Bag. 16- INSYA ALLAH

INSYA ALLAH!
Oleh B.P. Sitepu
(Dimuat dalam Bulin Pusbuk 2005)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “masya Allah” merupakan kata seru yang dipergunakan menyatakan perasaan heran, sayang, dan keterkejutan; “astagfirullah” bermakna antara lain, seruan untuk menyatakaan rasa heran dan sedih; “alhamdulillah” bermakna kata seru untuk menyatakan rasa syukur; “insya Allah” merupakan ungkapan yang dipergunakan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi. Berdasarkan etimologi, diyakini keempat kata itu berasal dari bahasa Arab, tetapi sudah merupakan ungkapan yang biasa didengar dalam percakapan sehari-hari di kalangan masyarakat jalanan, pasaran, kantoran, atau gedongan. Atas dasar makna seperti dalam KBBI itu, masing-masing kata itu dicoba dipraktekkan dengan menggunakannya secara santai tapi sesantun mungkin dalam tulisan ini. Mungkin juga juga tidak selalu tepat atau kadang-kadang terasa janggal.

Masya Allah

Konon kabarnya dalam Staff Appraisal Report untuk Second Textbook Project (1982) yang lebih dikenal dengan Integrated Text Book Project yang dibiayai antara lain dengan pinjaman dari World Bank disebutkan antara lain perlu dan mendesaknya mendirikan suatu institusi yang khusus menangani perbukuan sekolah secara profesional di lingkungan Depdikbud (nama yang dipakai pada waktu itu). Institusi yang dimaksud akhirnya lahir tahun 1987 dengan nama yang tidak kalah gagahnya “Pusat Perbukuan”. Dalam surat Edaran No. 57/MPK/87, Mendikbud mempertegas tugas dan fungsi Pusat Perbukuan sebagai satu-satunya institusi di lingkungan Depdikbud yang menangani masalah-masalah perbukuan. Akan tetapi beberapa tahun kemudian (sekitar tahun 1989) World Bank mensponsori PEQIP di lingkungan Ditjendikdasmen yang di dalamnya terdapat komponen buku pelajaran dan buku perpustakaan. Kenyataan ini memberikan kesan World Bank kurang konsisten terhadap usulan-usulannya. Usia Pusat Perbukuan baru tiga tahun dan masih terlalu dini untuk dikatakan tidak mampu melaksanakan tugas dan fungsinya. Namun wewenangnya mulai dipretelin. Masya Allah!

Kemudian dalam dokumen Book and Reading Development Project (1993) yang berada di lingkungan Ditjendikdasmen juga, disebutkan antara lain perlunya merestrukturisasi Pusat Perbukuan termasuk mereformasi tugas dan fungsinya sehingga menjadi institusi yang berperan sebagai pengawas mutu buku pelajaran melalui penilaian buku pelajaran dan sebagai sumber informasi tentang perbukuan. Lagi-lagi inisiatif itu lahir dari World Bank yang sejak awal mensponsori terbentuknya Pusat Perbukuan. Nampaknya “Engkau yang memulai, engkau pula yang akan mengakhiri”. Masya Allah!

Zaman berkembang terus. Masalah perbukuan tidak pernah surut dari permukaan. Buku dapat membuat orang pintar, arif, bijaksana, dan soleh. Buku dapat pula membuat orang kaya mendadak dan populer (seperti pengarang yang bukunya menjadi best seller), buku dapat pula membuat orang jadi repot (seperti buku di KPU atau buku sejarah di Jepang, Cina, dan juga di Indonesia). Buku pelajaran dapat pula membuat orang ngumpat-ngumpat (seperti pada awal tahun ajaran karena orangtua harus membayar/membeli buku pelajaran). Belakangan ini muncul pula Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di lingkungan Depdiknas. Tugas Badan ini termasuk menstandarkan mutu buku teks pelajaran. Lalu bagaimana dengan Pusat Perbukuan? M…a….s…y …a A … l … l … a …h ??

Astagfirullah

Suatu pagi yang sendu di tengah gerimis berkepanjangan sejak subuh, saya mencoba menghubungi seorang sehabat yang sudah lama tidak bersua. Nada sambungan terdengar sekali, dua kali, tiga kali, sampai lima kali … baru diangkat. “Ya, hallo!”, demikian suara tegas menjawab di ujung sana, tanpa basa-basi lebih jauh. Nada suaranya memberikan kesan bukan suara operator yang profesional, bukan juga nada eksekutif muda atau yang berpengalaman. Aksen suaranya menunjukkan sikap tegas dan menimbulkan dugaan dia salah seorang anggota Security. “Boleh saya disambungkan dengan …” . Belum selesai saya berujar, ia menyela, “Kantor masih kosong Pak! Nanti saja telpon lagi sekitar jam sepuluh”. Lalu terdengar suara gagang telpon diletakkan agak kasar dan sambungan pun terputus, tut, tut, tut …. Saya melirik ke jam di dinding. Pukul 9.20. Astagfirullah!

Suatu ketika entah dia di mana dan entah sedang ngapain, saya berhasil menghubungi sang sehabat melalui telpon genggamnya. Basa-basi kangen-kangenan pun mengalir deras. Saat menanggapi kekecewaan saya gagal menghubunginya di kantor, dia pun nyeloteh seenaknya, bagaimana VVIP (Very Very Important Person) sendiri tidak berhasil bertemu dengan VIP kantornya ketika tanpa pemberitahuan terlebih dahulu mampir di kantor itu pada suatu pagi di awal jam kerja. “Ah, mungkin dari rumah kebetulan beliau-beliau itu langsung pergi rapat di tempat lain”, kataku setengah membela. “He … he …he …”, jawabnya menyeringai tanpa makna yang jelas, seolah-olah mengatakan hal itu bukan luar biasa. Astagfirullah!

Penilaian naskah kini menjadi primadona! Banyak buku yang harus dinilai dan melibatkan ratusan penilai dari berbagai bidang keahlian dan dari berbagai penjuru. Dari guru besar dan peneliti utama sampai guru sekolah biasa, dari penyandang gelar S3 sampai ke S1. Berhari-hari dan dalam beberapa kali putaran. Lalu apa yang peranan teman-teman? Pertama dan terutama ialah menyusun proposal kegiatan. Kemudian langkah berikutnya, mengidentifikasi peserta, menyiapkan undangan, menggandakan format-format penilaian, menyiapkan tempat, konfirmasi kehadiran peserta, nutupi identitas pengarang dan penerbit. Berikutnya yang tidak kalah pentingnya, nenteng-nenteng buku ke penilai dan mendampinginya dalam arti kalau-kalau ada sesuatu yang diperlukan (siapa tahu perlu alat-alat tulis tambahan atau format penilaian kurang, tapi bukan membantu menilai naskah lho!). Pekerjaan yang paling keritis dan tidak boleh salah ialah entry data hasil penilaian.Nama pekerjaannya sih cukup keren, tapi toch lebih bersifat mekanistis walaupun memerlukan ketelitian. Itulah rangkaian kegiatan yang sudah merupakan protap (prosedur tetap atau standard operating procedure) Ndak peduli, apakah teman itu menyandang gelar S1, atau S2, atau bahkan S3 sekalipun. Masa bodoh baru berpengalaman bulanan atau udah hampir pensiun, peranan Anda tidak lebih dari melayani. Astagfirullah! Kapan menjadi tuan atau nyonya di rumah sendiri?

Pernah dengar ungkapan yang berbunyi “kesepian dalam keramaian”? Atau istilah lain adalah “alienation”. Biasanya perasaan yang demikian muncul dalam era kemajuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Kemajuan kedua teknologi itu dapat membuat seseorang sibuk sendiri. Ia bisa bekerja di meja kerjanya atau mungkin juga di mana saja dengan hanya mengandalkan laptop-nya. Berbagai informasi dapat diakses melalui jaringan internet. Ia juga dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan e-mail dalam melaksanakan tugas-tugas kantornya. Sambil mojok di warung Duncin Donald atau di sebuah café yang sejuk ia dapat menyusun makalah atau proposal kegiatan, mengolah data penelitian atau membuat laporan hasil monitoring dan mengirimkannya ke kantor. Dengan cara kerja yang demikian ia merasa tidak terganggu dan nyaman. Semua tugas, rencana, dan target dapat direalisasikan. Everything is running well! Akan tetapi dalam kesibukan dan sukses yang demikian, suatu waktu orang dapat jenuh dan merasa sendirian di tengah-tengah hiruk pikuk pekerjaan itu. Ia rindu dan butuh sentuhan perasaan, obrolan, canda, atau katakanlah tidak semata-mata intra tetapi juga inter personal communication. Kalau kerinduan dan kebutuhannya itu diabaikan dan tidak terpenuhi, lama-lama dia tidak hanya sibuk sendiri tetapi juga ngomong dan ketawa sendiri. Astagfirullah!

“Ya, saya juga pernah kesepian dalam keramaian, tapi bukan karena kemajuan teknologi!”, celetuk tetangga sebelah. “Saya sibuk, sibuk bangat. Teman-teman lain juga teramat sibuk. Kerjain ini dan itu, di tempat sini dan sana. Saya tahu persis apa yang saya kerjakan tapi saya tidak pernah tahu benar apa yang dikerjakan orang lain. Saya adalah karyawan kantor ini, tapi tidak mengetahui informasi tentang lembaga ini secara utuh dan lengkap. Saya adalah bagian dari kantor ini, tapi kantor ini bukan bagian dari saya. Sepertinya dinding-dinding ruangan dan lantai berlapis menjadi sekat-sekat pembatas komunikasi sehingga koordinasi kerja menjadi pudar dan lusuh. Orang saling berpapasan tetapi tidak pernah bertemu. Aneh … tapi nyata kan? Astagfirullah!

Ketiga membalik-balik isi beberapa edisi Bulin, mata saya liar mencari-cari nama penulis artikel yang dulu sering muncul dengan bebagai klitikan atau sindirin dalam bentuk sarkasme atau euphemisme. Tulisan demi tulisan terlewatkan, tapi nama-nama itu tidak kunjung ketemu. Saya memang dirundung rindu, kangen membaca cetusan pikiran atau perasaan mereka yang pernah mabuk menulis di Bulin ini. Yang muncul adalah nama-nama baru yang terasa asing di mata dan entah dari mana. Astagfirullah.

Alhamdulilah!

Sibuk … ah sibuk sekali! Kehabisan dan kekurangan hari! Tugas numpuk, seakan-akan tidak pernah berujung dan berakhir. Belum selesai pekerjaan ini, sudah ada kegiatan yang lain lagi. Hari-hari terkesan berlalu begitu cepat. Hari Senin terasa baru kemaren, tahu-tahunya besok sudah Sabtu lagi. Pada hari dan jam yang sama, pada minggu dan bulan yang tidak berbeda, dua dan kadang-kadang tiga kegiatan berjalan beriringan, dua-duanya menarik dan menguntungkan. Sayang sekali badan ini tidak dapat dibelah agar dapat mengikuti semua kegiatan. Dipikir-pikir dan dibanding-banding, dari pada bengong seharian seperti dialami tetangga sebelah rumah, … yah alhamdullilah. Jadi kurang atau tidak menulis selama ini karena dirantai oleh kesibukan dan bukan karena kemalasan? Kalau karena kesibukan sih, … ya … alhamdullilah!

Orang memang dapat memiliki harta dan wang yang berbeda jumlah dan bentuk. Tapi Tuhan itu memang maha adil. Ia memberikan waktu yang sama buat semua orang. Duapuluh empat jam perhari! Tujuh hari dalam sepekan! Tidak berbeda jumlahnya untuk tukang beca, nelayan, atau pengamen, menteri atau pegawai pembersih ruangan. Tidak ada pula yang kuasa menahan atau mempercepat perputaran waktu. Juga tidak ada yang dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Waktu datang dan pergi tanpa behenti sedetikpun dan tidak akan pernah kembali lagi. Waktu pula membuat usia semakin bertambah detik demi detik, hari demi hari sampai tahun berganti tahun. Bayi mungil menjadi balita menggemaskan , lalu berkembang jadi anak-anak rewel yang kemudian tumbuh menjadi ABG alias remaja centi manja, lalu tumbuh dewasa perkasa, dan kemudian waktu pula mengantarkannya ke usia manula beraroma tanah basah. Proses dan pengalaman itu juga menerpa setiap insan, siapa saja termasuk kiai atau pendeta, kecuali kematian memutus mata rantai itu. Waktu pula yang membuat, anak-anak kini menjelang atau berangkat dewasa, dari SD, ke SMP, ke SMA dan bersaing masuk ke PT. Semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan tidak akan mungkin dapat dipenuh kalau hanya mengandalkan gaji pokok dengan tunjangan-tunjangannya sekali pun. Mustahil dapat membeli buku serta pakaian seragam atau membayar ongkos transportasi mereka ke sekolah, belum lagi untuk yang kuliah di perguruan tinggi. Tapi … alhamdulliah, belakangan ini tidak pernah sepi dari kegiatan, sehingga biaya-biaya itupun dapat ditutupi walaupun sedikit ngos-ngosan. Apalagi bulan Juli lalu keluar pula gaji ke tiga belas. Lagi-lagi … Alhamdulillah!

Akan tetapi, cuaca tidak selalu stabil atau konstan sepanjang tahun. Kadang hujan lebat disela petir serta berakhir dengan banjir, kadang mendung disertai guruh-gemuruh menghawatirkan, tetapi juga sering cerah sepanjang hari. Sulit diramalkan apalagi dipastikan. Oleh karena itu wajar saja kalau ahli meteorologi dalam siarannya selalu menggunakan kata “prakiraan” sebagai informasi tentang keadaan cuaca yang akan datang. Demikian juga romantika hidup ini, sulit dapat dipastikan, seperti kata orang bijak, manusia merencanakan tapi Tuhan menentukan. Sering dan kebanyakan sibuk sekali, tapi ada kalanya bengong dalam kebingungan. Sulit juga dapat dipastikan! Bisa juga diperkirakan bahwa di awal tahun sepi akan kegiatan dan lewat pertengahan tahun sarat akan kegiatan. Tapi tidak juga selalu demikian atau tidak juga berlaku untuk setiap orang. Kalau dapat sibuk sepanjang tahun, … ya … alhamdulliah!

Tidak jarang juga terjadi, datang ke kantor disertai ketidakjelasan, apa yang akan dilakukan? Ngerumpi? Kalau sudah dalam situasi demikian, masuk ke kantor penuh pertimbangan untung rugi. Hitung-hitung berapa ongkos bis, atau kereta, atau ojek ditambah lagi dengan makan siang. Bisa tekor kalau hanya ngarapin gaji bulanan. Rupanya pimpinan arif dan bijaksana, maklum akan situasi dan kondisi pegawai negeri sekarang ini. Bantuan uang transport diberikan, dan …. tahun ini jumlahnya disesuaikan dengan kenaikan harga BBM, sayangnya jauh dekat sama saja. Makan siang pun disediakan dengan giji standar. Masa paceklik seakan tidak terasa. Alhamdulliah!

Insya Allah

Berbagai kecemasan dapat muncul mengamati pengalaman Pusat Perbukuan sejak lahirnya. Dan hal itu wajar-wajar saja! Kecemasan sejauh dapat dikendalikan akan berubah menjadi motivator untuk berjuang lebih ulet dan gigih. Selagi masih dipergunakan dalam proses belajar dan membelajarkan, buku didisain, dikembangkan, dipergunakan, dikelalola, dan dinilai sehingga dapat berfungsi secara efektif dan efisien sebagai sumber belajar dan membelajarkan. Dalam konteks itulah sebuah institusi yang professional diperlukan apalagi di negara yang sangat heterogen dari berbagai aspek kehidupan seperti Indonesia. Alhamdulillah, telah terbentuk BSNP yang memikul tugas yang sangat banyak dan berat karena mutu pendidikan ditentukan oleh banyak variabel. Kalau dikehendaki mutu yang standar maka perlu dimulai dari standardisasi semua komponen input dan proses belajar dan pembelajaran. Tentunya Badan yang baru itu memerlukan bantuan dari orang-orang atau instansi yang professional dalam bidangnya. Amatlah sulit kalau tidak dapat dikatakan mustahil, Badan yang masih baru dengan tenaga yang ada sekarang dapat melakukan semua tugasnya. Adalah lumrah kalau untuk standardisasi buku teks pelajaran, Badan itu mengandalkan Pusat Perbukuan bukan pilihan lain. Insya Allah.

Dalam era globalisasi ini, profesionalisme sering diperdengarkan dalam rangka berkompetisi dan berkolaborasi dengan bangsa atau negara lain. Terdapat berbagai macam rumusan definisi dan cirri profesionalisme. Antara lain disebutkan bahwa penguasaan keahlian dan pengalaman dalam bidangnya serta mengikuti perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam disiplin yang digelutinya merupakan tanda-tanda profesionalisme. Dengan pemahaman yang demikian, lembaga mana, atau siapa orang-orangnya yang memenuhi ciri-ciri itu untuk dapat dikatakan professional dalam bidang buku teks pelajaran? Bukan ahli bidang studi, bukan pengamat atau pemerhati, bukan pula pula anggota LSM, karena mereka-mereka itu pada umumnya belum menguasai keahlian atau ilmu , juga tidak pengalaman yang utuh dalam buku teks pelajaran. Lalu, siapa? Siapa lagi kalau bukan Pusat Perbukan dengan semua SDM-nya! Insya Allah!

Pernah ada tertulis dan terbaca, entah di mana dan entah kapan, ungkapan yang mengatakan bahwa ada tabib yang dihargai dan dihormati orang di tempat lain karena kemujaraban obat yang diberikannya kepada orang sakit. Namun, tabib itu dicemoohkan orang di desanya, bukan karena obatnya tidak mujarab tapi karena orang desanya itu tahu dan mengenal keturunan siapa si tabib yang kebetulan dari keluarga yang miskin dan tidak terpandang. Kemampuannya tidak diragukan tetapi asal usulnya yang dipersoalkan. Namun di era ini dan juga ke depan, logika akan lebih mendominasi emosi. Oleh karena itu suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pada waktunya kemampuan, loyalitas dan integritas SDM yang dimiliki suatu organisasi akan lebih diutamakan dan diberdayakan. Mereka yang lebih memahami persoalan dan menguasai teknik pemecahan masalahnya tanpa mengabaikan bahwa merekapun perlu terus menerus meningkatkan keahliannya melalui berbagai pengalaman belajar. Dengan demikian SDM di Pusat Perbukuan pun akan menjadi tuan atau nyonya di institusinya sendiri. Insya Allah.

Desentralisasi merebak ke semua daerah. Mereka merasakan bagaimana leganya ketika belenggu sentralisasi mulai dilonggarkan. Betapa bangganya diberi wewenang mengurus daerahnya sendiri, menjadi tuan atau nyonya di daerahnya! Tetapi di beberapa tempat kebablasan. Luas dan besarnya wewenang tidak seimbang dengan jumlah dan keahlian SDM yang dimiliki. Lalu … terjadilah keanehan-keanehan yang membuat KPK dan Tipikor geram, termasuk di bidang buku pelajaran. Masya Allah, tertuduh dan tersangka ternyata jamak dan mengelola perbukuan dapat mendekatkan diri ke penjara dan merana. Di samping itu perdagangan buku pelajaran terus menerus mendera orangtua. Karena itu perbukuan dalam arti yang luas perlu ditangani. Kesadaran ini mulai muncul dari Yogyakarta. Dewan pendidikannya baru saja mengusulkan dibentuknya Pusat Perbukuan Daerah di Yogyakarta. Usul yang sejenis diharapkan juga muncul secara sadar di daerah- daerah lain, khususnya di daerah-daerah yang menyelenggarakan seminar tentang perbukuan. Dengan demikian ekses-ekses negatif dalam pengelolaan perbukuan sekolah dapat diminimalkan atau dihindarkan sama sekali serta keberadaan Pusat Perbukuan semakin dirasakan dan diperlukan. Insya Allah.

Waktu bergulir terus, orang datang dan pergi, silih berganti. Tetapi harapan tidak pernah punah bahwa hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok lebih berhasil dari hari ini. Cetusan “masya Allah” dalam arti keprihatinan akan bergeser kearah kekaguman, “astagfirullah” akan digusur oleh “alhamdulliah” penuh rasa syukur. Tentunya diakhiri dengan “insya Allah”. Amin.

***

2 thoughts on “Bag. 16- INSYA ALLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s