BAG. 14 DAYA TAHAN FISIK BUKU PELAJARAN

DAYA TAHAN FISIK BUKU TEKS PELAJARAN

LIMA TAHUN?

Oleh B.P. Sitepu

Usia Pakai Buku Teks Pelajaran

Agaknya tidaklah berkelebihan kalau dikatakan bahwa buku teks pelajaran adalah kebutuhan pokok dalam proses belajar-membelajarkan. Bahkan tunanetra sekalipun belajar dengan menggunakan buku walaupun tertulis dalam  huruf Braille. Banyak sekolah, khususnya di daerah terpencil, menggunakan buku teks pelajaran sebagai acuan utama peserta didik ketika belajar di sekolah dan di rumah. Sementara itu  masih banyak guru menggunakannya sebagai “kurikulum” serta acuan dalam mempersiapkan, melaksanakan, serta menyusun bahan evaluasi  pembelajaran. Sulit dapat dibayangkan bagaimana peserta didik dapat belajar atau pembelajar dapat melakukan tugas membelajarkan tanpa menggunakan buku teks pelajaran. Dalam  mengawasi proses dan perolehan belajar pun, pengawas  juga mengacu pada isi buku teks pelajaran di samping kurikulum.

Kedudukan buku teks pelajaran yang begitu strategis dalam memberikan kesempatan kepada peserta didik membentuk  karakter yang beriman, bermartabat serta memperoleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,  mendorong Pemerintah memberikan perhatian khusus pada mutu dan penyediaan buku teks pelajaran. Sejak awal 1970-an, Pemerintah berusaha, menyediakan buku teks pelajaran secara cuma-cuma untuk setiap peserta didik dalam semua mata pelajaran di pendidikan dasar dan menengah. Akan tetapi upaya itu belum sepenuhnya berhasil. Sampai masa berlaku kurikulum usai dan berganti, penyediaan buku teks pelajaran dengan target satu buku untuk setiap peserta didik dalam semua mata pelajaran belum pernah terpenuhi.

Di samping alasan jumlah buku teks pelajaran tidak cukup, atau datangnya terlambat, berbagai alasan lain dijadikan sekolah untuk tidak atau kurang mendayagunakan buku teks pelajaran yang disediakan Pemerintah. Jarang ditemukan sekolah yang menggunakan buku teks pelajaran dari Pemerintah sebagai satu-satunya sumber belajar-membelajarkan, kecuali di daerah yang mengalami kesulitan memperoleh buku teks pelajaran lain karena letaknya terpencil atau kemampuan ekonomi orangtua tidak memungkinkan untuk membelinya.

Sementara itu dengan berbagai dalih pula, tidak sedikit sekolah yang mengganti buku teks pelajaran setiap awal tahun pelajaran. Buku “kakak” tidak dapat lagi dipergunakan oleh “adik atau saudaranya” karena pada tahun ajaran berikutnya telah diganti dengan buku lain. Setiap kali terjadi pergantian buku teks pelajaran berarti menambah beban ekonomi orang tua. Jumlah uang yang harus dibayar orangtua cukup besar, tidak hanya karena banyaknya buku yang harus dibeli tetapi juga karena harga buku teks pelajaran itu lebih tinggi dari harga di toko buku. Keluhan akibat menanggung beban biaya buku teks pelajaran itu terdengar semakin nyaring pada setiap awal tahun pelajaran.

Dalam situasi ekonomi yang semakin sulit , pembebanan biaya pengadaan buku teks pelajaran kepada orangtua dapat mengakibatkan meningkatnya angka putus sekolah (drop out) serta menurunkan angka partisipasi peserta didik (participation rate) di sekolah dan pada gilirannya dapat merepotkan Pemerintah. Oleh karena itu untuk mengurangi kepusingan  orangtua dan Pemerintah, salah satu jalan keluar ialah membuat aturan tetntang tata cara pengadaan buku teks pelajaran di sekolah.

Agar buku teks pelajaran memenuhi persyaratan sebagai sumber belajar-membelajarkan yang bermutu, Pemerintah menilai dan menetapkan kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran . Kebijakan yang diawali pada tahun 1995 dengan buku teks pelajaran SMP , diperkuat melalui PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Tata cara pengadaan dan pemakaian buku teks pelajaran diatur sedemikian rupa agar buku teks pelajaran tersedia di masing-masing sekolah serta dipergunakan sebagaimana seharusnya sehingga masa pakai buku paling sedikit lima tahun. Buku teks pelajaran tidak dipakai lagi apabila terjadi perubahan standar nasional pendidikan dan buku teks pelajaran dinyatakan tidak layak lagi oleh Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas No 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran). Peraturan ini bermaksud untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengadaan dan penggunaan buku teks pelajaran serta menghindari monopoli dalam pengadaan buku teks pelajaran. Apabila peraturan ini ditaati maka sekolah atau guru tidak boleh semena-mena melakukan pergantian buku teks pelajaran,  komersialisasi buku teks pelajaran di sekolah dapat dihindari, dan beban orangtua dapat dikurangi.

Usia pakai buku dipengaruhi oleh daya tahan fisik serta kesesuaian isi buku dengan tujuan belajar-membelajarkan. Buku yang masih utuh secara fisik mungkin tidak atau kurang dimanfaatkan lagi karena isinya tidak atau kurang sesuai lagi dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Sebaliknya walaupun isi buku masih sesuai tetapi karena keadaan fisiknya sudak rusak, tidak dapat dipakai lagi. Kedua kondisi ini nampaknya juga dipertimbangkan dalam Peraturan Menteri No 11 Tahun 2005, khususnya Pasal 7. Akan tetapi dasar penetapan lima tahun usia pakai buku teks tidak jelas. Apakah benar fisik buku teks itu dapat bertahan sampai lima tahun? Persyaratan apa yang harus dipenuhi sehingga fisik buku teks itu masih layak dipakai sampai lima tahun?  Kedua pertanyaan pokok itu tidak sederhana dan perlu dikaji secara empiris.

Kajian  Usia Pakai Buku

Sejalan dengan tugas dan fungsinya, Pusat Perbukuan melakukan kajian empiris tentang usia pakai buku teks pelajaran yang telah dinilai dan ditetapkan layak dipakai sebagai buku teks pelajaran dilihat dari segi fisik dan isinya. Kelayakan dari segi fisik tersebut dilihat dari persyaratan mutu kertas kulit dan isi, cetakan, penjilidan dan pemotongan/penyisiran. Dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Depdiknas itu diharapkan fisik buku teks pelajaran masih layak pakai paling sedikit selama lima tahun. Disadari bahwa frekwensi, intensitas, dan cara memakai, termasuk cara membawa, menyimpan dan merawat  buku itu, ikut mempengaruhi daya tahan fisiknya, sehingga data untuk itu perlu dikumpulkan dan dikaji.

Standar mutu fisik buku untuk semua jenis dan jenjang pendidikan pada hakikatnya sama. Depdiknas menetapkan kertas jenis Art Paper 180 gr untuk kertas kulit, HVS 180 gr untuk kertas isi, dan sistem perfect binding dengan lem untuk penjilidan buku yang memiliki lebih dari 100 halaman. Kalaupun terdapat sedikit perbedaan spesifikasi, perbedaan itu tidak signifikan untuk mempengaruhi usia pakai buku. Tetapi perlakuan (pemakaian, perawatan, dan penyimpanan) terhadap buku ikut mempengaruhi usia pakainya. Oleh karena perlakuan peserta didik di sekolah dasar pada umumnya tidak sebaik  di sekolah yang lebih tinggi, maka kajianitu mendahulukan  buku teks pelajaran sekolah dasar. Kondisi di sekolah dasar diharapkan dapat memberikan gambaran daya tahan fisik buku di sekolah lanjutan (SMP dan SMA).

Buku yang dikaji adalah buku yang sedang dipakai oleh peserta didik dan guru dalam proses belajar-membelajarkan di sekolah. Dalam kajian itu buku yang dipilih ialah buku teks pelajaran Matematika di SD sejumlah 4.663 eks terdiri atas buku kelas 1 sd 6.  Mengingat keberaneka ragam kondisi sosial, budaya, dan geografi Indonesia, maka data dikumpulkan dari 56 sekolah dengan kondisi yang beragam di tujuh Propinsi menyebar di Indonesia. Data  yang yang dikumpulkan dalam bulan September dan Oktober 2005 dengan melakukan wawancara dan menyebar angket  serta observasi fisik buku itu, diolah dengan menggunakan table silang dan analisis regresi berganda.

Hasil Kajian

Hasil kajian menunjukkan bahwa buku Matematika SD yang diadakan melalui dana Block Grant itu rata-rata telah dipakai kurang dari dua tahun atau baru 22 bulan. Pada umumnya sekolah mengunaan buku itu mulai aal tahun 2004.  Dari keseluruhan buku yang diamati, sebanyak 15, 06 % tidak dapat dipakai lagi dengan perincian 6,62% mengalami kerusakan berat dan 8,44% tidak utuh lagi. Akan tetapi sebagian besar ( 84, 94%) buku  masih dapat dipakai walaupun lebih dari sebagian  mengalami kerusakan ringan.

Kondisi dan kerusakan fisik buku bervariasi, mulai dari kulit bagian depan, kulit bagian belakang, punggung serta bagian isi buku yang sudah lusuh. Kerusakan yang paling parah adalah pada kulit pungung buku berupa lecet atau sobek sehingga terlihat bagian isi buku.  Kulit punggung buku itu rusak dapat disebabkan oleh keringat  tangan peserta didik ketika memegang buku. Kulit punggung buku menjadi menjadi  lembab/basah dan lama kelamaan menipis atau sobek.  Kerusakan itu mengakibatkan kulit buku secara bertahap lepas, penjilidan buku rusak, dan kemudian kertas isi pun lepas. Namun apabila buku itu  diberi sampul kertas atau plastik, jarang terlihat kerusakan pada kulit pungung buku.

Kajian ini menunjukkan bahwa daya  tahan fisik buku dipengaruhi oleh perhatian yang diberikan sekolah serta perlakuan peserta didik terhadap buku itu. Kepala sekolah atau guru yang peduli akan buku teks pelajaran memberikan petunjuk kepada peserta didik bagaimana cara memakai dan merawat buku  teks pelajaran. Misalnya, dalam menggunakan buku, peserta didik dilarang menulisi atau mencoret-coret buku teks pelajaran, saling berebut apabila jumlah buku tidak cukup untuk setiap siswa, menghindarkan buku dari air atau cairan lainnya. Peserta didik juga diminta merawat buku dengan memberikan sampul.

Semula diasumsikan, kerusakan buku secara signifikan dipengaruhi oleh keadaan geografi, lingkungan sekolah, serta keadaan ekonomi dan sosial peserta didik. Diduga buku-buku akan cepat rusak di  sekolah yang berada di daerah yang memiliki sarana transportasi yang kurang sehingga peserta didik pergi ke sekolah berjalan kaki melewati sungai atau persawahan, atau lingkungan sekolah yang kumuh, kurang bersih dan kurang rapi. Buku juga diduga akan cepat rusak kalau dipakai oleh peserta didik dengan keadaan ekonomi dan sosial di bawah rata-rata karena mereka tidak mampu memiliki tas untuk membawa buku itu,. Akan tetapi kajian itu tidak menunjukkan perbedaan keadaan geografi, lingkungan, dan cara membawa buku memberikan kontribusi yang berarti terhadap kerusakan fisik buku. Hal ini terjadi mungkin karena usia buku baru 22 bulan atau intensitas pemakaian buku rendah. Dalam mengamati fisik buku teks pelajaran di sekolah, kajian ini nampaknya kurang memperhatikan apakah sampel buku yang diamati mewakili keseluruhan  buku. Tidak tertutup kemungkinan buku yang ditunjukkan sekolah adalah buku yang jarang atau belum pernah dipakai, karena sekolah menggunakan buku lain.Kecurigaan ini muncul, karena ketika melakukan uji coba instrumen di Propinsi Banten ditemukan sekolah yang jarang meggunakan buku teks pelajaran dengan alasan jumlahnya tidak cukup untuk setiap siswa dan sekolah itu menggunakan buku teks pelajaran lain yang dibeli oleh peserta didik. Oleh karena itu kondisi buku teks pelajaran yang dibeli dengan dana Block Grant itu masih dalam kondisi yang baik. Buku seperti itu tentunya tidak layak dijadikan sampel kajian.

Hal lain perlu dicatat ialah kualitas kertas (Art Paper 180 gr untuk kulit dan HVS 70 gr untuk isi) serta sistem penjilidan (dengan perfect binding) serta jenis lem yang dipergunakan membuat kebanyakan buku teks pelajaran masih dalam keadaan layak pakai sampai usia 22 bulan. Kerusakan pada punggung buku lebih disebabkan oleh cara memegang buku ketika membawa dan memakainya. Hal ni dapat terjadi di setiap sekolah, di daerah perkotaan atau pedesaan.

Oleh karena buku yang dikaji berusia kurang dari dua tahun, sulit dapat disimpulkan bahwa fisik teks buku teks pelajaran Matematika SD masih layak pakai sampai lima tahun. Dari keadaan buku pada saat kajian dilakukan sukar dapat diprediksi berapa lama lagi usia pakai buku itu, karena proses kerusakan buku tidak bersifat linear. Hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru serta hasil pengamatan atas fisik buku menunjukkan bahwa usia pakai buku itu ditentukan oleh cara perawatan dan pemakaian buku itu di sekolah dan di rumah. Di samping itu, rasio buku terhadap peserta didik nampaknya mempengaruhi usia pakai buku. Semakin rendah rasio buku terhadap peserta didik semakin singkat usia pakai buku itu karena yang memakainya lebih dari satu peserta didik pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu melengkapi buku sampai mencapai rasio 1,0  (satu buku untuk satu siswa) dan penggantian sesegera mungkin buku yang rusak dengan buku baru, dapat memperpanjang usia pakai buku. Di samping itu perhatian guru dan orang tua terhadap cara peserta didik memakai buku teks pelajaran itu tentu mengurangi kerusakan dan dapat memperpanjang usia pakai buku itu. Hal ini terlihat dari keadaan fisik buku yang jauh lebih baik di sekolah yang memberi sampul, memberikan petunjuk pemakaian kepada peserta didik serta melakukan pengawasan yang ketat dan mewajibkan peserta didik mengganti buku teks yang dicoret-coret atau rusak dalam pemakaian.

Secara singkat, hasil kajian daya tahan fisik buku teks pelajaran itu dapat disimpulkan bahwa usia pakai buku teks pelajaran SD dengan spesifikasi kertas kulit dan isi, sistem penjilidan, dan mutu cetak seperti yang dipersyaratkan Depdiknas dapat mencapai lima tahun apabila jumlah buku cukup untuk setiap peserta didik dan buku itu diperlakukan dengan baik.  Oleh karena keadaan buku teks pelajaran di SD pada umumnya masih dalam keadaan layak pakai dan mungkin dapat bertahan sampai lima tahun apabila diperlakukan sebagaimana mestinya, maka keadaan  buku teks pelajaran di SMP dan SMA diperkirakan akan lebih baik dan juga dapat mencapai usia pakai selama lima tahun.

Oleh karena jumlah serta perlakuan terhadap buku cukup menentukan usia pakainya, diharapkan Pemerintah, Daerah, Sekolah, dan masyarakat dapat bekerja sama menyediakan buku teks pelajaran dengan rasio terhadap peserta didik mencapai 1,0 untuk setiap mata pelajaran serta segera mengganti buku yang tidak layak pakai lagi. Untuk dapat melakukan hal demikan tentu diperlukan dana yang sangat besar. Namun apabila dana untuk pendidikan dapat ditingkatkan sehingga mencapai 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah, mudah-mudahan kendala dana ini dapat diatasi. Di samping itu pihak sekolah diharapkan memberikan perhatian terhadap pemakaian dan perawatan buku teks pelajaran, sehingga masa pakai buku teks pelajaran itu dapat lebih lama.

Kajian atas buku teks pelajaran ini dilakukan ketika usia pakai buku belum mencapai dua tahun dan prediksi untuk mencapai usia lima tahun  dilakukan dengan berbagai persyaratan. Usia pakai sesungguhnya baru akan diketahui secara pasti apabila dilakukan penelitian setelah buku itu dipakai lima tahun atau lebih.

***

2 thoughts on “BAG. 14 DAYA TAHAN FISIK BUKU PELAJARAN

  1. Betul pak, pengkajian itu memang kami lakukan masih jauh dari sempurna karena 1. Kami masih dalam taraf belajar. 2. Tuntutan program di kantor (Pusbuk) yang harus segera dilaksanakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s