II. Perbukuan di Indonesia

II. Perbukuan di Indonesia

Sebagai Negara yang sedang bekembang, Indonesia masih mengandalkan buku sebagai salah satu sumber informasi untuk berbagai keperluan termasuk keperluan belajar dan membelajarkan. Hal ini sangat kentara terlihat di lembaga-lembaga pendidikan yang lebih banyak menggunakan buku pelajaran daripada media lainnya. Pemenuhan kebutuhan buku itu ditentukan oleh kemampuan industri buku di Indonesia. Bagaimana keadaan dan perkembangan perbukuan di Indonesia dilihat dari pilar-pilar industri buku seperti pengarang, penerbit, percetakan, penyalur, dan masyarakat pembaca, dibicarakan dalam bab berikut ini.

Sungguhpun buku tidak semata-mata dipergunakan untuk keperluan belajar dan membelajarkan, penerbitan dan pemasaran buku pelajaran memberikan andil yang besar pada pertumbuhan dan perkembangan industri buku di Indonesia. Seperti juga terjadi di negara-negara berkembang lainnya, penerbit dan toko buku di Indonesia masih mengandalkan lembaga-lembaga pendidikan sebagai pasar utama. Di samping itu berbagai faktor yang mendukung, berbagai masalah yang  menghambat perkembangan perbukuan itu juga diidentifikasi untuk dapat merumuskan alternatif penang-gulangannya.

Pendahuluan

Bangsa Indonesia telah mengenal budaya baca tulis sejak zaman dahulu kala. Hal ini terlihat dari peninggalan kebudayaan seperti batu atau arca bertulis, daun lontar, serta bahan dari kulit binatang, kulit kayu dan bambu berisi tulisan-tulisan dengan berbagai aksara, seperti aksara Jawa, Batak, Bugis, Toraja, dan Dayak. Isi atau pesan tulisan itu berupa silsilah-silsilah keluarga atau raja, peristiwa-peristiwa perang, atau mantera untuk pengobatan penyakit. Buku dalam bentuk sekarang baru mulai dikenal sejak kedatangan penyiar agama (Islam, Kristen, Hindu dan Budha) yang membawa ajaran agamanya dalam bentuk kitab suci. Bangsa Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang yang datang ke Indonesia turut serta membawa kebudayaan mereka dalam bentuk buku.

Sejalan dengan berkembangnya usaha-usaha pendidikan untuk mencerdaskan bangsa melalui upaya mayarakat dan Pemerintah mulai dari zaman penjajahan pemerintah kolonial, semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Dengan demikian kebutuhan akan buku sebagai bahan bacaan tumbuh dan berkembang pula. Peranan buku sebagai sumber informasi untuk keperluan belajar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dianggap semakin penting dan strategis sesuai dengan sifat buku itu sendiri yang antara lain dapat dipergunakan untuk memuat berbagai informasi (tentang ilmu pengetahuan, teknologi, agama, kesenian, dan hiburan), mudah disebarluaskan,  harganya relatif murah, dapat dipakai oleh banyak orang,  dapat dibawa kemana-mana dan dipergunakan sesuai dengan kesempatan pembacanya. Kelebihan media cetak seperti buku dibandingkan dengan media lainnya seperti media elektronik, menyebabkan kebutuhan akan buku sebagai sumber belajar dan pembelajaran di Indonesia semakin dirasakan mengingat jumlah penduduk yang begitu besar, wilayah yang begitu luas dengan keadaan geografis yang beraneka ragam, serta kemampuan Pemerintah yang masih kurang dan terbatas dalam menyediakan sumber-sumber belajar lainnya. Di samping itu hasil studi di berbagai negara memperkuat bahwa buku pelajaran merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar siswa. Terdapat korelasi positif antara tersedianya buku pelajaran yag bermutu dengan hasil belajar siswa. Semakin banyak tersedia buku pelajaran yang bermutu dan dibaca siswa, semakin tinggi pula hasil belajarnya.

Pilar Perbukuan

Keberhasilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan akan buku ditentukan oleh sejumlah unsur yang berkaitan satu sama lain yakni (1) pencipta ide/gagasan, (2) penerbit, (3) percetakan, (4) penyalur/distributor, dan (5) masyarakat pembaca. Kelima unsur itu tidak dapat berkembang sendiri-sendiri tetapi bersinergi satu sama lain sehingga disebut juga sebagai pilar industri buku. Seorang pengarang, yang memiliki banyak uang dan memiliki percetakan, mungkin dapat mencetak dan menerbitkan sendiri naskahnya sehingga menjadi buku. Akan tetapi tidak mungkin lalu ia menjual dan membeli serta membaca sendiri bukunya tersebut. Setidak-tidaknya ia memerlukan pembaca sebagai konsumen bukunya itu. Dengan demikian masing-masing komponen itu saling membutuhkan satu sama lain agar dapat hidup dan berkembang.

Setiap buku memiliki pengarang, penerbit, pencetak, penyalur/distributor dan pembaca/pemakainya. Semakin maju industri buku semakin profesional penanganan masing-masing pilar itu. Oleh karena itu masalah-masalah perbukuan atau maju mundurnya industri buku pada umumnya berkaitan dengan kelima pilar tersebut. Jumlah, jenis, mutu, serta penyebaran buku di Indonesia tidak terpisah dari keadaan lima pilar perbukuan di negeri ini. Berikut ini digambarkan kelima pilar itu di Indonesia dengan catatan bahwa sangat sulit mendapatkan data kuantitatif yang akurat dan mutakhir tentang masing-masing pilar.

Pilar-Pilar Perbukuan

A. PENCIPTA IDE: PENGARANG, PENULIS, PENERJEMAH, PENYADUR

B. PENERBIT: MANAGEMEN, PENGELOLA, PERANCANG, EDITOR, IUSTRATOR

C. PERCETAKAN: MANJEMEN, SETTER, PENATA LETAK, PEMBUAT FILM, OPERATOR CETAK

D. DISTRIBUTOR: AGEN PENERBIT, PENYALUR, TOKO/KIOS BUKU, PERPUSTAKAAN

E.PEMAKAI: SISWA, HASISWA, GURU, ORANGTUA, MASYARAKAT, LEMBAGA LAINNYA

Masing-masing dari kelima pilar tersebut memegang peranan sendiri-sendiri yang sama pentingnya. Mereka bekerja sama serta saling mendukung dalam menghasilkan buku. Dalam industri buku yang maju, tidak mungkin kelima pilar itu dilakukan oleh satu orang atau sekelompok orang yang sama. Seorang pengarang tetap saja menyerahkan naskahnya kepada penerbit yang profesional; penerbit menyerahkan naskah yang sudah diolah dan siap cetak ke perusahaan percetakan dan tidak mencetak sendiri. Penerbit atau percetakan tidak menyalurkan dan menjual buku langsung ke pembaca, tetapi melalui toko buku. Juga sebaliknya, toko buku tidak mencetak dan menerbitkan sendiri buku untuk dijual. Kelima pilar itu berdiri sama tegak dan sejajar serta saling bersinergi dalam menumbuhkembangkan industri buku. Kelemahan di salah satu pilar akan memberikan pengaruh negatif pada pilar lainnya.

Pencipta Ide

Pencipta ide adalah orang yang melahirkan gagasan yang kemudian dituliskan menjadi isi sebuah buku. Tulisan itu kemudian lazim disebut naskah buku. Yang termasuk ke dalam pilar ini ialah pengarang/penulis, penerjemah, dan penyadur naskah. Pengarang adalah orang yang melahirkan dan menuliskan gagasan atau pikirannya dalam bentuk naskah. Sedangkan penulis diartikan sebagai orang yang menuliskan suatu gagasan yang mungkin asli atau tidak asli dari hasil pikirannya sendiri. Akan tetapi dalam pemakaian sehari-hari kedua kata itu sering diartikan sama dan penggunaannya saling dipertukarkan. Penerjemah ialah orang yang mengalihbahasakan suatu gagasan atau naskah dari satu bahasa ke  bahasa lain. Sedangkan penyadur adalah orang menyusun kembali suatu gagasan atau naskah secara bebas tanpa mengubah inti/isi gagasan aslinya dengan penyajian yang disesuaikan dengan sasaran. Dengan demikian keempat jenis pencipta ide ini pada hakikatnya menghasilkan naskah yang selanjutnya akan diproses menjadi media cetak. Oleh karena terbitnya sebuah buku berawal dari naskah, maka jumlah dan kualitas pencipta ide ini menentukan pula jumlah dan mutu naskah yang dihasilkan.

Dalam kurun lima tahun (1999 -2003) jumlah rata-rata judul buku baru yang diterbitkan setiap tahun sekitar 6000 judul (termasuk terjemahan). Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan jumlah judul buku baru yang diterbitkan di Malaysia (+ 8.500 judul),  Korea (+ 45.000 judul), Jepang (+60.000 judul), dan Amerika  (+ 90.000 judul). Rendahnya produksi buku di Indonesia tidak terlepas dari kurangnya naskah yang dihasilkan oleh penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur.

Dilihat dari jenisnya, buku-buku yang diterbitkan itu dapat digolongkan sebagai berikut:

Tabel 1

Persentase buku yang diterbitkan dilihat dari jenisnya

NO JENIS BUKU JUMLAH
1 Buku Sekolah 65 %
2 Buku Perguruan Tinggi 15 %
3 Buku Agama 15 %
4 Buku Lainnya 5 %

Sumber: Kongres Perbukuan Nasional I, 1995

Sungguhpun data yang diacu bersumber dari dokumen Kongres Perbukuan tahun 1995, nampaknya komposisi jenis buku itu belum banyak berubah sampai dengan tahun 2003. Komposisi jenis buku yang diterbitkan itu menunjukkan bahwa jenis buku yang paling banyak dihasilkan adalah untuk keperluan sekolah atau buku pelajaran, baru kemudian buku perguruan tinggi yang jumlahnya sama dengan buku agama. Keadaan ini menunjukkan bahwa penulis/pengarang, penerjemah, serta penerbit menganggap bahwa lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) masih merupakan pasar/sasaran utama. Data ini juga memberikan indikasi, kebanyakan penulis/pengarang dan penerjemah buku pada umumnya masih berasal dari kalangan guru, dosen, dan ilmuan lainnya.

Penulis/pengarang, penerjemah dan penyadur merupakan unsur pertama dan terutama dalam menghasilkan naskah buku. Mereka memiliki ide/gagasan yang merupakan produk intelektual yang akan dituangkan dalam bentuk naskah. Oleh karena itu kreativitas mereka itu mempengaruhi secara langsung jumlah dan mutu buku yang diterbitkan. Semakin banyak jumlahnya, diharapkan semakin banyak pula jumlah buku yang dihasilkan. Semakin tinggi mutu mereka, diharapkan semakin bermutu pula buku yang dihasilkan. Keadaan yang sebaliknya pun akan terjadi pula, karena jumlah dan mutu penulis/pengarang, penerjemah dan penyadur  berpengaruh kuat terhadap jumlah dan mutu buku yang diterbitkan.

Dalam jenis-jenis profesi yang tertera dalam buku Statistik Indonesia yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik,  penulis/pengarang, penerjemah dan penyadur  belum dijadikan sebagai suatu profesi tersendiri. Hal ini terjadi, mungkin karena di Indonesia pekerjaan menulis/mengarang, menerjemahkan, serta menyadur belum dianggap sebagai suatu profesi tersendiri. Sungguhpun pekerjaan itu dilakukan, tetapi bukan sebagai pekerjaan pokok, karena  jarang orang dapat hidup semata-mata dari penghasilan sebagai pengarang. Wartawan memang melakukan banyak kegiatan  menulis, akan tetapi profesi wartawan berbeda dengan penulis/pengarang buku. Kegiatan wartawan lebih banyak mengumpulkan dan menuliskan berita, bukan menciptakan ide atau gagasan.

Sungguhpun terdapat orang yang hidup dari pekerjaan menulis, jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan penulis/pengarang di Indonesia mempunyai profesi utama lain di antaranya sebagai tenaga kependidikan (guru dan dosen) atau  praktisi dengan  keahlian khusus. Kelompok ini sebenarnya sangat potensial untuk menulis, mengarang, menerjemahkan dan menyadur naskah. Namun sayembara menulis naskah buku di kalangan guru SD,SLTP, dan SLTA yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 1988 – 2004 menunjukkan bahwa tidak sampai 2 % dari jumlah semua guru di Indonesia yang mengikuti sayembara itu setiap tahunnya. Dari laporan penyelenggaraan sayembara ini diduga bahwa sungguhpun kebanyakan guru menguasai bidang studi serta memiliki pengalaman membelajarkan dengan menggunakan berbagai metode, masih sedikit guru yang menguasi teknik menulis naskah buku pelajaran. Dugaan ini juga diperkuat oleh kelemahan-kelemahan penulisan naskah dalam sayembara itu. Keadaan ini dapat dimaklumi karena di lembaga pendidikan tenaga kependidikan, calon guru pada umumnya tidak mempelajari secara khusus teknik penulisan naskah buku pelajaran.

Sungguhpun penulis/pengarang belum dinyatakan sebagai profesi tersendiri, terdapat juga organisasi profesi di Indonesia seperti, Himpunan Pengarang Indonesia “Aksara”, Ikatan Pengarang Indonesia (Ipindo), Wanita Penulis Indonesia (WPI), dan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), Jumlah anggota masing-masing organisasi adalah sebagai berikut.

Tabel 2

Jumlah anggota organisasi profesi pengarang/penulis dan penerjemah

NO NAMA ORGANISASI JMLANG
1 Himpunan Pengarang Indonesia “AKSARA” 120
2 Ikatan Pengarang Indonesia (IPINDO) 116
3 Wanita Penulis Indonesia (WPI) 69
4 Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) 64

Catatan:  Jumlah anggota masing-masing organisasi  diperoleh secara lisan dari ketua masing-masing organisasi , 2003. Tidak ada data resmi secara tertulis dan terdapat beberapa pengarang/penulis termasuk anggota lebih dari satu organisasi.

Di samping keakuratan data dalam tabel di atas masih  diragukan karena registrasi dan verifikasi anggota masing-masing organisasi tidak dilakukan secara teratur dan tertib, jumlah anggota masing-masing organisasi di atas tidak mencerminkan jumlah keseluruhan, karena terdapat juga kenyataan, seorang pengarang menjadi anggota lebih dari satu organisasi. Misalnya, ada anggota WPI  yang juga menjadi anggota AKSARA pada waktu yang bersamaan.

Di samping ketiga organisasi tersebut di atas terdapat juga organisasi lain seperti Forum Sastra Wanita “Tamening” di Sumatra Barat dan beberapa himpunan penulis di daerah seperti di Jogyakarta, Bandung, dan Bengkulu. Akan tetapi jumlah angotanya tidak diketahui secara pasti. Dalam pada itu ada juga organisasi penulis yang mati seperti Persatuan Penulis Republik Indonesia (Peperindo). Walaupun masih ada sejumlah penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur yang tidak termasuk ke dalam salah satu organisasi di atas, data yang dikemukakan menunjukkan sangat kurangnya jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah melebihi 220 juta orang.

Dalam Kongres Perbukuan I (1995) dikemukakan antara lain bahwa kurangnya jumlah penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur di Indonesia ialah:

  1. Hak cipta penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur kurang terlindungi sehingga menimbulkan maraknya pembajakan karya tulisan yang sangat merugikan profesi ini.
  2. Imbalan atau royalty penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur masih tergolong rendah dan tidak menarik disebabkan oleh pasaran buku masih belum baik dan manajemen kebanyakan penerbit belum terbuka/transparan.
  3. Terbatasnya jumlah penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur yang memiliki kemampuan dan waktu yang cukup untuk menulis naskah-naskah ilmiah.
  4. Belum semua perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan kemampuan menulis naskah buku.
  5. Kurangnya pelatihan untuk untuk penulis naskah buku.

Penerbit

Penerbit yang merupakan pilar kedua dalam industri buku, adalah badan usaha yang berfungsi untuk menerbitkan naskah dalam bentuk cetakan (media cetak). Dalam melaksankan fungsinya itu penerbit:

  1. memperoleh naskah dari pengarang/penulis, penerjemah, dan penyadur;
  2. mempertimbangkan kelayakan penerbitan naskah;
  3. mengedit naskah dari segi bahasa dan ilustrasi;
  4. membuat rancangan/desain penerbitan naskah;
  5. menyerahkan naskah siap cetak kepada percetakan;
  6. menerima hasil cetakan dari percetakan; dan
  7. mendistribusikan/menyalurkan buku itu ke penjual buku.

Untuk melakukan kegiatan penerbitan naskah, di samping direktur/pimpinan perusahaan dan staf administrasi, penerbit memiliki tiga bagian utama:

  1. Bagian editorial yang bertugas untuk memperoleh dan mengolah naskah. Bagian ini pula yang mengadakan hubungan dengan pengarang/penulis, penerjemah dan penyadur serta memberikan pertimbangan kelayakan penerbitan naskah.
  2. Bagian produksi yang bertugas untuk membuat rancangan buku (ukuran, tata letak, ukuran dan jenis huruf, warna, serta jenis kertas) dan melakukan pengawasan atas hasil kerja percetakan. Selaras dengan perkembangan teknologi infomasi, banyak penerbit yang mengembangkan naskah dalam bentuk siap cetak (camera ready copy), sehingga percetakan tidak lagi melakukan setting huruf atau perubahan yang berarti sampai naskah itu masuk proses cetak. Hasil pencetakan naskah yang sudah dalam bentuk buku itu dari percetakan kembali ke penerbit untuk dipasarkan.
  3. Bagian pemasaran yang bertugas untuk menjajaki jenis buku yang diperlukan pasar/ masyarakat, mempromosikan dan mendistribusikan/menyalurkan buku hasil terbitan.

Usaha penerbitan sudah mulai berkembang secara terbatas menjelang akhir abad ke 19  di berbagai daerah di Indonesia seperti di Medan, Bukittinggi, Padang, Bandung, Solo, dan Yogyakarta (Kimman 1981: hlm. 93-94). Penerbit nasional yang pertama berdiri ialah Balai Pustaka yang dibentuk tgl 22 September 1917. Dengan demikian sebenarnya usia penerbitan nasional di Indonesia sudah mencapai hampir satu abad. Namun selama masa penjajahan pertumbuhan penerbit mengalami tekanan dari pemerintah kolonial selaras dengan kebijakan mereka untuk membatasi pengetahuan masyarakat khususnya di bidang politik. Jenis dan jumlah buku yang diterbitkan dibatasi dan sangat sedikit sekali yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan politik. Dalam zaman kemerdekaan Indonesia, usaha penerbitan berkembang lebih cepat walaupun pengelolaannya belum benar-benar profesional serta masih terpusat di pulau Jawa. Jumlah, kualitas dan penyebaran penerbit itu mempengaruhi jumlah dan mutu buku yang dihasilkan. Kurang menyebarnya tempat penerbit serta jaringan pemasarannya yang pada umumnya berpusat di kota-kota besar mengakibatkan  di sejumlah wilayah dan desa masih sulit memperoleh buku, termasuk buku pelajaran.

Sebagai wadah berorganisasi di kalangan penerbit, pada tanggal 17 Mei 1950 dibentuk Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) oleh 13 penerbit nasional. Jumlah anggota Ikapi itu bertambah setiap tahun selaras dengan pertumbuhan penerbit baru. Namun belum semua penerbit menjadi anggota Ikapi. Jumlah penerbit yang termasuk dalam Ikapi pada tahun 2005 adalah sebagai berikut.

Tabel 3

Jumlah Penerbit di Indonesia yang termasuk dalam Ikapi 2005

NO PROPINSI THN 2005
1 Nanggroe Aceh Darussalam 5
2 Sumatra Utara 16
3 Sumatra Barat 6
4 Riau (Termasuk Kep. Riau) 4
5 Jambi 2
6 Sumatra Selatan 8
7 Bengkulu 0
8 Lampung 1
9 Bangka Belitung 0
10 DKI Jakarta 262
11 Banten 1
12 Jawa Barat 144
13 Jawa Tengah 76
14 D.I. Yogyakarta 47
15 Jawa Timur 85
16 Bali 7
17 Nusa Tenggara Barat 1
18 Nusa Tenggara Timur 2
19 Kalimantan Barat 6
20 Kalimantan Tengah 0
21 Kalimantan Selatan 1
22 Kalimantan Timur 1
23 Sulawesi Utara 0
24 Sulawesi Tengah 0
25 Sulawesi Selatan 8
26 Sulawesi Tenggara 0
27 Gorontalo 0
28 Maluku 0
29 Maluku Utara 0
30 Papua 0
Jumlah 682

Sumber: Ikapi, 2005

Dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu (1995), data di atas menunjukkan kenaikan jumlah penerbit di Indonesia sebanyak     33,7% atau 172 penerbit dalam sepuluh tahun terakhir. Dibandingkan dengan Negara-negara lain di ASEAN, dari segi jumlah, Indonesia memiliki penerbit yang memadai. Thailand memiliki 200 penerbit, Vietnam dengan 39 penerbit, Malaysia dengan 150 penerbit aktif dari 500 penerbit yang terdaftar, Singapura dengan 79 penerbit ( sumber data: Asean Conference on Book Development, 1996). Sungguhpun demikian, di Indonesia penyebaran penerbit itu tidak merata ke sluruh wilayah. Sebagian besar atau 90,7% atau 547 penerbit berada di pulau  Jawa dan hanya  9,3% atau 56 penerbit di luar pulau Jawa. Di samping itu masih terdapat 14 propinsi yang belum memiliki penerbit yang tergabung dalam Ikapi. Kurangnya penerbit di luar pulau Jawa mengakibatkan penyebaran buku yang tidak merata dan harga buku yang lebih mahal di luar pulau Jawa.

Apabila jumlah judul buku baru yang diterbitkan rata-rata 6000 judul (termasuk cetak ulang), maka rata-rata jumlah terbitan untuk setiap penerbit hanya sekitar 9 judul buku saja. Angka ini menunjukkan rendahnya jumlah rata-rata produksi buku secara nasional di Indonesia.

Apabila klasifikasi penerbit didasarkan atas banyaknya judul buku baru yang diterbitkan setiap tahun ( 100 judul ke atas dianggap penerbit besar),  hanya 19 % dari penerbit yang tergolong penerbit besar dan selebihnya adalah penerbit menengah ke bawah dan terbanyak adalah penerbit kecil. Komposisi penerbit dilihat dari jumlah terbitannya per tahun dapat memberikan gambaran penerbitan buku di Indonesia didominasi oleh penerbit besar.

Sedangkan kalau dilihat dari isi dan jenis buku yang diterbitkan, penerbit masih mengutamakan buku pelajaran untuk sekolah dan perguruan tinggi (sekitar 80 % dari seluruh terbitan). Keadaan ini menunjukkan bahwa penerbit masih mengandalkan lembaga-lembaga pendidikan masih sebagai pasar utama. Buku-buku umum belum menjadi prioritas terbitan dapat disebabkan oleh masih rendahnya minat dan kegemaran membaca masyarakat  sehingga buku belum merupakan salah satu kebutuhan yang mendesak dipenuhi. Di samping itu daya beli masyarakat yang belum memadai merupakan penyebab yang memegang peranan yang tidak dapat diabaikan.

Data penerbit di Indonesia ini juga menunjukkan betapa rendahnya produksi buku di Indonesia.  Jumlah masing-masing judul buku dicetak rata-rata 3.000 eksemplar. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila masyarakat dan perpustakaan-perpustakaan mengalami kesulitan mendapatkan buku-buku baru di Indonesia. Rendahnya jumlah tiras buku ini disebabkan oleh belum jelasnya pemasaran buku itu.

Hambatan dalam mengembangkan usaha penerbitan di Indonesia nampaknya bersifat klasik yang dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat dalam rekomendasi Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional (BPPBN) 1978 – 1999 serta Kongres Perbukuan Nasional I (1995). Ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh para penerbit yaitu:

  1. Pemasaran buku masih lesu dan tidak menggairahkan karena rendahnya minat baca, tingginya harga buku, dan buku belum menjadi kebutuhan pokok orang banyak.
  2. Belum adanya kemauan politik Pemerintah untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi kemajuan perbukuan nasional (belum adanya undang-undang perbukuan, penegakan hukum dalam pelanggaran hak cipta masih lemah, pajak ganda dalam proses produksi buku, tata niaga buku yang masih semrawut, kesulitan dalam memperoleh kredit dari bank untuk penerbitan buku, dsb).

Percetakan

Percetakan adalah badan usaha jasa yang melakukan pencetakan naskah menjadi dalam bentuk media cetak seperti buku, brosur, majalah dan lain sebagainya. Sebelum teknologi informasi dan teknologi komunikasi merambah usaha penerbitan dan pencetakan serta mesin-mesin cetak belum mengalami komputerisasi, percetakan mengolah naskah siap cetak (clean copy) dari penerbit dengan melakukan susun huruf (setting), pencetakan, dan penjilidan sehingga berbentuk buku. Akan tetapi dalam dekade terakhir ini banyak percetakan yang sudah menggunakan mesin-mesin cetak yang langsung dapat mencetak naskah dari disket menjadi film dan plat ctak, sehingga susun huruf dan tata letak tidak dilakukan lagi oleh percetakan. Bahkan teknologi mutakhir telah memungkinkan pencetakan dapat langsung dilakukan dari disket.

Percetakan menerima naskah dari penerbit dan menerbitkannya dalam tata letak dan bentuk, dan jumlah yang sesuai dengan pesanan penerbit. Percetakan menyerahkan hasil cetakannya kepada penerbit dan tidak bertanggung jawab atas isi bahan yang dicetak. Penerbit membayar ongkos cetak sesuai dengan kesepakatan dan percetakan tidak ikut menanggung konsekuensi atas hasil penjualan buku itu. Dengan perkataan lain percetakan tidak akan mendapat tambahan bayaran apabila buku itu laku keras dan juga tidak akan ikut menanggung kerugian apabila buku itu tidak atau kurang laku.

Pencetakan buku menuntut peralatan atau mesin khusus dan tidak semua percetakan memenuhi syarat dan mampu mencetak buku. Untuk mencetak buku diperlukan setidak-tidaknya mesin cetak, mesin jilid, dan mesin potong. Dengan demikian, sebuah percetakan surat kabar yang besar tetapi tidak dilengkapi dengan mesin jilid dan mesin potong tidak akan dapat dipergunakan untuk mencetak buku sampai jadi.

Oleh karena percetakan ini yang menjadikan naskah menjadi buku, maka peranan percetakan sebagai salah satu pilar dalam industri buku tidak dapat diabaikan. Isi naskah yang ditulis pengarang dapat menjadi tidak menarik apabila dalam hasil pencetakannya tidak rata, kabur, atau kotor. Informasi yang disampaikan dapat kadaluarsa apabila percetakan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencetaknya sehingga terlambat sampai ke pembaca. Proses belajar dan pembelajaran di sekolah dapat terganggu apabila percetakan tidak dapat menyelesaikan pencetakan buku pelajaran sesuai dengan jadwal.

Usaha percetakan juga sudah ada di Indonesia mendahului usaha penerbitan. Percetakan itu diperlukan tidak semata-mata untuk mencetak buku tetapi juga untuk mencetak formulir, edaran, undangan, kartu nama, dan lain-lain. Di Indonesia percetakan diawali dengan berdirinya percetakan Lands Drukkerij di Jakarta pada tahun 1809, zaman penjajahan Belanda yang berlanjut dan kemudian berkembang menjadi Perum Percetakan Negara. Dengan demikian usia percetakan  di Indonesia telah mencapai hampir dua abad. Jumlah percetakan berkembang terus di kota-kota besar di Indonesia dan jumlahnya tidak diketahui secara tepat. Apabila dihitung termasuk percetakan kecil seperti percetakan kartu nama dan undangan, jumlahnya tidak kurang dari 7.000 buah. Percetakan membentuk organisasi profesi, Persatuan Perusahaan Grafika (PPGI), yang mencatat jumlah angotanya sekitar 2.500 percetakan. Akan tetapi bila dilihat dari kemampuan mencetak buku, tidak sampai 15% dari antaranya yang memiliki peralatan lengkap untuk mencetak buku. Hal ini jelas terlihat ketika Pemerintah melakukan desentralisasi pencetakan buku pelajaran sekolah, sejumlah propinsi terpaksa melakukan pencetakan di luar daerahnya karena tidak memiliki percetakan yang dapat mencetak buku dalam jumlah yang diperlukan. Alasan  utama tidak adanya percetakan yang mampu mencetak buku di propinsi tertentu ialah mereka jarang mendapat pesanan untuk mencetak buku dalam jumlah banyak karena populasi daerah itu sendiri termasuk rendah (mis. Bengkulu, Jambi, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara) dan ongkos pencetakan lebih murah kalau dilakukan di daerah lain.

Masalah-masalah yang dihadapi oleh percetakan dalam mencetak buku antara lain ialah:

  1. Harga bahan baku kertas yang tinggi karena Pemerintah kurang mampu mengendalikan dan menekan harga bahan baku kertas (pulp).
  2. Kurangnya pembinaan mutu percetakan dari instansi yang berwewenang sehingga terjadi penyalahgunaan percetakan untuk keperluan-keperluan negatif (pembajakan, prornografi, provokasi, dlsb).
  3. Usaha percetakan buku belum menyebar di seluruh Indonesia.
  4. Kurangnya tenaga teknis percetakan yang ahli di bidangnya.

(Kongres Perbukuan Nasional, 1995).

Penyalur/Distributor

Yang dimaksud dengan distributor/penyalur ialah badan usaha atau lembaga/instansi yang berfungsi untuk mengirimkan dan menyediakan buku sehingga sampai ke pengguna atau pembaca. Distributor menerima buku dari penerbit dan melakukan perjanjian atas penyaluran buku itu termasuk tata cara pembayarannya. Distributor/penyalur buku termasuk agen penerbit, toko/kios buku dan perpustakaan. Ketiga unsur inilah yang memainkan peranan penting dalam menghadirkan buku kepada pembacanya. Dengan demikian semakin banyak dan menyebar secara merata agen penerbit, toko buku, dan perpustakaan maka semakin mudah pembaca mendapatkan buku.

Dilihat dari proses produksi buku, toko buku terbentuk sesudah ada penerbit dan percetakan. Akan tetapi hal itu tidak harus terjadi demikian di setiap Negara karena buku yang dijual di toko buku dapat saja didatangkan dari negara lain. Keadaan yang demikian dialami di Indonesia. Sebelum penerbit berdiri, telah ada toko buku yang menjual buku-buku dari negeri Belanda dan negara lain. Akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan toko buku di Indonesia nampaknya dipengaruhi oleh besarnya produksi buku dalam negeri. Rendahnya jumlah buku yang diterbitkan serta masih rendahnya minat baca mengakibatkan jumlah toko buku masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.Gabungan Toko Buku Indonesia (GATBI) yang merupakan satu-satunya organisasi profesi toko buku, hanya memiliki anggota tidak sampai 3000 toko buku. Apabila dihitung kios atau toko buku musiman (yang menjual buku hanya menjelang awal tahun pelajaran), jumlahnya melebihi 5000 buah. Akan tetapi toko yang sehari-harinya menjual buku dan memiliki izin usaha sebagai toko buku jumlahnya masih belum mencapai 3000 buah. Oleh karena itu masih banyak ibu kota kecamatan yang sama sekali belum memiliki toko buku. Di daerah yang demikian buku masih langka karena untuk memperolehnya orang harus pergi ke ibu kota kabupaten.

Selain di toko buku, orang dapat mendapatkan dan meminjam buku dari perpustakaan seperti perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, atau perpustakaan khusus. Bahkan dalam era tahun sembilanpuluhan digalakkan perpustakaan desa untuk lebih mendekatkan buku ke tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi program perpustakaan desa itu kurang berkembang dengan baik secara nasional.

Koleksi perpustakaan di Indonesia pada umumnya masih memprihatinkan apalagi kalau dibandingkan dengan  koleksi perpustakaan di beberapa negara ASEAN. Hal ini dapat terlihat dari perbandingan koleksi Perpustakaan Nasional sebagai contoh. Sungguhpun data berikut ini menggambarkan keadaan pada tahun 1987 – 1989, nampaknya secara umumnya keadaannya tidak jauh berubah sampai sekarang ini. Apabila keadaan koleksi Perpustakaan Nasional saja masih seperti tertera pada tabel berikut, dapat diperkirakan bagaimana miskinnya koleksi perpustakaan lain.

Tabel 4

Koleksi Perpustakaan Nasional di beberapa negara di Asia Tenggara

NO NEGARA TAHUN JLH PENDUDUK JUMLAH KOLEKSI
1 Singapura 1989 2.600.000 2.950.000
2 Muangtai 1989 55.000.000 1.100.000
3 Malaysia 1987 16.900.000 722.200
4 Philipina 1989 61.100.000 752.200
5 Indonsia 1988 174.600.000 980.000

Sumber: Kongres Perbukuan Nasional, 1995

Jumlah dan penyebaran toko buku dan perpustakaan sebagai distributor buku kepada penggunanya serta koleksi perpustakaan seperti telah diuraikan memperkuat kesan kurangnya produksi buku di Indonesia.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam pendistribusian buku antara lain ialah:

  1. Toko buku dan perpustakaan sebagai penyalur buku belum menyebar secara merata dan belum menjangkau masyarakat pembaca di lapisan bawah (di pedesaan dan daerah terpencil).
  2. Toko buku tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai penyalur atau penjual buku karena perdagangan buku bersifat musiman dan ramai hanya pada awal tahu pelajaran.
  3. Tingginya biaya penyaluran buku ke daerah-daerah tertentu mengakibatkan harga buku menjadi mahal.
  4. Toko buku dan perpustakaan belum dapat memenuhi kebutuhan semua masyakat pembaca.
  5. Koleksi perpustakaan termasuk perpustakaan sekolah di daerah, khususnya di pedesaan masih sangat kurang dan jarang dimutakhirkan.
  6. Jumlah tenaga profesional pengelola perpustakaan masih kurang.
  7. Informasi tentang buku, khususnya yang baru terbit masih kurang dan terbatas
  8. Jumlah pengunjung perpustakaan pada umumnya masih rendah.

Masyarakat Pembaca

Pemakai buku atau sering juga disebut masyarakat pembaca adalah semua orang yang sudah memiliki kemampuan membaca serta membutuhkan bahan bacaan. Mereka ini termasuk siswa, mahasiswa, guru, dosen, pegawai serta masyarakat umum yang memerlukan buku sebagai bahan bacaan. Berdasarkan data, angka melek huruf di Indonesia telah mencapai 85 % dari penduduk Indonesia yang berarti berkisar 187 juta orang. Diperkirakan dari jumlah itu sebanyak 60 % atau 112,2 juta orang adalah pembaca fungsional dalam arti membutuhkan buku sebagai sumber informasi. Dari 112,2 juta pembaca fungsional itu, hanya 27,8 % atau 31,2 juta yang berada di lembaga pendidikan dan selebihnya (72,2 % atau 41 juta) berada di luar lembaga pendidikan. Secara kuantitas jumlah itu sangat besar dan merupakan pasar yang menarik untuk penjualan buku. Akan tetapi di kalangan masyarakat Indonesia, minat dan kegemaran membaca masih rendah. Kebanyakan masyarakat belum menggunakan waktu senggang untuk membaca. Masih jarang terlihat orang memanfaatkan waktunya untuk membaca ketika menunggu di stasiun, lapangan terbang, ruang tunggu dokter, atau dalam perjalanan dengan bus, kereta api, pesawat udara, dan kapal laut. Masih rendahnya minat dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat umum itu merupakan salah satu alasan penerbit masih mengutamakan penerbitan buku-buku untuk lembaga-lembaga pendidikan seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 5

Komposisi jenis buku yang diterbitkan

Jenis Buku Jumlah
Buku sekolah 65 %
Buku agama 15%
Buku perguruan tinggi 15 %
Buku lain 5%

Data yang diolah dari sumber BPPBN (1998) ini menunjukkan bahwa sasaran penerbitan buku secara nasional masih mengarahkan  ke lembaga-lembaga pendidikan. Kecenderungan ini dapat dimaklumi mengingat kebutuhan masyarakat umum akan buku sebagai sumber informasi belum dapat diandalkan sebagai pasar untuk penerbit. Sungguhpun mungkin terdapat peningkatan kebutuhan bahan bacaan  di kalangan masyarakat dalam tahun 2000-an ini, komposisi jenis buku yang diterbitkan tidak mengalami perubahan yang cukup berarti. Bertambahnya stasiun televisi di Indonesia dengan tayangan berbagai jenis informasi dan hiburan yang menarik juga memberikan dampak yang negatif terhadap peningkatan  kebutuhan masyarakat umum akan buku sebagai sumber informasi dan hiburan.

Masih rendahnya minat dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat umum dan juga di kalangan siswa dan mahasiswa di Indonesia memang harus diakui. Keadaan ini dipengaruhi antara lain oleh budaya lisan yang diwarisi sejak lama. Pada umumnya masyarakat Indonesia lebih  terbiasa menyampaikan informasi secara verbal/katawi dari pada dalam bentuk tulisan sehingga lebih terbiasa mendengar daripada membaca. Orangtua merangsang rasa ngantuk anaknya sampai tertidur  dengan mendongeng. Di samping itu perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat sehingga terjadi lompatan budaya lisan/dengar ke budya audio visual tanpa melalui budaya baca.

Untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca telah dilakukan berbagai upaya oleh Pemerintah dan masyarakat. Untuk lebih memasyarakatkan buku serta membudayakan gemar membaca  pada hari peringatan Pendidikan Nasional tgl 2 Mei 1995 di Pontianak Presiden RI mencanangkan bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional.  Kemudian, pada tanggal 14 September 1995 Presiden RI bulan Sepetember sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Masih dalam tahun yang sama (1995) pada tangal 7 Desember Presiden RI menetapkan Gerakan Wakaf Buku Nasional. Di samping itu Pemerintah mengembangkan perpustakaan desa sehingga memudahkan semua lapisan masyarakat memperoleh bahan bacaan. Sementara itu masyarakat sendiri berperan serta melalui lembaga-lembaga sosial masyarakat menyelenggarakan pameran-pameran buku dan kegiatan lomba membaca.

Dari berbagai kajian tentang masyarakat membaca dapat disimpulkan sejumlah masalah berikut.

  1. Buku belum menjadi prioritas kebutuhan masyarakat.
  2. Daya beli masyarakat pada umumnya masih belum memadai untuk menjangkau harga buku.
  3. Kemajuan teknologi komunikasi, terutama elektronik memberikan pengaruh negatif dalam peningkatan minat dan kegemaran membaca
  4. Masih kuatnya budaya dengar dan budaya lisan masyarakat.
  5. Menyampaikan pendapat/pikiran atau gagasan secara tertulis belum merupakan kebiasaan bagi kebanyakan orang.
  6. Kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat belum mendukung peningkatan minat dan kegemaran membaca.
  7. Sistem pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan kurang mendukung peningkatan minat dan kegemaran membaca peserta didiknya.

Ringkasan

Industri buku didukung oleh lima pilar perbukuan yaitu pencipta ide, penerbit, percetakan, penyalur/distributor dan masyarakat pembaca. Kuantitas dan kualitas kelima pilar perbukuan di Indonesia memberikan gambaran keadaan perbukuan di negeri ini masih belum menggembirakan. Banyak gejala yang memberikan indikasi masih pentingnya meningkatkan upaya memperkuat masing-masing pilar sehingga kuat dan kokoh untuk mendukung industri buku di Indonesia khususnya dalam menghasilkan sumber belajar yang diperlukan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat secara merata.

Di samping pekerjaan sebagai pengarang/penulis belum menjadi profesi yang dapat dijadikan andalan untuk hidup, kemampuan menulis secara profesional di kalangan mayarakat Indonesia masih sangat kurang. Sementara itu pertumbuhan dan perkembangan penerbit yang masih terpusat di pulau Jawa, mengakibatkan kesulitan bagi pengarang di luar pulau Jawa menerbitkan naskahnya. Masih kurang menyebarnya  jaringan penyalur/toko buku ke semua daerah mengakibatkan kesulitan memperoleh buku di daerah tertentu khususnya di desa-desa. Tingginya biaya penyaluran buku untuk menjangkau masyarakat yang tersebar di seluruh kepulauan membuat harga buku manjadi tinggi dan di luar jangkauan kemampuan ekonomi masyarakat luas.  Masyarakat Indonesia berkembang dari budaya lisan dan kebiasaan baca-tulis belum  membudaya secara nasional sehingga minat dan kegemaran membaca belum menjadikan buku termasuk salah satu kebutuhan pokok di kalangan masyarakat luas. Keadaan yang demikian membuat industri buku belum dapat menyaingi Negara-negara tetangga di ASEAN dan Negara-negara maju lainnya. Produksi buku dalam negeri juga masih memprihatinkan dilihat dari jumlah penduduk yang sebenarnya potensial untuk dijadikan pasar buku.

Produksi buku yang ada masih menjadikan lembaga-lembaga pendidikan sebagai sasaran dan pasar buku yang dihasilkan dan kebanyakan penulis buku, khususnya buku pelajaran, masih berasal dari lembaga-lembaga pendidikan. Dalam bab berikut ini diberikan gambaran tentang buku-buku untuk pendidikan dasar, menengah dan tinggi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s