Bag.7 – KEBERSAMAAN

KEBERSAMAAN

Oleh: B.P Sitepu

Dua tahun belakangan ini, penulis dikagetkan oleh dering telephone di rumah. Kaget dan diakhiri rasa haru. Peristiwanya selalu menjelang hari raya Idhulfitri dan malam hari. “Bapak ditunggu di lembaga untuk mengambil hadiah”. Suara itu lembut dan ramah mengungkap rasa kekeluargaan yang akrab. Penulis kaget karena tidak menduga tertera pada daftar yang akan mendapat hadiah. Penulis telah mendapat hadiah sejenis di kantor tetapnya. Mengapa harus mendapat hadiah lagi dari lembaga lain yang juga milik pemerintah? Bukankah penulis hanya meluangkan waktu “sekedar mampir”sekali seminggu di lembaga itu? Apakah tidak lebih bermanfaat diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan? Tidakkah hal ini memberi kesan serakah?  Apakah penulis dikategorikan orang melarat? Berbagai pertanyaan muncul mengantar penulis ketika menemui wanita penelpon keesokan harinya.

Penjelasan dan sederet pertanyaan polos yang diajukan penulis, ditanggapi singkat oleh wanita setengah baya itu. “Pak, bingkisan dan sejumlah uang ini adalah dari pimpinan lembaga sebagai wujud kebersamaan kita semua,” katanya dengan senyum menawan. Jawaban yang tidak diduga sebelumnya. Setelah menandatangani daftar penerimaan uang dan bingkisan itu, penulis berkata: ”Biarlah uangnya buat ibu saja!” Kata kata singkat padat tapi simpatik terucap melalui bibir mungil itu: “Saya juga telah dapat. Itu untuk Bapak. Sekali lagi “kebersamaan”. Penulis merasa konyol dengan jawaban itu.

Tidak terlalu berat bingkisan itu. Tapi membawanya cukup merepotkan. Di pintu keluar, penulis berpapasan dengan seorang pesuruh. Penulis menawarkan bingkisan itu kepadanya. Eh…, jawabannya membuat penulis tersipu-sipu malu. ”Saya bisa bantu membawanya ke mobil Bapak. Bingkisan itu adalah jatah keluarga Bapak.” Ungkapnya dengan nada sopan. Karena malu mendengar jawaban itu, penulis menenteng sendiri bingkisan itu ke mobil.

Pengalaman pertama tahun itu membuat penulis kapok. Sikap penulis pada waktu itu menunjukan tidak menghargai rasa kebersamaan. Tahun ini teleponpun berdering dan…dia lagi. Nada lembut kembali mengingatkan untuk ambil hadiah di lembaga yang sama. Penulis tidak banyak cerewet lagi ketika berhadapan dengan petugas. Sok gengsi juga sirna dari sikap. Pokoknya mantap! Apalagi tahun ini bingkisan diganti dengan uang plus uang. Jumlahnya lumayan.

Kejadian di atas membuat penulis terenyuh mengalami kepedulian di dalam suatu organisasi. Penulis terpesona mengagumi sikap orang lain yang memberikan penghargaan atas keberadaan pribadi dan keluarga anggota organisasi. Tidak peduli apakah dia hanya sebagai tamu, petualang, gelandangan atau pelacur intelektual. Yang pasti ia bukan penumpang gelap. Pemberitahuan tentang hadiah itu sudah dipasang di papan pengumuman. Akan tetapi kepedulian terhadap sesama mendorong seseorang menelpon mereka yang mungkin lupa atau merasa “tidak berhak”. Cara itu ditempuh tidak berarti melecehkan dan seakan akan memberi kesan orang lain itu melarat sehingga perlu dibantu. Penghormatan kepada keluarga teman sejawat juga mendorong sesama untuk menerima haknya saja, walaupun mungkin dia membutuhkan lebih. Di hati setiap orang seakan-akan telah tumbuh rasa kebersamaan, senasib, dan sekeluarga yang hidup di atas landasan prinsip yang sama.

Pengalaman sederhana tapi penuh makna tersebut itu, telah memekarkan kembang-kembang cinta di hati penulis. Cinta, bangga, dan rindu terhadap lembaga itu. Perasaan yang demikian juga meluluhkan kekerasan hati, sehingga rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin. Walaupun perbuatan itu belum tentu bermakna besar. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah, siapa yang menyebarkan dan menumbuhkan rasa cinta kebersamaan yang demikian? Bagaimana ia memulai dan menyemainya? Mengapa semak-semak egoisme, iri hati dan dengki atau bibit-bibit permusuhan lainnya tidak bersaing muncul bersamaan ke permukaan? Apa rahasia dan resepnya? Apakah jawabannya ada pada rumput yang bergoyang-goyang? Atau tersimpan rapih dalam kabut perenungan?

Selamat hari raya Idulfitri 1418 H. mohon maaf lahir batin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s