Bag.8 – LAGI LAGI MEMBACA

LAGI LAGI MEMBACA

Oleh: B.P Sitepu

Sudah banyak tulisan yang mengingatkan pentingnya membaca, sudah tak terhitung banyaknya pakar, tokoh, orang tua atau siapa saja yang memperbincangkan makna membaca. Akan tetapi sampai penghujung abad ini tampaknya membaca itu belum menjadi kebiasaan apalagi membudaya diseluruh lapisan masyarakat. Sebagai seorang terdidik dan barang kali juga pendidik atau lebih bergengsi lagi sebagai seorang cerdik cendikiawan cobalah bertanya, berapa jam sehari waktu yang anda pergunakan untuk membaca atau berapa buku yang anda baca dalam seminggu, sebulan atau setahun? Apakah anda termasuk gemar membaca? Membaca memang tampaknya sesuatu yang mudah dilakukan tetapi sulit unutk membiasakannya.

Abad ke-21 atau abad milenium ketiga yang akan datang, ditandai antara lain oleh membanjirnya informasi secara cepat dan mendunia, akibat telah terbangunnya sistem komunikasi super highway. Oleh karena itu, abad yang akan datang disebut juga sebagai abad informatika dan komunikasi. Jaringan internet dan inovasi-inovasi teknologi  komuikasi berbasis komputer memungkinkan berbagai globalisasi sehingga dunia semakin terasa kecil. Teknologi digitalisasi, komunikasi tanpa kabel, Integrated Service Digital Network (ISDN), notepad computer, dan telephone interface merupakan contoh hasil kemajuan teknologi komunikasi yang memungkinkan mengirim dan menghimpun data dalam jumlah banyak dengan cepat. Era teknologi canggih dewasa ini berpotensi pula melipatgandakan sampai tingkat penyimpanan data dan informasi serta mengkomunikasikannya dalam waktu seketika. Perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi dalam dekade terakhir abad ke 20 ini dapat mengundang pertanyaan,   bagaimana peranan media cetak tradisional pada abad ke-21 yang akan datang. Apakah media cetak dalam bentuknya seperti sekarang masih akan bertahan dan berkembang sebagai media informasi untuk ilmu pengetahuan, teknologi dan seni atau hiburan? Bukankah media elektronik yang semakin canggih dan praktis dapat menggantikan fungsi media cetak secara lebih lengkap dan menarik? Pertanyaan itu dapat berkelanjutan, apakah kemampuan, minat dan kebiasaan membaca masih perlu dikembangkan apabila informasi telah dapat diperoleh dengan lebih cepat melalui media elektronik dan optik?

Di tengah-tengah hiruk pikuknya kemajuan teknologi elektronik dan optik, ternyata media cetak seperti buku masih merupakan media unggulan untuk memperoleh dan menyebarkan informasi untuk keperluan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ataupun untuk hiburan. Super highway of information dan teknologi komunikasi komputer interface tidak mampu memisahkan buku dari kehidupan manusia. Sudah sekian lama buku menjadi teman setia manusia. Buku dapat disentuh, dipegang, dirasakan bentuk dan penampilannya. Wajah dan halaman-halamannya menggugah rasa ingin tahu dan di dalamnya ditemukan alam dan suasana baru, cerita atau pengetahuan yang terukir dalam huruf, kata dan gambar yang mengalir di depan mata sebagai air jernih bening, sejuk, dan menyegarkan. Tidak jarang kandungan isi buku memuat buah pikiran yang menarik untuk ditelaah dan direnungkan serta dapat pula memberikan inspirasi atau merupakan embrio gagasan untuk suatu penemuan baru. Buku tidak hanya teman setia yang mudah dan praktis diajak kemana saja dan menuturkan  cerita dengan gaya tersendiri sebagai teman pengantar tidur yang nyenyak, tetapi bagi banyak orang  buku merupakan ‘pacar’dengan biaya rendah (low cost) tetapi memiliki nilai tinggi (high value) sehingga sulit atau bahkan tidak terpisahkan lagi. Ciri khas buku yang demikian yang tidak dimiliki oleh media elektronik.

Sampai penghujung abad ke-20 ini, buku masih menjadi sumber dan pusat untuk memperoleh informasi, hiburan, analisis dan pendidikan bagi jutaan manusia. Usaha penerbitan berkembang hampir di semua negara dan media cetak menyebar sampai pelosok-pelosok dunia. Di daerah yang belum terjangkau media elektronik, media cetak, khususnya buku, menjadi sumber utama dan terutama di samping guru dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Berdasarkan data UNESCO pada tahun 1991 terdapat 863.000 judul terbitan baru dan setidaknya 20.000 jurnal ilmiah di seluruh dunia. Ilmu pengetahuan senantiasa tumbuh berkembang semakin cepat dan perubahan terjadi terus menerus, masyarakat senantiasa mengalami transformasi dan para pakar mencatat dan membahas semua itu dalam buku. Dengan demikian, orang yang tidak membiasakan membaca dan terus membaca secara cepat akan ketinggalan informasi sehingga memiliki cakrawala berfikir yang semakin sempit dan fanatik. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Thomas Carlyle mengatakan bahwa perguruan tinggi yang sebenarnya untuk zaman sekarang adalah kumpulan buku. Fakta sejarah juga menunjukan sejumlah tokoh menjadi besar dari hasil membaca buku. Mahatma Gandhi misalnya, dapat mengembangkan dan mempraktikkan ajaran Ahisma setelah membaca secara intensif buku-buku karangan Tolstoj dan membaca biografi pengarang Rusia itu. Gandhi juga terkenal rajin membaca Kitab Bhagawat gita.

Di Indonesia sendiri terdapat tokoh-tokoh nasional yang dapat dijadikan model dan panutan gemar membaca. Kedua Proklamator Republik Indonesia menghabiskan banyak waktu mereka dengan mebaca dan belajar. Berbagai jenis buku menguat kokohkan semangat perjuangan mereka dan memberikan inspirasi baru menentang kolonialisme dan imperialisme. Di rumah bekas tahanan Bung Karno masih tersimpan sejumlah buku dalam  berbagai bahasa  dan dalam disiplin ilmu yang dibaca dan dipelajari Presiden Pertama RI itu ketika dia dibuang/ditahan. Melalui membaca, orang dapat memperoleh pengalaman baru menjelajahi batas ruang dan waktu. Segala peristiwa yang terjadi di tempat lain di masa lampau atau di masa sekarang atau kemungkinan kejadian di masa yang akan datang dapat diketahui dan dicermati melalui membaca. Untuk menjadi pembaca fungsional sehingga dapat memperoleh dengan cepat dan akurat dalam jumlah yang banyak serta menikmati informasi itu, diperlukan kemampuan, keterampilan dan kiat membaca. Kenikmatan atau manfaat yang diperoleh melalui membaca itu akan berkembang menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Kebiasaan individu yang menyatu menjadi kebiasaan kelompok merupakan perwujudan dari reading society yang merupakan ciri learning society yang diperlukan dalam knowledge society.

Masyarakat Indonesia pada hakikatnya telah mengenal membaca sejak lama, sungguhpun masih terbatas pada kalangan tertentu dan jumlahnya masih terbatas. Di kalangan tokoh-tokoh agama, membaca kitab suci merupakan keharusan dan pekerjaan rutin yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Kebiasaan itu diajarkan dan ditularkan kepada pengikut-pengikutinya. Di langgar-langgar anak-anak belajar mengaji, di lingkungan keraton para bangsawan membaca serat-serat berupa puisi dan ajaran hidup. Masyarakat di negara-negara yang sudah maju terlebih dahulu, seperti Eropa, Amerika, Inggris, Jepang dan Korea, memperlihatkan kegiatan membaca sebagai salah satu kebiasaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Berbeda halnya dengan masyarakat di negara-negara yang relatif baru berkembang, termasuk Indonesia yang masih dalam tahap menumbuhkan dan mengembangkan minat  dan kegemaran membaca. Book and Reading Development Study (1992) yang dilaporkan oleh Bank Dunia, menunjukan kebiasaan membaca belum terjadi pada siswa SD dan SLTP. Hasil studi ini juga menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pendapatan per kapita dengan prestasi membaca siswa di sekolah, studi itu juga mengungkapkan adanya korelasi antara mutu pendidikan secara keseluruhan dengan waktu yang tersedia untuk membaca dan ketersediaan bahan bacaan. Dengan demikian, belum dimilikinya kebiasaan membaca oleh siswa cenderung memberikan dampak negatif terhadap mutu pendidikan SD dan SLTP secara nasional. Pada tahun yang bersamaan hasil penelitian IEA mengungkapkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke 26 dari 27 negara yang diteliti. Rendahnya kemampuan membaca itu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal sekolah. Keluhan tentang rendahnya minat dan kemapuan membaca juga terdengar di kalangan pendidikan tinggi. Tidak tercapainya target kuantitas dan kualitas hasil belajar serta waktu penyelesaian kuliah di perguruan tinggi antara lain disebabkan oleh rendahnya kegiatan membaca mahasiswa.

Memang harus diakui bahwa minat, kegemaran dan kebiasaan membaca terlihat nyata di lingkungan dan lapisan masyarakat tertentu seperti seperti kalangan cendikiawan, tokoh-tokoh masyarakat atau mereka yang karena tugas dan kedudukannya dituntut untuk banyak membaca. Rupanya budaya membaca belum berpihak kepada semua kalangan masyarakat. Masyarakat umum tampaknya belum merasakan membaca sebagai suatu kebutuhan. Waktu senggang lebih banyak dimanfaatkan untuk menikmati siaran televisi, ngobrol atau melamun. Peranan keluarga dan masyarakat untuk menciptakan keluarga atau masyarakat membaca juga masih belum seperti yang diharapkan. Jumlah keluarga yang memiliki perpustakaan atau koleksi buku di rumah masih sangat terbatas. Masih sangat sedikit jumlah keluarga yang memiliki perpustakaan membimbing anaknya untuk gemar dan terbiasa membaca. Peran serta dan dukungan masyarakat terhadap pengembangan perpustakaan desa, perpustakaan masjid atau taman bacaan masih belum seperti yang dicita-citakan. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh masih kuatnya budaya lisan serta adanya lompatan dari budya lisan ke budaya pandang dengar (audio visual) tanpa melalui budaya baca yang mapan.

Dengan latar belakang seperti yang diuraikan di atas, tulisan ini mencoba membahas masalah pembinaan minat baca masyarakat sehingga dapat tumbuh dan berkembang menjadi kegemaran, kebiasaan, dan  pada gilirannya menjadi salah satu unsur kebudayaan masyarakat Indonesia.

Minat atau motivasi membaca terkait dengan kemampuan  membaca, kebutuhan, lingkungan, dan tersedianya bahan bacaan. Akan menjadi polemik yang berkepanjangan apabila dipertanyakan yang mana harus diutamakan, meningkatkan kemapuan dan minat membaca atau menyediakan bahan bacaan. Memasyarakatkan gemar membaca atau memasyarakatkan bahan bacaan/buku? Tampaknya sama halnya seperti mempertanyakan manakah yang lebih dahulu antara telur dan ayam. Barangkali jawabannya ialah behawa kedua-duanya perlu dilaksanakan secara bersamaan. Di samping meningkatkan minat membaca, diupayakan pula menyediakan bahan bacaan yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat.

Menyadari akan pentingnya menumbuhkembangkan minat baca menjadi suatu kegemaran dan kebiasaan membaca, selama ini terlihat berbagai upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Membicarakan pengembangan minat baca sulit dipisahkan dari masalah-masalah yang berkaitan dengan kemapuan, kebutuhan membaca, lingkungan dan bahan bacaan.

Kemampuan dan keterampilan membaca diberikan sedini mungkin ketika anak memasuki lembaga pendidikan formal serta dikembangkan melalui berbagai pendekatan dan metodelogi sehingga mereka terampil membaca. Untuk memahirkan keterampilan membaca serta untuk mendorong siswa terbiasa membaca, masing-masing lembaga pendidikan dilengkapi dengan perpustakaan sekolah dengan berbagai jenis koleksi. Bagi mereka yang belum memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan melalui jalur pendidikan sekolah, ditampung dalam kegiatan pendidikan di jalur luar sekolah dengan berbagai jenis program, seperti program paket A dan B untuk pendidikan dasar (SD dan SLTP). Program paket A juga terbuka untuk orang dewasa yang berumur di atas usia sekolah.

Pendidikan pada hakikatnya berlangsung secara terus-menerus sepanjang hidup manusia ( long life education). Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan menyebar dalam berbagai jenis informasi dalam arus yang dahsyat melanda kehidupan sehari-hari masyarakat. Sementara itu, abad ke-21 yang semakin dekat menuntut keahlian dan pengetahuan yang harus dimiliki orang produktif perlu dilandasi informasi (information based skills and knowledge) dan berakar pada nilai-nilai kebudayaan masing-masing. Situasi dan tuntutan itu memacu lembaga-lembaga pendidikan dan tokoh-tokoh masyarakat berupaya menanamkan dan menumbuhkan kebutuhan (demand) unutk memperoleh informasi. Juga untuk belajar secara terus menerus melalui membaca, sehingga dapat bertahan dan hidup serasi dalam terpaan gelombang informasi yang membawa perubahan zaman.

Minat membaca pada awalnya muncul atau tumbuh dari dalam diri. Minat membaca akan berkembang dengan baik apabila didukung oleh keadaan lingkungan yang kondusif dalam keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan. Berbagai himbauan telah disampaikan agar masing-masing keluarga memilki perpustakaan keluarga dan orang tua meluangkan waktu untuk membaca bersama serta membiasakan memberikan penghargaan atau hadiah dalam bentuk buku. Sementara itu masyarakat didorong untuk mewujudkan masyarakat membaca (reading society) dan mendayagunakan serta mengembangkan taman-taman dan klub-klub bacaan. Pengembangan sarana dan prasarana perpustakaan desa dan perpustakaan rumah-rumah ibadah merupakan langkah-langkah positif yang dilakukan dalam mewujudkan lingkungan yang mendorong tumbuh dan berkembangnya minat baca. Beberapa Pemerintah Daerah telah pula menerapkan jam wajin belajar mulai dari pukul 19.00 sampai 21.00. Dalam dua jam tersebut, diharapkan masyarakat, khususnya siswa dan mahasiswa menggunakan waktunya untuk membaca dan belajar serta televisi dimatikan. Di sejumlah sekolah telah pula dirintis  jam wajib baca selama setengah jam setiap hari atau lima sampai sepuluh menit sebelum setiap mata pelajaran dimulai. Kegiatan-kegiatan itu dilakukan adalah untuk menciptakan suatu lingkungan yang mendorong dilakukannya kegiatan membaca secara intensif dan efektif.

Pengembangan secara kuantitatif dan perpustakaan dan taman bacaan merupakan upaya nyata dalam melayani kebutuhan pembaca akan bahan bacaan. Pemerintah dan masyarakat memperkaya koleksi perpustakaan dan taman bacaan dengan berbagai jenis bacaan. Di samping itu produksi buku yang dilakukan penerbit tampak semakin maju. Penyaluran buku juga semakin menyebar melalui toko-toko buku, perpustakaan dan taman-taman bacaan. Krisis moneter yang berkepanjangan turut merisaukan dunia perbukuan di Indonesia sehingga menghambat pengembangan minat kegemaran membaca masyarakat. Dilihat dari perbandingan antara kebutuhan masyarakat Indonesia akan bahan bacaan dengan produksi buku dan media cetak lainnya, tidaklah sebanding. Dalam arti, bahan bacaan yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada kebutuhan secara kuantitatif dan kualitatif.

Hasil-hasil positif telah diperoleh melalui upaya penumbuhan dan pengembangan minat baca masyarakat selama ini. Namun, kita masih menghadapi berbagai kendala dan masalah. Kurangnya jumlah pengarang profesional dan kurangnya penghargaan terhadap pengarang, merupakan salah satu penyebab kurangnya naskah baru yang dapat diterbitkan. Hal itu terlihat dari organisasi penulis/pengerang dengan angota tidak lebih dari 200 orang dalam organisasi Ikatan Wanita Pengarang Indonesia, Perhimpunan Pengarang AKSARA, dan Ikatan Pengarang Indonesia. Dalam kurun lima tahun terakhir ini jumlah rata-rata naskah terbitan baru  di Indonesia hanya berkisar 6.000 judul (tidak termasuk terbitan Pemerintah). Malaysia yang sudah mencapai 8.000, Singapore 12.000, dan Jepang 60.000 judul baru.

Jumlah tiras buku dan bahan bacaan lainnya juga belum seimbang dengan kebutuhan masyarakat pembaca. Sebagai contoh rata-rata tiras buku yang yang diterbitkan berkisar 5.000 eksemplar untuk setiap judul. Berarti hanya berjumlah 30 juta setiap tahun dibandingkan dengan jumlah masyarakat pembaca fungsional berkisar 60% dari seluruh jumlah penduduk (rasio 1:5). Berarti masih rendah jika dibandingkan dengan di Malaysia yang mencapai rasio 1:3. Jumlah  tiras buku dan surat kabar itu berkaitan dengan kebutuhan (demand) pembaca. Kebutuhan pembaca dapat juga dijadikan indikator minat dan kegemaran membaca masyarakat. Harga buku dan bahan buku bacaan lainnya sepenuhnya dapat dijangkau oleh daya beli semua lapisan masyarakat. Berbagai faktor diangggap sebagai penyebab mahalnya harga buku seperti pajak ganda, biaya distribusi,

serta lambannya pemasaran buku. Ditambah lagi banyak informasi dan hiburan dapat diperoleh masyarakat secara lebih murah atau gratis melalui siaran televisi yang disajikan lebih menarik daripada membaca. Keadaan itu tentu menghambat perkembangan minat baca.

Pemerintah telah berusaha meningkatkan minat baca masyarakat. Sejak tahun 1973 pemerintah, setiap tahunnya membeli dan menyalurkan buku perpustakaan untuk semua jenjang dan jenis pendidikan. Jumlah terbesar adalah untuk SD dan MI. Perpustakaan desa dan perpustakaan rumah-rumah ibadah dikembangkan dengan menyediakan dan memperkaya koleksi dan sarana lainnya. Pemerintah juga menyediakan buku pelajaran pokok untuk hampir semua mata pelajaran di sekolah. Dengan kebijakan tersebut, diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan industri buku secara nasional di Indonesia. Masuk akal kalau dalam upaya meningkatkan minat baca itu, Pemerintah telah menghabiskan triliunan rupiah.

Seperti telah diutarakan sebelumnya, kegiatan membaca sudah lama dikenal di Indonesia walaupun masih di lingkungan atau kalangan tertentu saja. Akan tetapi, kegiatan itu telah berkembang pesat di seluruh lapisan masyarakat, berkat kemajuan yang diperoleh di bidang pendidikan jalur sekolah dan di luar  jalur sekolah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan Pemerintah untuk menumbuh-kembangkan minat baca sehingga menjadi kegemaran dan kebiasaan positif. Hasilnya dapat dilihat secara nyata sungguhpun masih belum dapat dijajarkan dengan masyarakat lain yang sudah terlebih dahulu maju. Program dan kegiatan orang tua, masyarakat, dan Pemerintah dalam memasyarakatkan kegemaran dan kebiasaan membaca selama ini perlu dikembangkan di masa datang melalui berbagai jalur.

* Jalur Pendidikan Keluarga

  1. Mendorong tumbuhnya budaya baca dalam keluarga melalui pemberian motivasi kepada orangtua dan anak melalui jalur PKK, penyuluhan lapangan, dan tokoh-tokoh informal.
  2. Memberikan rangsangan berupa anugerah atau bentuk lain kepada “keluarga membaca” dan dijadikan model yang dapat diteladani keluarga-keluarga lain.
  3. Mengembangkan budaya cinta buku pada keluarga dengan mengaitkan suatu peristiwa dengan buku. ( misalnya perkawinan, ulang tahun, dan prestasi)

* Jalur Masyarakat

  1. Meningkatkan jumlah dan mutu sumber daya manusia (SDM) yang berkaitan dengan penyediaan bahan bacaan dari penulis, penerjemah, ilustrator, perancang buku, pengelola percetakan, percetakan dan toko buku, sehingga yang bermutu dapat mudah diperoleh oleh masyarakat.
  2. Mendekatkan buku dan bahan bacaan lainnya kepada masyarakat secara lebih meluas. Dekat dalam arti keterjangkauan secara fisik, harga kemampuan intelektual serta alam pikirnya.
  3. Meningkatkan fungsi melalui jaringan distribusi buku sehingga menjangkau semua kelompok masyarakat melalui pengembangan toko buku, perpustakaan, dan taman bacaan masyarakat atau sarana distribusi buku lainnya.
  4. Meningkatkan kemapuan dan keterampilan membaca anggota masyarakat dengan menyelenggarakan berbagai lomba yang berkaitan dengan kegiatan membaca khususnya  pada peringatan peristiwa-peristiwa nasional atau regional dan lokal. Kegiatan ini difungsikan sampai unit masyarakat terkecil sampai keluarga.
  5. Meningkatkan hibah buku dari masyarakat untuk masyarakat.
  6. Membentuk atau mengembangkan kelompok-kelompok membaca dan menulis serta meningkatkan peranan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM).

* Jalur Pendidikan Sekolah.

1              Meningkatkan kuantitas dan kualitas perpustakaan di masing-masing lembaga pendidikan. Upaya ini termasuk peningkatan pelayanan petugas dan sarana perpustakaan kepada pengunjung.

2                    Mengembangkan secara intensif dan efektif jam wajib kunjung perpustakaan atau jam wajib membaca siswa dan mahasiswa.

3                    Meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca siswa dan mahasiswa sedini mungkin. Kemampuan dan keterampilan membaca eefektif siswa hendaknya dilakukan melalui pendekatan dan metode yang tepat, sejak siswa mulai mengikuti pendidikan. Untuk mahasiswa perlu diberikan teknik membaca cepat (rapid reading) dengan menyediakan “klinik membaca” yang dapat memberikan bimbingan dan latihan khusus kepada mahasiswa.

4                    Menyelenggarakan lomba yang berkaitan dengan membaca seperti membaca cepat, membuat sinopsis serta kritik buku, dan mengarang antarsekolah di tingkat daerah dan nasional.

* Jalur Pendidikan Luar Sekolah

1                          Mengembangkan Kejar Paket A yang dipadukan dengan pendidikan mata pencaharian.

2                    Meningkatkan fungsi Taman Bacaan Masyarakat dan melengkapinya dengan     bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitarnya.

Dengan membaca , seseorang memperoleh berbagai informasi berupa pengetahuan,  keterampilan, maupun pengalaman yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri, sikap dan wataknya. Membaca bukan hanya terarah pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif maupun psikomotorik.

Buku dan bahan bacaan lain memiliki peran yang strategis dalam pembangunan bangsa. Bukulah yang membantu orang memperoleh pengetahuan dengan segala perkembangannya. Tanpa buku yang memungkinkan tulisan dalam bentuk kuantitas yang besar disatukan dan disimpan, pengetahuan tidak akan mungkin berkembang. Dengan daya jangkau dan daya tahan yang lebih, buku berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta memberdayakan masyarakat menjadi manusia yang berkualitas. Peranan strategis dari buku tercantum dalam mukadimah Piagam UNESCO, 1971, yaitu

“Yakinlah bahwa buku tetap menjadi sarana pokok untuk menyimpan dan menyebarkan khasanah dunia ilmu pengetahuan. Percaya bahwa peranan buku dapat diperkuat dengan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk mendorong penggunaan kata-kata tercetak seluas luasnya” (Kompas 19 Oktober 1997).

Sekalipun buku berperan penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat , tetapi pengadaan buku dari segi kualitas dan kuantitasnya belum memadai. Mereka bagaikan wajah yang bergelimang rasa dibalik tangis yang tertahan sehingga dibutuhkan kemauan yang besar untuk menjadikannya bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembangunan yang sedang digalakkan sekarang ini. Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah dan fihak-fihak lain yang memiliki kepedulian terhadap minat baca, hendaknya tetap didukung dan dikembangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s