Bag.2 – BULETINKU SAYANG, BULETINKU …

BULETINKU SAYANG, BULETINKU …

oleh : B.P Sitepu

Namun, usia lima tahun bagi sebuah terbitan buletin memiliki makna sendiri.

Diawali dari lembaran lepas yang dilipat sederhana dan dirintis oleh orang-orang sederhana bermodalkan sedikit pelatihan tetapi dipacu oleh semangat, ketekunan dan kesabaran yang tangguh. Lahir dalam keprihatinan, tanpa upacara peluncuran (launching), serta dibesarkan dalam kepasrahan rutinitas, sampai akhirnya dapat meraih usia lima tahun. Bulan demi bulan setia mengunjungi pembacanya. Entah pun tidak jarang nasibnya berakhir dengan pelecehan di keranjang sampah. Namun, usia lima tahun bagi sebuah terbitan buletin memiliki makna sendiri. Walaupun demikian, dapat dipastikan ulang tahun kelahirannya itu tidak akan bergema jauh, paling dalam hati sanubari pengelolanya yang tetap setia. Tidak ada lilin, apalagi kue ulang tahun, dan jauh dari nasi tumpeng. Ulang tahunnya diperingati dalam penampilan edisi khusus dengan jumlah halaman yang lebih banyak dari biasanya, tapi jelas penggandaannya masih mengandalkan fotocopi tanpa pencetakan melalui proses tender dan tentunya tanpa noda KKN. Itulah Buku, Buletin Intern Pusat Perbukuan!

Di samping memadahkan puji dan syukur, ulang tahun biasanya juga dijadikan kesempatan untuk berkontemplasi secara khusuk dan mengadakan introspeksi secara jujur. Apakah Buletin Intern Pusat Perbukuan ini sudah dapat melaksanakan fungsinya dengan baik? Sejauh mana mutu isi dan fisik Buletin ini bermanfaat sebagai media “dari kita untuk kita?” Apakah penerbitan Buletin ini sudah dapat bergeser dari kebijaksanaan menjadi kebijakan Pusat Perbukuan? Menjawab tiga pertanyaan itu tidak sesederhana penampilan Buletin ini sendiri. Kita perlu menelusuri dan mengamatinya dari berbagai aspek yang terkait.

Buletin atau bulletine biasanya diartikan sebagai publikasi yang diterbitkan secara berkala pada jangka waktu tertentu oleh lembaga Pemerintah, badan sosial, organisasi profesi maupun lembaga pendidikan yang diberi nomor secara urut. Karakteristik buletin antara lain ialah.

v  Terbit secara berkala dengan sasaran pembaca tertentu.

v  Dalam satu terbitan memuat beberapa artikel yang ditulis beberapa orang.

v  Artikel yang ditulis biasanya singkat tetapi padat.

v  Isi artikel berupa berita, peristiwa, atau opini yang dianggap menarik untuk pembacanya.

v  Dikelola oleh sekelompok orang yang disebut dewan redaksi.

Kelima karakteristik yang disebutkan di atas dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengadakan instrospeksi diri. Dilihat dari penerbitannya, Buletin yang direncanakan terbit setiap bulan ini, telah dapat memenuhi persyaratan terbitan berkala. Walaupun jadwal terbitnya tidak tetap pada tanggal tertentu setiap bulan, Buletin ini dapat terbit setiap bulan. Oleh karena hambatan teknis memang pernah dua nomor digabung dalam satu terbitan. Pengalaman yang demikian bukan aneh dalam dunia terbitan berkala. Selain sebagai media komunikasi horizontal dan vertikal antar pegawai, Buletin ini diharapkan dapat berfungsi sebagai ajang kreativitas karyawan. Dilihat dari frekuensi terbitannya, fungsi pertama itu kelihatannya telah dapat dicapai dengan baik, walaupun masih perlu diamati lebih jauh seberapa banyak pegawai Pusat Perbukuan telah memanfaatkan Buletin ini sebagai sumber informasi. Sedangkan fungsi kedua, nampaknya belum tercapai secara maksimal. Dibandingkan dengan terbitan perdana, terlihat banyak perubahan secara tata letak, perwajahan dan isi sebagai hasil kreativitas pengelolanya. Akan tetapi, sulit dapat dikatakan bahwa telah mampu memotivasi dan mewadahi  kreativitas semua pegawai/karyawan Pusat Perbukuan. Dengan demikian fungsi Buletin ini sebagai ajang kreativitas karyawan (sebagaimana tertera pada halaman sampul depan) belum berjalan sepenuhnya. Para perancang, penata wajah, ilustrator, penulis serta editor di Pusat Perbukuan diharapkan melakukan awal inovasi sebagai pengembangan kreativitas di masing-masing keahlian yang sudah barang tentu tidak akan mengakibatkan resiko tinggi.

Pada tahun pertama terbitannya, isi Buletin ini benar-benar mengutamakan informasi intern yang perlu diketahui oleh pegawai Pusat Perbukuan, mulai dari kegiatan-kegiatan masing-masing Bidang dan Bagian serta informasi tentang kebijakan-kebijakan baru  yang berkaitan dengan  tugas dan fungsi Pusat Perbukuan. Bukan hal aneh apabila dalam tataan ruang kerja yang tersekat-sekat oleh lantai dan dinding sering juga menyekat dan menghambat arus informasi sehingga banyak pegawai yang mengetahui benar kegiatan di unit kerjanya sendiri akan tetapi tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh unit kerja yang lain di Pusat Perbukuan. Akan tetapi hasil pelatihan pengelolaan terbitan berkala yang diselenggarakan pada tahun kedua buletin ini, telah mendorong kreatifitas pengelolanya untuk menampilkan Buletin tidak hanya sekedar media informasi tentang kegiatan Pusat Perbukuan, tetapi juga sebagai wadah untuk belajar menulis. Sejumlah peserta pelatihan penulisan artikel di Kopo, mengasah penanya dan menulis berbagai rupa tulisan dalam bentuk opini, pengalaman pribadi atau cerpen. Dengan demikian isi Buletin menjadi lebih bervariasi dari berbagai nuansa dengan berbagai penulis dari kalangan Pusat Perbukuan. Bahkan dalam terbitan tahun terkahir ini, artikel-artikel telah menggeser porsi berita tentang Pusat Perbukuan. Bahkan, informasi tentang Pusat Perbukuan telah tersudut dalam pojok di halaman terakhir. Contoh khusus ialah terbitan No.9 September 2002. Isi Buletin dikategorikan ke dalam rubrik Laporan Khusus, Opini, dan Serba Serbi. Bila dilihat secara keseluruhan, isi Buletin itu didominasi rubrik Opini. Sangat menyedihkan bahwa informasi tentang kegiatan Pusat Perbukuan hanya dihargai sebagai Serba Serbi dan tergolong kelompok minoritas yang terpojok. Pergeseran komposisi informasi ini tentu tidak bermakna bahwa Pusat Perbukuan kurang memiliki kegiatan. Mengingat  fungsinya, seharusnya informasi tentang kegiatan Pusat Perbukuan dalam bentuk reportase, tetap memiliki porsi yang wajar dan seimbang dengan artikel-artikel lainnya. Akan tetapi sayangnya, media yang bermanfaat sebagai tempat berlatih menulis ini kurang dimanfaatkan oleh pegawai Pusat Perbukuan yang sebenarnya potensial untuk melakukan itu. Penulis-penulis artikel di Buletin ini kelihatannya berulang dari yang itu ke itu saja. Bahkan ada pula yang sudah jarang muncul tanpa alasan yang jelas. Memang dilihat dari imbalan jasanya tidak seberapa, mungkin juga tidak punya arti bagi orang tertentu. Akan tetapi kalau dicermati lebih lanjut, nampaknya imbalan jasa itu juga bukan alasan utama kurangnya penulis untuk Buletin ini. Ternyata di terbitan lain yang imbalan jasanya jauh lebih besar jarang sekali terlihat pegawai Pusat Perbukuan menerbitkan tulisannya. Apakah memang kebiasaan menulis belum berkembang di kalangan pegawai Pusat Perbukuan menerbitkan tulisannya. Apakah memang kebiasan menulis belum berkembang di kalangan pegawai Pusat Perbukuan khususnya mereka yang sudah bergelar sarjana?

Penerbitan Buletin ini juga dimaksudkan sebagai tempat berlatih mengelola penerbitan sehingga pengalaman yang diperoleh dapat dijadikan modal yang berarti untuk mengelola secara profesional penerbitan yang bersekala lebih luas. Pengalaman menulis naskah atau mengelola penerbitan di Buletin ini merupakan langkah awal untuk menulis naskah yang lebih berbobot, termasuk dalam membuat rancangan, tata letak serta ilustrasi setidak-tidaknya di Buletin Pusat Pebukuan (Ekstern). Diharapkan adanya kesinambungan pengembangan profesionalisme dalam menulis dan mengelola terbitan dari Buletin intern ke Buletin eksteren. Hendaknya pegawai Pusat Perbukuan dapat menjadi “big boss” di rumahnya sendiri dan tidak hanya berfungsi sebagai Panitia Penyelenggara dalam semua jenis kegiatan yang berkaitan dengan perbukuan. Bukankah Pusat Perbukuan memiliki sumberdaya manusia yang terandalkan dilihat dari pendidikan, pelatihan, dan pengalamannya? Kenapa kita tidak pernah belajar dari Bapak Parino yang tidak pernah mengikuti berbagai bentuk pelatihan tulis menulis artikel tapi berani dan cekatan menulis artikel di samping juga piawai dalam mengurusi konsumsi? Mengapa cendikiawan-cendikiawan Pusat Perbukuan bukan menjadi pembicara-pembicara utama, penanggap atau moderator dalam seminar, lokakarya, atau kegiatan-kegiatan sejenisnya, khususnya yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan sendiri? Kenapa merasa lebih nyaman menjadi Panitia Penyelenggara atau peserta bisu? Padahal dari segi mutu, pembicara dari luar belum tentu lebih berbobot. Kita terkadang terkesima dengan kata-kata pembicara dari luar pada hal sebenarnya tidak ada pendapat yang baru yang disampaikannya. Terkesan pegawai Pusat Perbukuan masih malu-malu, kurang pede dan seakan-akan merasa dirinya masih ABG. Kenapa tidak berteriak nyaring dengan argumentasi yang logis meyakinkan dalam setiap peluang yang memungkinkan? Kualitas yang demikian tidak akan muncul tiba-tiba seperti membalik  telapak tangan, tetapi memerlukan proses dan dimulai dari hal yang kecil, termasuk mulai dengan mengekspresikan diri melalui tulisan dalam bentuk yang paling sederhana dalam Buletin ini. Orang bijak mengatakan, keberhasilan diawali dari hal yang kecil dan orang yang menyepelekan hal yang kecil sulit dapat meraih keberhasilan dalam hal yang besar. Believe it or not

Berbeda dengan majalah, isi buletin biasanya singkat dan padat serta mudah dimengerti. Buletin ini nampaknya telah memperhatikan ciri ini. Artikel yang dimuat dalam Buletin pada hakekatnya tidak ada yang lebih dari dua halaman. Dengan demikian pembaca dapat menangkap isi artikel itu secara keseluruhan tanpa harus membaca ulang. Mutu  isi tulisan memang bukan diukur dari panjangnya, tetapi lebih pada bobot pesan yang dikandungnya. Terkadang menulis singkat dan padat merupakan kesulitan tersendiri dan peluang memperoleh keterampilan itu mungkin didapatkan melalui menulis di Buletin ini. Sementara itu penyuntingan yang dilakukan editor tidak begitu terasa sehingga gaya bahasa penulisnya masih terkesan kental. Beberapa pesan yang disampaikan juga terasa lugas dengan maksud memberikan masukan pada manajemen di Pusat Perbukuan. Beberapa sindiran yang dapat membuat kuping merah juga muncul dalam kolom “Mat Buki” dan “Sentil Pojok”. Apakah pesan itu sampai pada sasaran? Apakah dijadikan masukan dalam membuat perubahan dalam wujud yang paling sederhana sekalipun? Atau manajemen tutup mata dan tutup telinga? Dilihat dari salah satu tulisan berjudul “Buletin BUKU:antara Celoteh, Satire, dan Ironi” No.04/April2002, secara jujur patut diakui bahwa Buletin ini belum cukup berwibawa menjadi media ampuh untuk mengoreksi manajemen di Pusat Perbukuan. Dengan perkataan lain menulis di Buletin ini lebih bersifat curhat daripada berharap tanggapan tindak lanjut. Perlu segera dicatat bahwa Buletin ini memang tidak sebagai thermostat yang tanggap serta responsif terhadap segala aspirasi dan serta merta bereaksi, tetapi juga Buletin ini bukan juga berfungsi sebagai keranjang sampah informasi, tetapi menjadi keranjang yang sarat dengan gagasan/ide yang warna sari, lucu/jenaka, inovatif, dan menggemaskan bukan mengenaskan.

Believe it or not, kelangsungan hidup Buletin ini selama ini banyak bergantung pada kebijaksanaan Pimpinan Pusat Perbukuan. Kalau ditelusuri lebih jauh, penerbitan Buletin intern ini belumlah tertera secara eksplisit sebagai salah satu program dengan pembiayaan dari dana rutin Pusat Perbukuan. Keluwesan  penggunaan mata anggaran serta pertimbangan bijaksana dari Pimpinan Pusat Perbukuan memungkinkan kegiatan penerbitan Buletin ini dapat dibiayai secara halal. Oleh karena itu apabila terjadi pergantian Pimpinan Pusat Perbukuan, dapat saja penerbitan Buletin ini mengalami mati suri sebelum menemui ajalnya. Apalagi dengan adanya Buletin ekstern Pusat Perbukuan yang jauh lebih aduhai, dapat saja Buletin intern ini dianggap pemborosan dan picisan. Oleh karena itu sebelum musibah itu terjadi, akan sangat bijaksana apabila status penerbitan Buletin ini dijadikan kebijakan baku dalam bentuk program kerja sehingga eksistensinya lebih terjamin dan meyakinkan.

Untuk meningkatkan mutu isi Buletin ini terpikir sejumlah pemikiran berikut ini:

  1. Mencermati isi Buletin ini dalam terbitan tahun terakhir ini, nampaknya perlu digalakkan kegiatan reportase dalam arti terbatas. Kiat-kiat untuk menulis dan menyajikan kegiatan-kegiatan Pusat Perbukuan secara menarik perlu dipelajari dan dilatihkan kepada mereka yang berminat. Informasi yang bersifat rutin sebenarnya dapat diolah dari sudut (angle) tertentu sehingga terasa lain dari pada yang lain sehingga memiliki ciri khas sendiri serta menarik untuk dibaca. Bukankah sering kita sendiri terdorong membaca suatu berita yang sebenarnya kita telah tahu, hanya karena disajikan dalam gaya dan bentuk yang berbeda? Apabila penulisan yang bersifat reportase ini dapat ditingkatkan, maka kekurangan naskah tentang informasi mengenai kegiatan Pusat Perbukuan dapat diatasi.

  1. Di samping itu tidak kalah menariknya kalau disediakan halaman khusus yang berisi gambar-gambar (potret) kegiatan-kegiatan Pusat Perbukuan. Kehadiran potret-potret tersebut dapat mengurangi kegersangan isi Buletin ini. Potret-potret yang serius, formal dan protokoler hendaknya bukan menjadi prioritas, tetapi potret-potret lucu yang dibintangi pegawai Pusat Perbukuan menjadi andalan dan tentunya disertai caption yang mengundang senyum.

  1. Daftar judul-judul buku baru yang tersedia di Perpustakaan perlu terus dimuat dalam setiap terbitan. Mungkin ada baiknya juga buku-buku babon yang sudah tua tapi dapat dijadikan sumber resmi diperkenalkan kembali, dengan judul “karena tak kenal maka tak sayang”.

  1. Resensi buku yang pernah dimuat, perlu diteruskan sebagai salah satu rangsangan untuk membaca dan berpikir kritis.

  1. Untuk meningkatkan wibawa Buletin ini, sebaiknya kulit luarnya dicetak walaupun dalam perwajahan yang sederhana.

  1. f. Sebagai bahan informasi ada baiknya Buletin ini dikompilasi dan dijilid dengan hard cover unuk setiap tahun terbitan serta disimpan di Perpustakaan Pusat Perbukuan.

Sederetan usul dapat diformulasikan dan syah-syah saja, apalagi mengajukan usul memang tidak serumit melaksanakannya. Menindaklanjuti usul-usul yang dikemukakan di atas tidaklah mudah tetapi tetapi tidak berarti hanya basa basi dan mustahil untuk dilaksanakan. Di instansi lain Buletin sejenis ini sulit dapat bertahan tahunan, tapi Buletin ini dapat bertahan dan bahkan berkembang sampai lima tahun. Bukan main dan bukan main-main! Oleh karena itu cita-cita tulus seperti tergambar dalam saran di atas dapat saja terwujud mulai tahun anggaran 2003 yang akan datang. Believe  it or not

Dalam  struktur organisasi Pusat Perbukuan, Buletin ini dikelola oleh Subid Informasi yang secara tugas dan fungsinya sangat relevan dengan kegiatan penerbitan ini. Perhatian dan usaha dapat diberikan lebih terfocus sehingga Buletin ini dapat dijadikan jembatan informasi dan jembatan keterampilan menulis dan mengelola terbitan berkala sehingga semakin disayang tanpa harus menghadapi nasib yang malang di kemudian hari.

Selamat Berulang Tahun dalam Keprihatinan di Tengah Kegalauan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s