeda dengan menulis untuk dibaca orang lain. Salah satu gejala/indikator keberhasilan tulisan (bukan untuk diri sendiri) ialah dibaca orang lain. Agar dibaca orang lain, wajar saja kalau kepentingan orang lain itu yang dijadikan focus. Bukankah pernyataan itu merupakan logika yang sangat sederhana tetapi kebenarannya tidak diragukan? Pernyataan itu mengingatkan juga, apa yang menarik atau berguna bagi seseorang belum tentu berguna atau menarik bagi orang lain, bukan? Oleh karena orang lain yang akan membaca itu bersifat umum maka wajar saja kalau norma yang dipakai adalah norma umum. Kalau tulisan itu dimaksudkan untuk kalangan khusus maka normanya pun disesuaikan dengan kekhususan kalangan tersebut.

Sebagai salah satu contoh, seseorang mungkin masih gregetan dengan masalah korupsi karena nampaknya gejalanya bukan semakin berkurang tetapi merajalela. Lalu, ia menulis tentang korupsi yang terjadi di sekitarnya. Ketika tulisan itu dipublikasikan ternyata tidak banyak orang membacanya apa lagi mengomentarinya. Mengapa? Ternyata korupsi bukan maalah luar biasa lagi di Indonesia dan sudah umum diketahui. Bahkan hasil survei menunjukan Indonesia termasuk negara yang paling banyak korupsinya di dunia. (Jakarta Post, 26 Feb. 2001). Oleh karena itu dewasa ini informasi tentang pembongkaran kegiatan korupsi itu tidak menarik, terkesan tidak bermanfaat serta dianggap kuno. Belakangan ini, informasi tentang tersangka korupsi dibawa ke pengadilan menarik perhatian. Akan tetapi lama-lama informasi itu juga menjadi jenuh karena ternyata keputusan pengadilan serta tindak lanjutnya “begitu-begitu saja”. Mungkin kalau ada koruptor yang dihukum mati dan dieksekusi di depan umum, baru menjadi informasi yang menarik tentang korupsi.

Merasa sudah pintar sehingga begitu melihat judul yang nuansanya memberikan pelajaran atau pengetahuan baru, tidak sedikit pembaca serta merta mengalihkan perhatian pada hal lain. Bahkan ada juga yang hidupnya sudah sesak dijejali petuah, nasihat, ajaran dan indoktrinasi sehingga tidak tertarik lagi “ajaran baru”, sungguhpun ia pernah mendengar ungkapan belajar seumur hidup. Merasa sudah jenuh dan lebih memikirkan apa yang dapat dimakan hari ini dan hari esok, kelompok ini lebih tertarik dengan tulisan ringan yang dapat mengundang senyum tawa atau dan bukan membuat jidat berkerut karena berpikir. Apalagi informasi yang disampaikan dalam tulisan itu dianggap bersifat utopis karena dalam kehidupan sehari hari adalah sebaliknya. Sungguhpun dia menyadari bahwa yang ideal itu merupakan awal proses pembaharuan. Akan tetapi karena kemunafikan yang status quo terus menerus menggejala, gagasan-gagasan yang inovatif tidak jarang ditanggapi dengan cibiran.

Dalam kondisi yang dihantui dengan ketidakpastian ini, nampaknya banyak orang yang mendambakan sesuatu yang dapat mengendorkan ketegangan atau menghindarkan kesukaran. Keinginan seperti itu juga terjadi pada pemilihan bahan bacaan. Kalimat-kalimat panjang dan berbelit-belit, ingkapan-ungkapan dan kata-kata yang sulit dimengerti nampaknya mengurangi nafsu dan selera membaca. Penuturan informasi dalam susunan bahasa yang menyimpang dari kaidah-kaidah yang baku menjadi rintangan yang tidak dapat dianggap sepele.

Nampaknya Arswendo (budayawan), tidak dapat sepenuhnya dibenarkan ketika ia menyampaikan gagasannya, bagaimana cara menulis itu secara gampang. Oleh karena ternyata mengerjakannya tidak semudah mengatakannya. Namun banyak juga orang yang berkeyakinan bahwa penulis besar dan termasyur itu bukan dilahirkan tetapi dilatih. Kalah bisa karena biasa, artinya kemampuan baca tulis tidak hanya berakhir sebagai melek huruf tetapi juga dapat menjadi mahir menulis. Kalau orang lain bisa, kenapa anda tidak? Ah …semudah itukah? Coba saja, kalau tidak percaya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s