Bag.6 – KANDIDAT DOKTOR

KANDIDAT DOKTOR

Oleh : B.P Sitepu

Manusia belajar seumur hidup, mulai ia lahir sampai menghembuskan nafas terakhir. Atau istilah yang lebih keren ialah long life education. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi mengungkapkan, manusia belajar sejak dalam kandungan sampai ke liang  lahat. Belajar tidak hanya terbatas dalam arti formal saja atau dalam ruang kelas atau lingkungan sekolah atau dalam kaitannya dengan suatu kurikulum tertentu. Proses belajar dapat terjadi melalui pengalaman atau inisiatif sendiri dilandasi dengan prinsip-prinsip andragogi. Bukankah ada ungkapan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik? Orang yang tidak mau atau menghindari belajar dari pengalaman diri sendiri atau orang lain, mungkin akan tersandung kembali pada masalah yang sama dengan akhir yang tidak berbeda, yakni kegagalan. Orang-orang bijak berpesan, belajarlah dari kegagalan untuk meraih keberhasilan. Dalam kehidupan ini tidak ada orang yang terlalu tua untuk belajar dan belajar.

Dewasa ini gejala gemar belajar di kalangan orang berusia semakin kelihatan. Sejumlah perguruan tinggi menawarkan berbagai program Strata 2 (S2) dan kelihatannya tidak sepi dari peserta dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang beraneka rupa. Sedemikian berhasilnya proses pembelajaran di program S2 itu sehingga lulusan yang dihasilkan semakin banyak dalam waktu relatif  singkat pula. Kalau di luar negeri program S2 dapat diselesaikan dalam dua smester, kenapa di dalam negeri tidak? Banyak peserta program S2 itu berusia empat puluhan, tetapi semangat belajarnya tidak kalah dengan yang lebih muda. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau SDM dengan kualifikasi S2 semakin banyak dan pertambahannya sungguh menggembirakan dan dalam keadaan sekarang ini tidak terlalu relevan untuk membedakan antara lulusan dalam atau luar negeri. Yang utama ialah nilai tambah yang ditunjukkan dalam kinerja setelah menyandang gelar magister itu.

Kehausan akan belajar lebih lanjut mendalami dan menggeluti ilmu pengetahuan berkembang terus selaras dengan cepatnya perkembangan iptek. Untuk menjawab tuntutan itu berbagai perguruan tinggi membuka Program S3 dalam berbagai disiplin ilmu. Ternyata, peminatnya memang banyak dan bertambah setiap tahun. Kelas sore dan malam pun dibuka untuk menampung mereka yang sibuk di pagi dan siang  hari. Keinginan untuk mengembangkan ilmu melalui penelitian dapat dipenuhi dengan mempersiapkannya melalui program S3 di dalam negeri. Pantas dibanggakan dilihat dari jumlah dan usia pesertanya. Tidak sedikit di antaranya yang sudah berusia di atas lima puluh tahun dan ada pula yang sudah memasuki usia pensiun. Tetapi masih bergairah! Luar biasa!. Mengapa mereka berkeinginan belajar kembali di usia yang hampir senja itu? Bagaimana pengalaman mereka? Contoh berikut ini memberikan ilustrasi sebagai sebagian dari jawaban pertanyaan itu.

Ketika sedang sarapan pagi di “café” salah satu kampus, penulis didatangai oleh se seorang dengan beberapa buku referensi tebal di tangannya. Sebagai seorang teman lama, ia pun nyeloteh seenaknya yang intinya adalah pengalamannya akhir-akhir ini. Teman itu sedang menempuh kuliah di program S3 di salah satu perguruan tinggi ternama di ibu kota. Beberapa tahun yang lalu ia termasuk orang yang paling sibuk di tempatnya bekerja. Hampir setiap hari dia pulang sesudah magrib dan pekerjaannya seakan-akan tidak pernah habis dan tidak pernah selesai. Banyak yang mengakui kepintaran, kecermatan dan ketekunannya dalam bekerja keras. Tetapi menurut pengakuannya, dia gagal dalam menapaki karier karena tidak dapat mengikuti perkembangan situasi dan kurang bertoleransi dalam prinsip. Entah bagaimana, dan entah dari mana asal mulanya, suatu system mulai terbangun dan tertata dalam lingkungan kerjanya sehingga secara samar dan semakin kentara, orang mulai nampak berbeda dan dibedakan dengan suatu nilai atau norma yang tidak tertulis tapi diberlakukan secara keras dan konsisten. Oleh karena kegerahan ditengah iklim organisasi yang direkayasa untuk kepentingan kelompok tertentu, ia mulai limbung sepertinya kehilangan daya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, di dalam dan di luar lingkungan kerjanya. Orang-orang yang senasib dengan dia semakin banyak.

Berdasarkan pengamatannya, kemunafikan pun berkembang semakin merajalela. Apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang tertera di dalam hati serta amat berbeda bahkan sering bertentangan dengan apa diperbuat dan dilakukan. Tutuntan reformasi nampaknya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Bahkan prinsip mumpungisme melahirkan berbagai penyelewengan yang ujung-ujungnya bermuara pada kepentingan golongan, kelompok atau pribadi. Ia bingung dan hampir putus asa. Ia mencoba mempelajari situasi dengan daya nalar yang pernah ditempa ketika kuliah di luar negeri. Hasil membuka dan membaca kembali buku referensinya dulu, menyadarkan dia. Apa yang dialaminya sekarang ini bukan sesuatu yang baru. Ketidakadilan, keberpihakan, ketidakjujuran, atau kemunafikan sudah terjadi sejak jaman Socrates. Keadaan yang demikian tidak hanya merajalela di negera yang kurang berkembang tetapi juga terjadi di negara yang pesat berkembang dan tergolong adi kuasa. Negera yang tergolong kukuh memperjuangkan moral dengan landasan nilai-nilai agama pun tidak berhasil mengikis habis kebejatan-kebejatan itu. Keunggulan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menjamin keberhasilan memerangi kezaliman dan mewujudkan pemerintah dan masyarakat yang bermoral.

Dalam kesibukan kerja selama ini, ia hampir tidak pernah lagi diingatkan oleh wacana yang demikian. Akan tetapi ia pun tidak mau konyol dalam situasi yang demikian. Wacana pustaka dan wacana lingkungan, memberikan inspirasi dan dorongan untuk keluar dari sistem yang rumit bernuansa rekayasa yang tidak santun itu. Dengan penuh semangat ia bertekad kembali menekuni ilmu yang pernah diperolehnya. Ia melanjutkan studinya di program S3 yang hampir selesai. Dengan berkonsentrasi belajar kembali, ia lebih memahami prilaku individu, kelompok, masyarakat dan bangsa. Ia tidak sempat jadi mangsa depresi dan frustasi. Ia bergairah dalam menghadapi dan mengatasi masalah hidupnya. Ia pun nampak segar dengan penampilan yang jauh lebih muda dari usianya. Desertasinya yang mengungkapkan korelasi antara kuantitas dan kualitas pendidikan dengan kejujuran akan selesai dalam dua bulan lagi. Ia ingin segera meninggalkan perguruan tinggi. Kalau tidak, kantongnya akan jebol kehabisan biaya. Itulah pengakuan salah seorang kandidat doktor yang mengundang pesona tersendiri.

Cerita lain terungkap di sebuah mall. Penulis kaget ketika pundak penulis ditepuk oleh seseorang di eskalator. Semula penulis sempat berpikir, perbuatan itu adalah ulah usil penipu dengan ilmu hipnotis. Tapi rupanya, ia adalah ”sahabat” yang tahun lalu ikut belajar senja dan malam hari di salah satu kampus. Ajakan kandidat doktor itu, mampir di salah satu warung di dekat mall, tidak penulis tampik. Ia kelihatannya lebih gagah dan berpenampilan eksekutif. Di tengah-tengah menikmati minuman hot chocolate with milk, kami bertukar ceritra. Pengalamannya cukup menarik untuk disimak dan dipelajari.

Sesudah menyandang predikat kandidat doktor selama satu semester di program S3 di salah satu perguruan tinggi, semangatnya mulai lunglai melemah. Untuk meraih gelar doktor, ternyata tidak mudah dan menuntut perjuangan yang tidak ringan. Banyak buku yang harus dibedah, tidak sedikit makalah yang harus ditulis secara kritis dengan mendayagunakan daya nalar tinggi. Apalagi di samping kuliah ia masih harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Tapi sebenarnya, menurut pengakuannya, semua tantangan akademis dan keluarga itu masih dapat di atasinya. Pengalaman selama kuliah senja dan malam hari itu telah menguak cakrawala berpikirnya lebih luas dan lebih jauh. Ia mulai berpikir kembali tentang cost benefit, apalagi ia harus membiayai sendiri perkuliahannya. Untuk apa harus belajar lagi? Untuk apa gelar doktor? Pertanyaan itu mengusik dan mengganggu pikirannya.

Pertanyaan itu muncul karena di tempat ia bekerja, gelar dan ilmu pengetahuan bukanlah jaminan untuk dapat mengembangkan kreativitas apalagi karier. Ditambah pula, disiplin ilmu yang ditekuninya tidak  begitu relevan dengan tugas-tugas yang dilaksankannya sehari-hari. Lebih lanjut lagi, menurut penuturannya, atasannya tidak menghargai pikiran-pikiran yang kreatif dan inovatif dan menganggap hal-hal seperti itu merepotkan. Belum lagi sikap arogansi dan pilih kasih atasan yang menggunakan standard ganda yang kental. Fakta yang sama dapat memberikan julukan yang berbeda untuk orang yang disenangi dan orang yang tidak disenangi. DOT diartikan Daftar Nama yang Tercela untuk orang yang tidak disenangi, tetapi dapat bermakna Daftar Orang yang Terpuji untuk orang yang disenangi. DUK, yang lazimnya diartikan Daftar Urutan Kepangkatan, mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah, ditafsirkan sebagai Daftar Urutan Kedekatan dengan atasan. Fakta yang sama diberikan nilai yang berbeda. Orang yang dapat diajak berkolusi atau orang yang dapat memberikan setoran banyak dan rutin, itulah ciri orang yang amat disenangi. Ceritanya disertai dengan berbagai contoh yang menunjukan orang-orang yang seharusnya dihukum malah dipromosikan dan yang diharapkan dipromosikan malah dipinggirkan.

Pengalaman di tempat bekerja serta di tempat kuliah mengantarkannya ke satu keputusan, berhenti kuliah. Akan tetapi, ia pun tidak segera menyerah pasrah. Ia mengembangkan profesinya. Business , membantu usaha saudaranya sebagai Assistant Manager di salah satu perusahaan. Jabatan yang cukup bergengsi dengan jas dan dasi yang mantap. Tambahan profesi ini membuat ia jarang hadir di kantornya dulu. Sulit dapat diramalkan kapan ia berada di kantor, kecuali pada tanggal-tanggal muda ketika mengambil gaji sebagai konsekuensi suatu Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai. Atasannya juga nampaknya tidak begitu perduli dengan keberadaannya di kantor itu, selagi dia tidak menyebar surat kaleng atau menjadi provokator keresahan.

Ia mengakui ia senang dengan profesi barunya dan tidak pernah berpikir untuk kembali ke bangku kuliah. Ilmu dapat diperoleh di mana-mana dan lingkungan business ia menemukan lebih banyak tantangan dan harus belajar banyak hal yang baru. Pergaulan di tengah-tengah kaum selebriti memberikan kenyamanan sendiri karena terhindar dari berbagai stress dan depresi yang beberapa tahun belakangan ini mengancam di kantornya terdahulu. Berhenti jadi kandidat doktor tidak berarti berhenti belajar. Demikianlah prinsipnya.

Kandidat doktor yang lain mempunyai kisah yang berbeda pula. Decak kagum mengiringi kata-katanya. Bagaimana tidak? Ia seorang pejabat yang tergolong penting di kantornya. Ia juga dipercayai memimpin sebuah proyek yang menggunakan pinjaman luar negeri yang tergolong multi million dollar project. Dia pun tidak menyia-nyiakan salah satu program dalm proyek tersebut yaitu program peningkatan mutu SDM. Ia mendapat bea siswa untuk program S3 di dalam negeri dalam jangka waktu lima tahun. Oleh karena itu iapun mengakui ia tidak tergesa-gesa menyelesaikan program studinya yang berdasarkan kurikulum dapat diselesaikan dalam keadaan normal paling lama tiga tahun. Kandidat doktor yang satu ini benar-benar ingin memanfaatkan dan menikmati beasiswa yang lima tahun itu.

Kantornya wajar bangga memiliki SDM yang begitu berkualitas sehingga dapat melaksanakan berbagai tugas dalam waktu yang bersamaan. Pejabat struktural, Pimpro dan sekaligus kandidat doktor! Masih muda lagi, sungguh luar biasa. Menurut pengakuannya ia pun tidak pernah berhenti belajar dalam tiga posisi itu, termasuk mempelajari cara meraih dan mempertahankan ketiga kesempatan itu sekaligus. Dengan cara yang demikian kehidupan ekonomi dan kesejahteraan keluarganya pun tidak terusik dan perjalanan kariernya pun tidak terganggu. Bahkan kandidat doktor seangkatannya pun ikut merasakan kemurahan hatinya menjadi donatur memfotokopi bahan-bahan perkuliahan.

Bagaimana cara belajar dalam kehidupan ini.  Masing-masing orang memilih cara yang menurut dia paling baik dan berhasil. Cara yang sama tidak selalu membuahkan hasil yang sama untuk orang yang berbeda. Akan tetapi banyak orang sependapat bahwa setiap kesempatan atau pengalaman memberikan kemungkinan untuk belajar bagi setiap orang. Keberhasilan belajar itu akan terlihat pada perubahan tingkah laku yang diharapkan ke arah yang positif, sehingga semakin banyak orang belajar, semakin positif pula perilakunya. Dengan demikian ajakan “Ayo sekolah” perlu ditingkatkan menjadi “Ayo belajar” untuk semua umur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s