OH … BURUNG …

OH … BURUNG …

Oleh B.P. Sitepu

Seperti biasanya, menjelang tengah hari aku menggiring kawanan kerbau,  gembalaanku ke lembah bukit mendekati sungai tempat kerbau-kerbau itu biasanya minum serta sekalian dimandikan. Panasnya terik matahari membuat kerbau-kerbau itu bergegas menuju sungai Lau Benuken sehingga beberapa anak kerbau itu tertinggal di belakang. Kerbau jantan tambun yang juga sekali gus menjadi pemimpin dan pejantan kawanan kerbau itu sesekali mampir merumput sementara yang lainnya bergerak terus menelusuri kereng bukit menuju pinggir sungai yang semakin dekat. Kerbau-kerbau lainnya tidak peduli dengan Sang Pemimpin, mereka sudah hafal benar jalan menuju sungai tanpa menunggu komandonya. Dalam keadaan rutinitas dengan Standard Operating Procedures (SOP) yang baku, memang fungsi pemimpin tidak jelas kelihatan. Masing-masing sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Aku mendekati Sang Pemimpin yang masih sibuk saja menyantap daun-daun bambu cina yang masih segar dan menghalaunya menuju pinggirian sungai. Tapi agak bandel juga, mungkin merasa dirinya sebagai jagoan dan pemimpin sehingga tidak mau diusik. Tapi dengan beberapa kali pukulan dengan galah, Sang Pemimpin itu akhirnya nurut juga. Sanksi dalam bentuk hukuman kalau dipergunakan secara tepat (biarpun untuk pemimpin),  sering juga ampuh untuk merubah perilaku. Sang Pemimpin itu akhirnya bergabung dengan kawanannya berendam di air sungai sambil tetap mengunyah-ngunyah rumput di mulutnya, sebagimana lazimnya dilakukan binatang memabah biak. Akupun mencari segenggam rumput ilalang sebagai sikat untuk membersihkan punggung kerbau-kerbau itu satu persatu. Enam belas ekor semuanya, masih lengkap.

Seusai puas berendam, seekor demi seekor tanpa berdesak-desakan, kerbau itu keluar dari dalam air dan merumput di sepanjang pinggir sungai. Sang Pemimpin berada di depan seperti memandu kawanan kerbau itu. Tertib dan damai, mencari rumput yang masih muda dan segar. Walaupun setiap hari kerbau-kerbau itu merumput di pinggir sungai dan di sekitar punggung bukit itu, ada saja rumput-rumput muda yang didapatnya.

Memperhatikan kerbau-kerbau asyik dan lahap merumput sehabis mandi, aku pun berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang bersantap siang.  Serantang nasi dengan dua potong ikan asin di tambah dengan lalapan sayur parit yang baru kupetik di pinggir sungai. Nikmat juga rasanya. Setengah-setengah ngantuk, merem-merem melek, aku bersandar ke batang pohon yang sudah tua d ibelakangku. Lamunan pun menerawang ke sana-sini membayangkan aku  menjadai juragan kerbau apabila gembalaanku cepat beranak pinak. Sesekali kubelalakkan mata mengamati kerbau-kerbau yang bergerombol masih asyik merumput.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara gemuruh dari puncak bukit menuruni punggung bukit. Gerombolan kerbau lain, kurang lebih dua puluh ekor, berlari menusuri punggung bukit dengan seekor kerbau jantan di depan. Kerbau-kerbau gembalanku pun ikut terkejut. Sang pemimpim menengadahkan kepalanya mengawasi sekeliling mengamati apa yang sedang terjadi. Melihat gerombolan kerbau lain itu, ia mengatur posisi sehingga berada terdepan di tempat yang agak landai, sedangkan kerbau-kerbau lain pun berhenti merumput dan bergerombol di belakangnya. Insting kebinatangannya menangkap signal ada musuh di depan mereka.

Gerombolan kerbau yang baru datang dari puncak bukit, memperlambat lajunya dam berhenti kira-kira tiga puluh meter dari kerbau gembalaanku. Pemimpinnya berada di depan, dengan tanduk yang kekar dan badan yang tegap menengadahkan moncongnya ke atas sebagai tanda siap berperang melawan Sang Pemimpin kerbau gembalaanku yang menundukkan kepala menghadap ke tanah serta dengan  tanduk panjang yang runcing tajam siap menanduk serta sekali-sekali mengias-ngi9askan kaki depannya ke tanah.

Aku berdiri terperangah, cemas, tegang tapi tidak tahu berbuat apa. Mendekat tidak berani karena kedua kerbau jantan itu nampaknya bringas dan siap berlaga. Pertarungan pun tidak dapat dielakkan. Kedua kerbau jantan saling menanduk.  Sebentar-sebentar jagoanku mundur kepepet tapi terus menanduk berusaha melukai lawannya. Sementara kawanan kerbau lain berdiri tegang ketakutan menyaksikan kedua pemimpin itu bertarung.  Kadang-kadang bergeser ke kiri, ke kanan, atau mundur mengikuti pergerakan kedua kerbau janatan yang sedang beradu kekuatan . Setelah hampir setengah jam,  kerbau pendatang itu mulai kewalahan dan melemah. Tiba-tiba ia membalik diri dan berlari kabur ke arah semak-semak dan pepohonan di punggung bukit, menyelamatkan diri. Kerbau jantanku mengikuti,  mengejar sampai kedua-duanya hilang ditelan semak-semak.

Kawanan kerbauku masih berdiri bergerombol di rerumputan di pinggir sungai. Sementara itu kawanan kerbau pendatang  bubar berlarian tidak tentu arah menyaksikan pemimpinnya kalah dan kabur. Mereka terpencar-pencar tak menentu, masing-masing sepertinya berusaha menyelamatkan diri   Tidak ada kerbau lain yang mengambil alih  kepemimpinan dalam kawanannya menggantikan kedudukan Pemimpin yang kalah bertarung dan kabur.  Tapi tidak lama kemudian seorang lelaki separuh baya lari kencang menuruni bukit. Rupanya dia adalah gembala kawanan kerbau yang kalah itu. Ia berusaha mengumpulkan kerbau-kerbaunya yang telah berserakan. Entah di mana saja dia dari tadi. Yang jelas dia telah menelantarkan kerbau gembalaannya Mungkin dia beristerahat dan ketiduran di siang bolong dan mempercayakan kerbau jantannya memimpin kawanan itu menuju sungai di lembah bukit.

Begitulah kepemimpinan kerbau. Kerbau jantan yang menobatkan dirinya sebagai Sang Pemimpin setelah mengalahkan kerbau jantan lain di kelompoknya. Dia tidak hanya memimpin dan mengatur kelompoknya, tetapi juga dia yang pertama-tama maju ke depan melawan saingan atau musuhnya, baik dari dalam atau dari luar kelompoknya. Ia membela dan bertarung melindungi anggota kelompok. Kesetiaannya  terlihat sekali ketika ada yang mengusik kelompoknya. Dengan menunjukkan kejagoannya, dia tetap dihormati oleh anggota kelompoknya, termasuk menjadi pejantan bagi setiap kerbau betina (yang muda, setengah baya, atau tua)  dalam kelompok itu.

Akan tetapi Sang Pemimpin tidak mempersiapkan kader calon pemimpin  kelompoknya. Dia tidak mau disaingi serta setiap benih-benih pemimpin yang mucul selalu diintimidasi, dicederai, serta ditaklukkannya sehingga kerdil  dan tidak sempat berkembang menjadi calon pemimpin yang unggul. Peralihan generasi kepemimpinan atau suksesi tidak berjalan secara mulus dan wajar. Pergantian akan terjadi kalau Sang Pemimpin kalah bertarung atau menjadi sepuh tak berdaya karena dimakan usia. Bisa juga terjadi peralihan kepemimpinan karena Pemimpin lama “dimutasikan” alias dijual oleh pemiliknya.

Oleh karena tidak ada kaderisasi (dasar otak kerbau), ketika Sang Pemimpin  lumpuh, apa lagi kabur, anggota kelompok nya kocar kacir menyelamatkan diri dan  bubar. Syukur-syukur kalau ada penyelamat datang melakukan breakthrough (terobosan) sehingga organisasi itu tidak punah.

Aku tersentak dari lamunanku di bawah pohon rindang itu karena melihat kerbau-kerbau gembalanku sudah tidak ada lagi hadapanku. Mereka meninggalkan lembah dan pergi merumput ke atas punggung bukit dipandu oleh Sang Pemimpin yang telah kembali dari arena pertarungan. Ia tahu persis ke mana harus pergi membawa kawanannya mencari rumput yang masih hijau dan subur. Aku berlari terengah-engah menyusul.

Hari menjelang sore, matahari berlahan-lahan bergerak menyentuh dan mencium bumi di ufuk barat. Sinarnya memerah mewarnai langit yang berhiaskan deretan awan putih yang ikut memerah. Aku mencari kerbau jantan, Sang Pemimpin, yang masih asyik merumput di pinggir jalan untuk pulang ke kandang. Kunaiki punggung Sang Pemimpin itu. Dia terus merumput tanpa peduli aku naik ke punggungya. Mungkin karena telah terbiasa hal itu kulakukan menjelang pulang. Dari atas punggung Sang Pemimpin,  kuhitung kerbau-kerbau itu. Semuanya 16 ekor termasuk yang kutunggangi, berarti klop  dan  masih lengkap.

Hampir sudah sebagian tubuh matahari terbenam dalam pelukan bumi, begitu mesra …  bumi seakan-akan merasa berat  berpisah melepas matahari yang penuh kehangatan itu.  Warna langit semakin memerah dan dari arah selatan nampak sekelompok burung belibis terbang ke arah utara, pulang ke pemukimannya.  Terlihat jelas sayapnya terkepak-kepak mengarungi langit tanpa batas. Kuperhatikan dari atas punggung kerbau yang melangkah perlahan tapi pasti. Betapa indahnya burung-burung itu terbang berparade  membentuk formasi V seperti ujung tombak yang melesat di langit. Burung yang paling depan pada ujung format V itu memimpin parade dan yang lainnya menempatkan diri dalam posisi yang serasi sehingga membentuk huruf V yang indah. Aku terpesona mengamatinya. Rupanya yang paling depan itu adalah Sang Pemimpin yang menentukan arah dan tujuan. Dia tahu ke mana harus terbang memandu kawanan burung itu dan yang lainnya mengikutinya dengan setia dalam posisinya masing-masing. Rasa kagumku semakin menjadi-jadi ketika mengamati burung yang paling depan sebagai Sang Pemimpin itu  mengubah posisi dengan terbang ke samping. Segera burung yang di belakangnya tanpa canggung-canggung  menggantikan posisi pimpinan dan menempatkan dirinya pada ujung V serta memegang komando sebagai Sang Pemimpin baru. Mantan pemimpin sebelumnya segera menempatkan dirinya sebagai anggota kawanan dalam formasi V yang utuh dan indah. Aku menggeleng-gelengkan kepala merasa kagum sampau kawanan burung itu lepas dari pandanganku.

Fungsi peimimpin dalam kawanan burung belibis sama saja dengan di kelompok lain. Menentukan arah dan tujuan (visi, misi, dan tujuan). Ia juga menjadi panutan dan teladan dalam kelompoknya; semua anggota kelompok setia mengikutinya dan yakin seyakin-yakinnya bahwa Sang Pemimpin membawa mereka ke tujuan kelompok yang juga merupakan tujuan masing-masing individu dalam kelompok. Terjamin tidak akan tersesat. Akan tetapi, tujuan cukup jauh dan untuk mencapainya menguras banyak tenaga dan pikiran. Mereka yakin bahwa perwujudan tujuan tidak akan terjadi dalam satu periode kepemimpinan. Oleh karena itu terjadi proses kaderisasi dalam kelompok. Begitu Sang Pemimpin merasa lelah, ia segera memberikan kesempatan kepada yang berada di belakangnya menempati posisi pemimpin. Tanpa birokrasi yang berbelit-belit, tanpa pilih kasih, tanpa mengharapkan balas jasa, dan juga tanpa diringi rasa iri. Dia tahu diri, waktunya telah tiba bagi yang lain untuk menempati posisi pemimpin dalam kelompoknya dan ia pun kembali berfungsi sebagai anggota biasa dengan tetap menjaga formasi kelompok yang harmonis tanpa membuat macam-macam tingkah. Mereka pun sampai ke tujuan dengan selamat dan mengalami beberapa kali perubahan pemimpin secara mulus tanpa gejolak.  Masing-masing mempunyai kesempatan menjadi pemimpin pada gilirannya serta siap menjadi Sang Pemimpin.  “Ganti pemimpin ganti arah”, tidak berlaku pada kelompok burung belibis.  Setiap pemimpin baru tetap konsisten pada tujuan kelompok. Berbeda sekali dengan kepemimpinan kerbau yang otoriter, mengandalkan otot bukan otak! Burung belibis ternyata lebih elegan, demokratis, moderat, tahu diri, dan sangat setia pada kelompoknya. Demi kepentingan bersama, dihindari egoisme, nepotisme, dan isme-isme lain yang merusak keutuhan organisasi. Oh burung …. katakanlah … bahwa kau juga  tidak kalah bijak dari manusia dalam memimpin … tanpa harus belajar teori kepimimpinan ………

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s