Bag.1- BULAN SEMAKIN REDUP

BULAN SEMAKIN REDUP
Oleh B.P. Sitepu
(Dimuat dalam Bulin Pusbuk, 2003)

Hari demi hari bulan Mei ini berlalui diwarnai dengan berbagai peristiwa dan berita. Awal Mei diisi dengan demonstrasi para buruh yang merasa haknya diabaikan, diikuti dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional nun jauh di daerah Provinsi Banten tapi diramaikan dengan mengudaranya balon-balon pro dan kontra RUU tentang Sisdiknas di berbagai kota besar di Indonesia. Tak kalah ramainya “demo” senang dan tidak senang terhadap goyang “ngebor” Inul, sampai berbagai tokoh nasional dan lokal ikut nimbrung. Dilihat dari pendidikan, ada anggapan goyang Inul tidak bermartabat, menonjolkan erotisme, mencemari seni dangdut, dan merusak moral generasi muda. Sejumlah seniman dan seniwati mengartikan kreasi Inul bergoyang sebagai suatu inovasi kreatif yang didambakan oleh masyarakat yang tengah jenuh dengan berbagai kemunafikan. Melarang Inul “ngebor” berarti melanggar HAM, kata orang yang sok tahu tentang HAM. Lebih seru lagi ada yang menulis, pantat Inul adalah cermin wajah bangsa kita.

Dalam hingar bingar yang tak berkesudahan itu, keadaan di Aceh diberitakan semakin mencekam. GAM dianggap tidak mentaati kesepakatan damai, tetap ngotot dan bandel. GAM tentu tidak mau mengakui tuduhan itu demikian saja. Berbagai argumentasi dilontarkan untuk membela diri dan memojokkan Indonesia. Rangkaian perundingan demi perundingan tidak membuahkan hasil yang berarti, sehingga TNI mempersiapkan operasi terpadu yang disambut juga dengan pro dan kon. Di tengah-tengah kegalauan itu umat beragama memperingati berbagai pristiwa keagaman yang membawa sejenak kesejukan dan keteduhan hati. Kaum Muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad (14 Mei), umat Budha memperingati Waicak (16 Mei), dan umat Kristen/Katolik memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga (29 Mei). Suatu ironi, di tengah-tengah puji-puja kepada Tuhan YME serta dalam kumandang seruan damai umat beragama, pedang diasah dan senjata dipersiapkan untuk suatu peperangan. Pertempuran sekecil apapun akan mencemari suasana damai dan menelan korban manusia yang belum tentu bersalah dan mereka adalah juga anak bangsa ini. Adalah suatu ironi lain, di tengah-tengah kekhusukan ibadat itu terdengar jeritan arwah-arwah korban kekerasaan atau perkosaan pada pristiwa 14 Mei 1997 dan korban penembakan mahasiswa Trisakti yang sampai sekarang belum terselesaikan secara berkeadilan.

Sementara itu pada tanggal 20 Mei bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional, suatu pristiwa yang bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia, tanpa membedakan suku, raas, agama, golongan, tingkat sosial ekonomi, ataupun asal usul. Apabila dihayati benar-benar, tekad dan nafas Hari Kebangkitan Nasional akan dapat menyelesaikan berbagai silang pendapat, perdebatan, dan persengketaan mulai dari masalah RUU tentang Sisdiknas, masalah separatisme di Aceh, bahkan sampai pada goyang ngebornya Inul sekali pun. Tetapi masalahnya sekarang, dalam era mumpungisme ini siapa yang masih menghayati nilai-nilai itu lagi? Bukankah ledakan-ledakan bom, kerusuhan-kerusuhan, pembunuhan-pembunahan sadis serta berbagai bentuk kejahatan lainnya termasuk korupsi yang terjadi di berbagai lini merupakan pertanda semakin melemahnya kesadaran dan penghayatan nilai-nilai kebangkitan nasional dan mengkerdilnya rasa nasionalisme itu sendiri? Allahuallam!

Bagi masyarakat perbukuan, bulan Mei memiliki arti sendiri. Bulan Mei adalah Bulan Buku Nasional yang pernah dicanangkan oleh Kepala Negara atau Presiden Republik Indonesia tgl 2 Mei 1995 bersamaan dengan peringatan Hardiknas di Pontianak. Bulan Buku Nasional itu pernah melahirkan Kongres Perbukuan Nasional I (29 – 31 Mei 1995). Pencanangan Bulan Buku Nasional itu diikuti pula dengan penetapan Bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan serta ditetapkan pula Gerakan Wakaf Buku Nasional tgl 7 Desember 1995 olah Presiden RI. Setahun kemudian setelah pencnanagan Bulan Buku Nasional, tepatnya pada tgl 31 Mei 1996, semangat Bulan Buku itu pernah membuahkan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM) yang sempat mempelopori pemilihan Pangeran dan Putri Buku Nasional selama dua tahun berturut-turut. Berbagai pameran buku bersekala nasional dan daerah juga digelar dengan membawa panji-panji Bulan Buku Nasional. Tetapi setelah krisis ekonomi Juli 1997, Bulan Buku Nasional semakin memudar dan bulai Mei semakin pekat dengan berbagai noda. Terakhir, dalam tahun 2003 ini terdengar berita, Hari Buku Nasionaal diperingati secara sederhana dengan meresmikaan Desa Buku pertama di Indonesia di Taman Kyai Langgeng Kota Magelang di Jawa Tengah pada tgl 17 Mei bertepatan dengan hari ulang tahun Ikapi. Desa Buku itu semula direncanakan dresmikan oleh Presiden RI, akan tetapi karena alasan tertentu dilakukan oleh Mendiknas.

UU tentang Sisdiknas yang menggantikan UU tentang Sisdiknas No2 Thn 1989 direncanakan disyahkan dalam bulan Mei 2003 walaupun tanggalnya bergeser-geser. Semua pihak berkepentingan karena menyangkut kepentingan masa depan anak-anak bangsa ini. Peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua, Pemerintah menganggap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini perlu diatur dalam suatu sistem pendidikan nasional yang peduli terhadap pluralisme dalam arti luas serta dapat membentuk manusia Indonesia yang soleh serta takwa kepada Tuhan YME sehingga segala bentuk kebobrokan moral dan mental dapat dipunahkan dari bumi persada ini. Namun di tengah-tengah semangat yang menggebu-gebu itu, masyarakat perbukuan di Indonesia perlu merasa “risau”, karena masalah buku pelajaran tidak diatur lagi dalam RUU itu. Pada hal UU sebelumnya masih memberikan perhatian pada perbukuan melalui Pasal 34. Atau … apakah ini kemajuan serta kejutan sehingga merupakan kado bagi masyarakat perbukuan dalam Bulan Buku Nasional 2003 ini?

Apa yang kita pelajari dari berbagai peristiwa itu? Secara nasional kita melihat bahwa mewujudkan masyarakat belajar yang gemar membaca memerlukan proses yang panjang dan menyangkut berbagai aspek, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Bagaimana sulitnya mengajak masyarakat untuk gemar membaca apabila bagi mereka membedah goyang Inul lebih menarik dan menghebohkan daripada membedah isi buku. Betapa anehnya mengajak masyarakat ramai-ramai membeli buku, sedangkan untuk membeli sesuap nasi saja mereka harus berjuang keras. Betapa tidak eloknya membicarakan mencerdaskan bangsa melalui buku di tengah-tengah kesibukan dan keserakahan mempertahankan dan memperebutkan. kekuasaan. Sungguh melelahkan!

Sejak terbentuknya, Pusat Perbukuan berperan aktif dan mengambil bagian dalam mengembangkan perbukuan sekolah da perbukuan nasional. Dia berusaha berdiri sejajar dengan barisan lain, kadang-kadang menjadi pelopor, dalam memasyarakatkan buku dan meningkatkan minat daan gemar membaca. Namun dari pengalaman selama ini terlihat bahwa pembentukan masyarakat gemar membaca itu sulit dapat diwujudkan melalui rekayasa. Berbagai kegiatan yang dilakukan beberapa tahun lalu yang terkesan “wah” tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan fatamorgana. Memanfaatkan nama-nama pejabat tinggi serta menggunakan “authority” untuk menggerakkan masyarakat untuk membaca akan berakhir dengan kehampaan. Pusat Perbukuan pernah menjadi sibuk dan repot akibat ulah orang lain yang ingin menjadi “wah”.

Masyarakat gemar membaca akan terbentuk secara alami melalui pendidikan masyarakat yang bekesinambungan, selaras dengan pertumbuhan ekonomi, didukung dengan perkembangan sikap dan pola hidup masyarakat yang semakin berbudaya. Masyarakat yang demikian tumbuh dari bawah, mulai dari individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat secara keseluruhan. Dimulai dari yang kecil, terencana, dan berkesinambungan. Gerakan itu berawal dari masyarakat dan diberikan kemudahan oleh Pemerintah. Peresmian Desa Buku yang pertama di Indonesia itu diharapkan menunjukkan semangat dan tekad bahwa pemasyarakatan buku dan kegemaran membaca itu perlu diawali dari pedesaan yang memberikan konotasi masyarakat tingkat bawah. Diharapkan budaya Desa Buku ini akan berkembang ke desa-desa lain sehingga minat dan gemar membaca itu benar-benar mengakar di tengah-tengah masyarakat.

Sekarang keadaan sudah berubah, Pusat Perbukuan tidak direpotkan lagi oleh program dadakan atas nama dan demi Bulan Buku Nasional. Pusat Perbukuan kini dapat lebih konsentrasi pada peningkatan mutu buku pelajaran sesuai dengan tugas pokoknya yang telah diperbaharui. Kini seharusnya lembaga ini dapat dengan tenang membaca, menilai, dan mengedit naskah tanpa mengabaikan peranannya sebagai warga masyarakat perbukuan yang tetap menyandang tanggung jawab ikut membangun masyarakat belajar yang gemar membaca. Perubahan tugas dan fungsinya, tentunya tidak menyebabkan Pusat Perbukuan “bertapa” di tempat-tempat yang tenang, sunyi, dan damai sambil menggumuli naskah-naskah buku pelajaran. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat perbukuan masih sangat diharapkan sebagai pendamping, pembaharu, motivator dan pelopor yang bermartabat.dan intelek. Smoga Pusat Perbukan dapat menyingkap awan-awan pekat yang membuat Bulan Buku Nasional menjadi redup dan menjadikannya menjadi bulan purnama bagi semua masyarakat cinta buku.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s