KANDIDAT PROFESSOR

KANDIDAT PROFESOR

oleh B. P. Sitepu

Profesor atau guru besar, istilah itu begitu mulia. Yang memiliki  jabatan itu diharapkan cerdas tapi tidak angkuh, bijak tapi objektif, berwibawa tapi ramah, konsisten tapi tidak kaku, berprinsip tapi open minded, tidak harus cakep namun tentunya tidak serem apa lagi kayak drakula, tapi … mulai pelupa merupakan ciri lain. Lupa nama orang (kecuali nama yang berkelainan), tidak ingat kalau belum makan,  tapi tidak lupa bermacam teori dan akidah. Sering digambarkan sebagai orang yang pakai kaca mata tebal dengan kepala yang beruban atau mulai botak (untuk laki-laki tentunya). Ia adalah cendikiawan/wati yang disegani dan dijadikan panutan.

Profesor atau guru besar bukan lah gelar, tapi jabatan fungsional dan tentunya  memiliki batas waktu berlakunya, sebagai mana lazimnya setiap jabatan. Kalau bukan bertugas sebagai guru lagi atau berpindah profesi atau pensiun (kecuali emeritus) tentu dengan sendirinya  jabatan itu tidak diampu lagi. Otoritasnya sebagai pejabat “profesor” sudah lepas walaupun ilmunya masih utuh atau bahkan mungkin bertambah dan jabatannya pun beralih menjadi “pakar”. Tapi anehnya, walaupun ada ketentuan tentang pemakaian jabatan profesor atau guru besar itu, dalam kenyataannya jabatan itu sering melekat pada nama yang menjabatnya biarpun telah beralih fungsi atau pensiun, bahkan sudah berada di liang lahat, jabatan itu masih tertera pada batu nisannya diiringi dengan berbagai gelar yang memang diraihnya. Ajaibnya juga,  hal itu terjadi di berbagai negeri, tentunya termasuk di Indonesia juga.  Lebih seru lagi, orang sekitar pun ikut latah menggunakan jabatan itu sebagai kata sapaan. “Met pagi Prof! …  Apa kabar Prof ………… Terima kasih Prof! He .. he.. he.. Prof!!!!” Dan itu diucapkan oleh mahasiswa, dosen, Rektor, Dekan, Kajur, Kaprodi …. di dalam dan di luar kampus. Mereka sesungguhnya tahu bahwa “profesor” itu bukan gelar. Sungguh aneh bin ajaib.

Sangat berbeda dengan  Direktur, Direktur Jenderal, Menteri, Satpam, Peneliti, Deputi, Kepala Sekolah, Rektor, Dekan, atau Guru dan berbagai jabatan lainnya, jabatan-jabatan itu jarang melekat pada nama yang menjabatnya, apalagi kalau bukan menjabat lagi. Kebangeten deh, kalau tidak menjabat lagi masih menyebut dan memakai jabatatan itu sebagai atribut atau embel-embel, kecuali mengidam penyakit  post-power syndrom kali! Tapi kenapa jabatan profesor beda sendiri ya?

Bagaimanapun riwayatnya, jabatan profesor memang digandrungi serta menjadi idola bagi kebanyakan dosen karena merupakan jabatan tertinggi dalam kariernya sebagai tenaga fungsional. Apalagi sejak tahun 2008, setelah Pemerintah memberikan tunjangan jabatan dan tunjangan kehormatan (dianggap terhormat ni ye!) yang lumayan untuk penghargaan atas amal baktinya sebagai pembelajar, peneliti, dan pengabdi masyarakat. Tapi … apakah prestasinya meningkat,  semakin banyak melakukan penelitian yang berbobot, menulis artikel ilmiah unggulan di jurnal-jurnal terakreditasi, mempersiapkan dan melaksanakan perkuliahan lebih bermutu dan menarik? Diharapkan tentunya begitu,  tapi itu pertanyaan-pertanyaan lain!  Tidak untuk dijawab di sini. Yang jelas berbagai upaya dilakukan untuk meraih jabatan itu sehingga muncullah berbagai kisah di suatu perguruan tak bernama di negeri antah berantah … menggelikan dan memperihatinkan.

Alkisah ……………………….   (tentu ini ceritra fiktif dan maaf kalau ada nama yang sama secara kebetulan … dan maaf lahir dan bathin kalau mirip dengan pengalaman sendiri … nggak nyindir lho!)

***

Ibu Risona, begitulah biasanya dia disapa, sambil bertugas sebagai dosen menyelesaikan program PhD  di salah satu universitas yang termasuk dalam 10 world class universities di negeri yang terkenal dengan anggur merahnya. Usianya sudah mendekati empat puluhan. Tetapi pesona masa mudanya masih bersinar dan tercermin di wajahnya yang lebih muda dari usianya. Didukung secara moral oleh suaminya yang tersayang serta dilepas dengan penuh kasih oleh dua anaknya yang masih usia dini, Ibu Risona bekerja dan belajar keras di dalam dan di luar negeri. Dalam kesibukannya yang begitu padat … menelaah berbagai buku referensi, bergelut dalam berbagai penelitian, menulis di berbagai jurnal ilmiah terakreditasi di tingkat nasional dan sesekali di tingkat internasional, menyajikan berbagai gagasan kritis di berbagai seminar dan loka karya, di samping sebagai dosen penuh di satu universitas … dia tetap memberikan perhatian dan kasih sayang yang utuh tidak bercela kepada suami (seorang pejabat di lingkungan kementerian yang mengurus pertanian)  dan kedua anaknya. “Di rumah saya berfungsi tidak lebih sebagai istri yang setia dan ibu anak-anak yang penuh kasih sayang”, akunya dengan sungguh-sungguh. Namun, di sela-sela itu ia tetap mengembangkan  dan mempersiapkan  dirinya sebagai dosen yang profesional. “Sesudah anak-anak tidur, saya baca buku dan mengerjakan berbagai tugas dan … sering ditemani suami”, tuturnya diiringi senyum menawan penuh makna kesungguhan.

Berbagai kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat mengantarkannya setiap dua tahun sekali dari satu jabatan ke tingkat jabatan yang lebih tinggi dalam rentang kariernya sebagai dosen. Salah satu hasil penelitiannya dalam menangani anak autis menghasilkan teori yang mendapat pengakuan internasional serta menjadi pemicu dia diundang ke beberapa seminar di luar negeri. Hasil penelitian itu kemudian diterbitkannya menjadi buku menambah enam bukunya yang  telah terbit dan menjadi rujukan dalam pendidikan anak berkelainan.

Tepat pada usianya yang keempat puluh, dia  berhasil mencapai puncak jabatannya sebagai dosen. Ia berhasil meraih jabatan guru besar atau profesor dengan spesialisasi dalam pendidikan anak autis. Dalam pidato pengukuhannya yang sederhana, tetapi hikmad, Ibu Risona memaparkan pendirian dan gagasannya dalam pendidikan anak autis yang didasari dari hasil penelitiannya selama dua tahun. Penelitian dan gagasannya itu sebenarnya adalah aplikasi dan pengembangan hasil penelitannya ketika menyusun desertasinya untuk gelar PhD.

Seusai pemaparan orasi ilmiahnya dalam acara pengukuhannya sebagai profesor, tepuk tangan yang membahana serta meriah menandai kekaguman hadirin atas gagasan-gagasannya yang begitu brilian dan cemerlang. ” … sungguh pantas Ibu Risona memangku jabatan guru besar di bidang pendidikan autis …” demikian antara lain sambutan Rektor yang sekali gus ketua Senat Universitas itu. Para hadirin pun mengangguk-angguk memberikan persetujuan.  Salam hangat masing-masing yang hadir sebagai ucapan selamat dan rasa kagum atas prestasinya mengalir satu persatu kepadanya, suami,  serta kedua anaknya yang turut hadir.

Letih memang seharian pada Upacara Pengukuhan  itu. Sambil berbaring isterahat di peraduan menjelang larut malam, ia mendengar bisikan suaminya, ” Sekarang … Mama mau apa lagi? Cita-cita Mama sudah tercapai menjadi Profesor …. terus?”. “Ah ….” desisnya dengan nafas  hangat. “Itu baru langkah awal untuk langkah berikutnya dan berikutnya …” .  “Maksud mama?” sela suaminya penasaran karena ia berpikir profesor adalah jabatan puncak seorang dosen. Suaranya hampir tidak terdengar di tengah deras hujan di luar. ” Maksudku … maksudku … berikutnya adalah kecupan dari Papa …”.   Malam semakin larut dan bertambah dingin; hujan dan gemuruh tidak hendak berkompromi dengan sesekali kilat menyela, menambah serta menghangatkan kemesraan pasangan sang profesor..

***

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Ola Ate Aru, M.M.  di Prodi itu. Orangnya perlente, gagah, dengan senyum yang memikat. Tapi itu di luar kelas. Kalau di dalam kelas beda lagi. Sering terlambat dan sering tidak masuk, merupakan salah satu ciri khasnya. Dengan wajah serius, diseram-seramkan, dia memberikan alasan keterlambatan atau ketidak hadirannya. Biasanya juga dengan nada tinggi sehingga mahasiswa enggan menanggapinya. Mahasiswa pun sudah maklum, alasannya itu-itu saja … kena macet! Apa lagi sudah mendengar tempramen dosen itu dari kakak kelasnya, mahasiswa pun cuek saja, masa bodoh!

Akan tetapi mahasiswa sering dibuat sibuk oleh dosen yang satu ini. Berbagai tugas ia berikan dalam satu semester serta tugas itu wajib dikerjakan oleh mahasiswa. Tugas-tugas itu sering dadak-dadakan, terkesan tidak terencana dan tidak jelas hubungannya dengan pokok bahasan. Namun sudah barang tentu akan dia tagih dan kumpulkan. Akan tetapi mahasiswa tidak pernah tahu nasib pekerjaan mereka yang telah dikumpulkan. Belajar dari pengalaman, mahasiswapun mengerjakan tugas itu asal-asalan. Ada juga yang nge-copy dari temannya, ada pula yang mengerjakan sendiri tapi asal jadi. “Toh tidak akan diperiksa!”, pikir mereka. Bahkan pernah ada seorang mahasiswa yang iseng. Salah satu dari tugas yang ia kumpulkan adalah cerpen semiporno. Dia pingin tahu apakah dosen itu akan membaca dan bereaksi kepadanya. Ternyata berlalu begitu saja … gone with the wind!

Pada akhir semester ketika nilai mata kuliah dipampangkan di papan pengumuman, hasilnya aduhai mengagumkan. Semua mahasiswa yang berkumpul mengamatinya bersorak ria. Semua lulus dengan nilai hampir semua “A”. Yang mengumpulkan tugas dan tidak mengumpulkan tugas, yang mengerjakan beneran atau iseng (seperti yang mengumpulkan cerpen semiporno) tidak jelas bedanya. Yang ikut atau absen ujian tidak teridentifikasi dalam nilai akhir. Karena itu banyak juga mahasiswa yang “senang” dengan dosen ini. Soalnya, pasti lulus!.

Seorang mahasiswi terlihat sayu mengamati nilainya di papan pengumuman. Dia memperoleh nilai “B”, pada hal nilai semua mata kuliah lain adalah “A”. “Tanya dong!”, ajak temannya ikut simpati. “Ah … nggak ah!”, tolaknya, “Biarin! Pernah ada mahasiswa yang nanyain dia, eh … malah dibentak-bentak”,  sambungnya lagi. “Masa sih?”, kata temannya itu setengah tidak percaya. “Katanya, bergantung pada dia dan semau dia,”  jawab mahasiswi itu sambil berlalu kecewa.

Mendengar tunjangan jabatan Profesor naik, dan beberapa teman sejawatnya telah meraihnya, dosen ini (Dr. Ola Ate Aru, M.M.) pun berpikir-pikir. “Bagaimana caranya ya?”, tanyanya dalam hati. Hasil penelitian? Tidak punya. Makalah ilmiah yang disajikan di seminar? Juga tidak ada. Pengabdian masyarakat? Ada sih … tapi bareng-bareng dengan orang lain. Bingung juga dia!

Setelah berpikir tujuh keliling, tanya sana tanya sini, akhirnya dia senyum-senyum optimis. Pengalamannya dulu ketika menyelsaikan Program S2 di ruko pada akhir pekan, menambah “keterampilan”-nya. “Ndak terlalu sulit”, katanya dalam hati menghibur diri.

Di mencari skripsi dan tesis mahasiswa yang bagus dari perguruan tinggi lain. Dia permak sana sini (termasuk memodifikasi judul dan lokasi penelitian) … dan jadilah laporan penelitian atas namanya . Tapi masih kurang. Dia membuat penelitian sungguhan dengan mengajak dua orang mahasiswa yang cerdas. Dia diskusikan masalah, rumusan masalah, serta metode penelitian. Kemudian mahasiwa itu disuruhnya melakukan penelitian dan menyusun laporannya. Yang muncul dalam laporan akhir tentu namanya sendiri.

Masalah masih belum selesai. Makalah ilmiah belum punya,  namun masalah ini pun bagi dia gampang diatasi. Browser di internet, copy sana copy sini, lalu dirakit … selesai deh beberapa makalah. Sertifikat menyatakan bahwa disajikan di seminar? Pengalamannya lagi-lagi membantu! Banyak biro jasa yang menyediakan sertifikat … sertifikat apa saja! Seminar? Loka karya? Tingkat lokal atau nasional? Tinggal pilih dan bayar!

Untuk mengkatrol jumlah angka kredit mencapai 950 (persyaratan minimal untuk jabatan Profesor), ia menyusun buku. Kalau S1-nya di bidang pendidikan luar sekolah, S2 di bidang manajemen, S3 di bidang rekayasa kerumahtanggaan, akan menulis buku apa ya? Lama dia berpikir. Inspirasinya terasa mampet tersumbat. Lalu … ia pun pergi ke perpustakaan, toko buku … termasuk toko buku loak. Di tengah-tengah tumpukan buku loak itu dia menemukan sebuah buku … berjudul “Monopose Pria”. Buku itu segera disambarnya, diamatinya tahun terbitnya. “Lumayan, terbitan tahun 1999, … terjemahan”, pikirnya. Kalau dalam bahasa Inggris, pasti ia repot menterjemahkannya karena nilai TOFL-nya jongkok banget.  Dia membeli buku itu dengan harga Rp.15000 setelah lama tawar menawar.

Di rumah dia bekerja keras, menggunting sana sini dari buku loak itu, mencari buku lain yang berkaitan, …. berpikir keras …. menciptakan judul baru …. “Eureka, eureka!”, jeritnya menirukan teriakan Archimedes. Ia pun menemukan judul baru: “Mengatasi Monopose Pada Pria Usia Lanjut “. Lega hatinya, cepat-cepat dia menyusun kata pengantar, tentunya dengan menyontek dari buku lain juga. Bergegas-gegas ke rental komputer, menyuruh orang mengetik naskah dari halaman-halaman lepas dari beberapa buku. Dari tempat rental komputer ia mencari penerbit di pinggir jalan untuk meminta jasa menggunakan nama penerbit itu sebagai penerbit bukunya dengan sekalian dengan nomor ISBN-nya. Setelah negosiasi harga jasa penerbitan, ia pun “menerbitkan” bukunya itu edisi fotokopi sebanayak 10 eksemplar. Teknologi grafika dewasa ini memungkinkan penerbitan buku seperti lazimnya walaupun hanya 10 eksemplar. Hanya dia dan tukang ketik yang tahu isi buku itu, dicari di toko buku manapun bukunya itu tidak akan ditemukan karena dibuat hanya untuk memenuhi kelengkapan usul memperoleh jabatan profesor.

Singkat kisah, usul kenaikan jabatan  ke professor atas nama Dr. Ola Ate Aru, M.M. akhirnya sampai juga di tangan Komisi Akademik Senat Universitas.  Debat berkepanjangan antar Tim Penilai berkasnya berkepanjangan dan seru.  Beberapa anggota Tim mengerti juga prilaku si kandidat ini. Akan tetapi akhirnya …. demi toleransi dan kesetiakawanan sesama teman sejawat, diputuskan agar usul itu diteruskan ke tingkat lebih tinggi. “Biarlah di atas sana saja nanti menolak”, komentar salah seorang anggota Tim yang senior dan akan pensiun segera. Nasib mujur di tangan sang kandidat, usulnya pun disetujui dan jadilah dia profesor di bidang Monopose Pria .

Sang Profesor pun lega tapi cemas menghadapi hari pengukuhan pada hari Dies Natalis yang tidak lama lagi. Bingung juga dia menentukan topiknya. Tapi tidak kehabisan akal. Dengan bersumber dari buku loakan tempoh hari, dia menyusun orasi ilmiah dengan topik  “Kiat-Kiat Mengatasi Stress Menghadapi Monopose Pria Usia Lanjut”.  Upacara Pengukuhannya dihadiri oleh banyak pengunjung. Kebanyakan mahasiswanya karena wajib hadir sebagai bagian dari perkuliahan. Tidak ada tepuk tangan yang membahana mengahiri membaca orasinya. Gumaman pun terdengar sana-sini di ruangan.”Kok bisa ya …?” Salam ucapan selamat juga mengalir satu persatu dari hadirin dan hadirat diselai dengan sesekali pelukan.  Sang profesor tersenyum bangga, tunjangan jabatan guru besar dan tujangan kehormatan sudah menunggu.  Akan tetapi selanjutnya desain, proses, dan hasil pembelajaran di kelasnya tidak berubah. “Ia masih seperti dulu-dulu juga, tidak berubah”, celoteh seorang mahasiswa. Cuma kartu namanya segera berubah dan beredar dengan sebutan tambahan “Profesor Dr. Ola Ate Aru, M.M.” Kartu nama itu sudah dicetak jauh hari sebelum Upacara Pengukuhan.

***

Berbagai kisah perjuangan kandidat  meraih jabatan profesor atau guru besar. Ada yang membanggakan tapi ada juga yang mengundang pertanyaan. Ada yang disertai anggukan kepala, ada juga dengan geleng-geleng. Ada yang bangga menggunakannya sebagai gelar, ada juga yang merasa risi karena sadar bahwa “profesor ” adalah jabatan yang bukan langgeng. Tapi semua juga memperoleh tunjangan jabatan dan tunjangan kehormatan yang sama. Bagi yang belum memperoleh jabatan profesor, buru-burulah, karena konon kabarnya persyaratannya semakin diperketat. Profisiat!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s