Bag.9 -MENGENASKAN

MENGENASKAN

Oleh: B.P Sitepu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) kata kerja mengenaskan berasal dari kata ngenas, mengenas. Sebagai kata dasar, kata itu bermakna bersusah hati, merana. Sedangkan mengenaskan berarti menimbulkan rasa sedih hati. Secara bebas kata itu dapat diartikan menyedihkan,  atau memprihatinkan. Akan tetapi tulisan ini tidaklah bermaksud untuk memicarakan asal usul dan  makna (etimologi)  kata itu secara berkepanjangan. Makna kata itu dijadikan pembuka tulisan ini supaya pembicaraan berikut itu dilandasi oleh suatu pemahaman yang sama atas makna kata itu. Uraian berikut ini membicarakan prihal yang mengenaskan itu dan yang dimaksud ternyata bukan pula individu atau kelompok tetapi berita yang dimuat Kompas, Selasa 9 Juli 2002 (hlm 20 dan 21). Oleh karena isinya begitu mengenaskan dan dapat membuat hati gundah maka terasa belum basi ditelan waktu.

Dengan judul Pusat Perbukuan, ibarat Si Macan Ompong  harian Kompas secara sopan menelanjangi Pusat Perbukuan. Dikatakan secara sopan karena tulisan itu tidak membedah Pusat Perbukuan habis-habisan untuk menyingkap anatominya secara rinci, lengkap, utuh, transparan, dan natural. Tulisan itu lebih banyak menyingkap keadaan sumber daya manusianya  tetapi singkapan itu sedemikian menggoda dan berhasil memancing serta membangkitkan gairah untuk mengetahui lebih jauh. Sumber data dan informasi yang mendasari tulisan itu adalah Kepala Pusat Perbukuan yang dalam kedudukan dan kapasitasnya memiliki wewenang memberikan data dan informasi yang akurat, tajam dan terpercaya dalam bidangnya. Dengan demikian  sudah barang tentu pesan yang ada di dalam berita itu meyakinkan  masyarakat pembaca akan kebenaran isi tulisan itu.

Pusat Perbukuan menjadi lembaga di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan Keputusan Presiden No 4 Tahun 1987 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 0274/0/1987. Akan tetapi sejak awal, lembaga itu memang lahir tidak sempurna, sungguhpun tidak cacad. Struktur organisasinya telah ada tetapi terdapat dua organ (Bidang Pengembangan Naskah BPSB dan Bidang Pengembangan Naskah MST) tidak jelas wujudnya. Pada hal kedua organ itu sangat menentukan bentuk serta masa depan Pusat Perbukuan secara keseluruhan. Nampaknya ketika keputusan tentang struktur organisasi itu diambil, diberikan kemungkinan untuk diatur lebih lanjut di kemudian hari apakah Pusat Perbukuan itu akan menjadi Penerbit profesional atau sebagai Penulis dan Penerbit. Oleh karena itu organ kedua Bidang itu dibiarkan dalam bentuk “sarang labah-labah” serta diberi kandungan “tenaga teknis” tanpa penjelasan lebih lanjut. Mereka yang telah membidani kelahiran Pusat Perbukuan merasa lega, bangga, dan juga terpesona atas keberhasilan jerih payah mereka melahirkan Pusat Perbukuan dari kandungan Proyek Buku Terpadu walaupun melalui operasi Caesar.

Akte kelahiran Pusat Perbukuan yang diumumkan melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Surat Edaran No 5/MPK 87, tgl 8 Mei 1987, menambah rasa suka cita dan membuat lupa bahwa Pusat Perbukan lahir tidak utuh dan organ-organnya masih lemah seperti bayi lahir prematur dan perlu segera dimasukkan ke dalam inkubator. Surat Edaran Menteri itu  memberi harapan Pusat Perbukuan akan menjadi raksasa tangguh dan lincah dengan wewenang menangani seluruh kegiatan perbukuan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan  ( yang sekarang menjadi Depdiknas). Disadari atau tidak kelahiran Pusat Perbukan  juga disambut dengan wajah cemberut oleh saudara-saudara sekandung dan kerabatnya, karena dianggap merupakan saingan yang dapat merugikan kepentingannya apalagi disertai keragu-raguan akan kemampuan dan keampuhan Pusat Perbukuan memenuhi harapan orang lain. Awal-awal sudah dapat diramalkan bahwa kalau Pusat Perbukuan tidak memiliki kemampuan yang berbeda, dapat diandalkan dan tidak dimiliki lembaga lain, dia akan menjadi bulan-bulanan cercaan dan bernasib seperti kerakap di atas batu.

Berbagai telaahan dilakukan kemudian, termasuk memperhatikan saran konsultan dari British Counsil (Mr. Brien dan Mr. Fisher)  untuk menentukan isi sarang labah-labah tersebut. Terdapat kecenderungan pemikiran bahwa Pusat Perbukuan diharapkan menjadi Penerbit fungsional dan  profesional tetapi bukan komersial. Pemikiran itu juga dipengaruhi oleh pengalaman di dalam dan di luar negeri bahwa belum ditemukan suatu lembaga/badan usaha yang dapat dijadikan contoh sebagai satu unit kerja yang berfungsi sebagai penulis, penerbit dan percetakan. Para penulis buku pelajaran biasanya merupakan tenaga lepas di luar penerbit. Penulis itu dapat saja tenaga kependidikan atau tenaga ahli lain yang diminta menulis atau menilai naskah buku pelajaran. Sebagai pnerbit, Pusat perbukuan diharapan dapat bertindak sebagai manager serta memiliki keahlian dalam penyuntingan dan pengembangan desain/ format buku pelajaran. Oleh karena itu tenaga Proyek Buku Terpadu yang merupakan tenaga inti Pusat Perbukuan pada awal berdrinya,  kemudian ditambah dengan tenaga baru. Dalam penerimaan tenaga baru terlihat keinginan yang kuat untuk memilih tenaga yang berkeahlian dari Universitas atau LPTK. Oleh karena itu dalam dua periode penerimaan pegawai baru nongol beberapa tenaga baru yang berlatar belakang ilmu murni seperti Kimia, Biologi, Matematika, Teknik, di samping  Ekonomi, dan IPS. Ternyata dalam perjalanannya kemudian, beberapa dari pegawai yang berlatar belakang bidang studi murni itu hengkang dari Pusat Perbukuan dengan berbagai alasan.

Untuk meningkatkan mutu SDM, Pusat Perbukuan telah melakukan berbagai upaya melalui pelatihan, pendidikan, studi banding di dalam dan di luar negeri. Upaya ini juga sangat kentara terlihat sesudah pergantian Kepala Pusat Perbukuan tahun 1994. Pada periode Kepala Pusat Perbukuan yang kedua ini, melalui program Proyek yang menggunakan dana pinjaman luar negeri dan murni APBN,  sudah cukup banyak pegawai Pusat Perbukuan yang mengikuti pelatihan dan pendidikan khususnya jangka pendek. Perlu dicatat pula bahwa di samping upaya resmi dari Pusat Perbukuan, banyak juga pegawai yang berupaya meningkatkan kemampuannya melalui usaha dan biaya sendiri.   Upaya swakarsa dan juga swadaya ini patut dihargai walaupun mungkin kualitas pendidikan yang diperolehnya kurang relevan dengan tugasnya sehari-hari. Banyak atau sedikit tentunya ada nilai tambah pada diri orang tersebut dan harapannya tentu ijazahnya itu dapat dipergunakan untuk keperluan kenaikan pangkat atau golongan yang ujung-ujungnya dapat menambah pendapatannya. Kalau pada awal-awalnya kebanyakan pegawai Pusat Perbukuan berada pada lapisan SLTA, maka sekarang ini lapisan itu semakin menipis bergeser ke lapisan S1. Peningkatan kualitas ini (dilihat dari ijazah)  juga terlihat pada lapisan S2 yang menurut data dalam tulisan itu sudah mencapai 11  orang dan satu orang S3 dengan berbagai jurusan. Di antara mereka tersebut ada yang mendapat bea siswa yang pemilihan jurusan dan tempatnya kuliah sudah barang tentu atas persetujuan Pusat Perbukuan.

Dengan asset sumber daya yang demikian, ternyata berdasarkan tulisan dalam Kompas itu, Pusat Perbukuan tidak memiliki kemampuan “menggigit” walaupun penampilannya meyakinkan serta “aumannya” menyeramkan, karena giginya ompong. Ungkapan sedemikian tentu bukan sekedar letupan uneg-uneg tetapi  merupakan tegoran manis, tulus, dan jujur walaupun terasa pedas bagai semua pegawai Pusat Perbukuan. Kata semua itu perlu diberi tekanan, karena keompongan itu tentu bukan karena ulah seseorang atau sekelompok pegawai tetapi menunjuk kepada masing-masing orang. Tegoran tersebut perlu ditanggapi secara positif untuk melakukan introspeksi serta memotivasi semua pegawai untuk lebih kreatif dan lebih berprestasi, termasuk para pejabatnya,  melalui reflective learning sehingga menghasilkan gagasan dan trobosan baru yang inovatif untuk memberdayakan Pusat Perbukuan. Ketidakmampuan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki tidak terlepas dari kemampuan para manager megelolanya.

Mangacu kembali ke tulisan dalam Kompas itu, Pusat perbukuan seyogianya bangga dalam hal sumber daya manusia dan asset yang dimiliknya. Sejauh diketahui oleh salah seorang sumber berita itu bahwa dari kurang lebih 220 juta penduduk Indonesia baru ada dua penyandang ilmu tentang penulisan buku pelajaran. Salah seorang di antaranya adalah pegawai Pusat Perbukuan dan seorang lagi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta tapi selama ini sering membantu Pusat Perbukuan dalam berbagai kegiatan. Mengingat langkanya jumlah tenaga ahli yang demikian, diharapkan kedua ahli itu  dapat menularkan kepiawiannya kepada  orang lain pada umumnya dan pegawai Pusat Perbukuan pada khususnya. Di lain pihak Indonesia perlu prihatin dan “berduka cita” atas kelangkaan ahli itu, karena sudah lebih dari setengah abad merdeka, hanya memiliki dua pakar dalam ilmu penulisan buku pelajaran. Pada hal buku pelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.  Membaca jumlah  pakar yang disebut dalam berita itu, seorang penulis ahli buku pelajaran berkomentar sinis “Pantas saja Pusat Perbukuan ompong”.  Pernyataan singkat itu terasa mengandung makna padat dan dalam.

Bila disimak isi seluruh berita itu, sulit dapat disembunyikan dan terbaca kekhawatiran Kepala Pusat Perbukuan atas sepak terjang dan prestasi lembaga yang dipimpinnya. Apa lagi kebijakan nasional tentang perampingan organisasi serta desentralisasi dan otonomi daerah, juga melanda Pusat Perbukuan. Tugas dan fungsi yang ada sekarang hampir  tidak jauh berbeda dengan Subdit Pembakuan Perbukuan Sekolah di Direktorat Sarana Pendidikan Ditjendikdasmen dahulu dan Direktorat itu sendiri sudah “dilikwidasi”, mungkin karena sudah tidak jamannya lagi ngomong tentang standardisasi apalagi kinerjanya sendiri tidak dapat dijadikan standard. Namun kerisauan tersebut tidak perlu berkepanjangan sampai memasuki usia pensiun tahun depan agar dapat menikmati kedamaian dan kenyamanan masa yang akan dihadapi setiap pegawai negeri itu. Sudah banyak “prestasi  dan hasil” Pusat Perbukuan menjelang dan di awal abad ke 21 ini serta manis untuk dikenang dan dinikmati. Reorganisasi dan reposisi pejabat di Pusat Pebukuan baru-baru ini telah berhasil menampilkan eksekutif muda yang enerjetik, kreatif, dan lihai  dalam berbagai berbagai masalah. Dengan kemampuan mereka yang tidak diragukan lagi itu, tentu masa depan Pusat Perbukuan akan cerah di masa yang akan datang dan menjadi  model dan contoh di dalam dan di luar negeri, karena sampai sekarang ini belum ada suatu lembaga seperti Pusat Perbukuan yang berjaya di negeri lain. Viva Pusat Perbukuan! Semoga gigi anda yang ompong segera tumbuh kembali dalam manajemen baru walaupun menggunakan stok lama. Mudah-mudahan Anda segera tampil kembali lebih  meriah dan gagah dalam pameran-pameran buku tingkat nasional dan internasional dengan wajah yang lebih bermutu dan mempesona. Mudah-mudahan anda pun nampak dalam barisan terdepan dalam menggegapgembitakan kesemarakan pemasyarakatan dan kehiatan-kegiatan Bulan Buku Nasional.  Semoga suara Anda tidak hanya nyaring dan  lantang, tetapi juga didengar dalam seminar-seminar tingkat nasional dan internasional sehingga menjadi primadona dalam relung hati setiap insan perbukuan.  Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s