MAKSIAT

MAKSIAT AKADEMIK

Oleh B.P. Sitepu

Lelah memang, tapi nikmat sekali rasanya … sehabis fitness di sore hari badan ini pingin segera berbaring  di pantai kapuk, lupa segala-galanya …. lelap dalam tidur dibuai mimpi ………dengan berbagai ceritra, … yah… namanya juga mimpi …

***

Sudah jenuh rasanya membaca jawaban mahasiswa atas enam butir pertanyaan soal Ujian Akhir Semester. Jenuh bukan karena kecapekan, tetapi rasanya tidak menarik membaca jawaban mahasiswa pasca sarjana yang tidak merangsang untuk berpikir. Uraian-uraiannya terkesan monotone dan lebih bersifat common sense tanpa analisis kritis apalagi didukung dengan referensi. Ada lagi memberikan jawaban sekenanya atau ala kadarnya saja seperti tidak sungguhan. Pada hal ujian ini take home test yang harus diselesaikan dalam waktu satu minggu, artimya satu soal sehari, waktu yang lebih dari cukup. Sebagai jawaban nahasiswa S3, tentu jawaban seharusnya menggunakan penalaran dan argumentasi yang nalar, kritis dan logis, serta berbeda dari jawaban S2 apalagi S1. Hasil pemikirian yang dikemukakan diharapkan berkutat pada tataan ranah teoretis ilmiah dan filosofis dilandasi dengan pendekatan induktif atau deduktif atau untuk lebih kritis lagi dengan menggunakan kedua pendekatan itu secara bergantian artinya sesudah dianalisis secara induktif, kebenarannya diuji lagi secara deduktif. Dalam konteks yang demikian, maka menyalin teks dari sumber tertentu secara utuh jelas tidak akan menjawab pertanyaan dengan baik. . Tetapi dalam kenyataannya masih terdapat juga pemindahan teks secara utuh dari buku tertentu untuk menjawab soal yang diberikan.

***

Pada suatu ketika, dua orang mahasiswa terpaksa diminta menemui dosen karena ada dugaan terdapat jawaban yang asli tetapi palsu. Dari enam pertanyaan, dicurigai tiga di antaranya  keasliannya. Ketika dikonfirmasi, kedua mahasiswa itu menyatakaan dengan penuh percaya diri bahwa mereka bekerja sendiri-sendiri dan tidak nyontek satu sama lain. Mereka malah minta pembuktian dan kalau tidak dapat membuktikan, dosen dianggap menyebar fitnah. Ketika diberitahu bahwa tiga jawaban mereka sama, mereka beralasan bahwa mungkin saja terjadi karena mengutip sumber yang sama. Walaupun wajah masing-masing mulai terlihat berubah, tetapi nada suaranya tetap tegas mencerminkan tanpa cela. Sukar juga mendapatkan penjelasan polos bernafaskan kejujuran sebagai mahasiswa pasca sarjana yang sudah mendekati usia setengah abad.

Dengan nada merendah, dosen menjelaskan bahwa jawaban mereka tidak hanya serupa tetapi persis sama. Mereka terdiam, tetapi sorotan matanya tetap menuntut pembuktian.Dosen meminta mereka berterus terang sehingga masalahnya lebih mudah dijernihkan. Tetapi mereka membisu! Akhirnya dosen memecah keheningan  dengan menunjukkan bahwa dalam ketiga jawaban itu titik komanya persisi sama dan … kesalahan ketiknya pun sama, pemenggalan katanya pun sama. Yang diubah adalah jenis hurufnya, yang satu menggunakan hurug Arial sedangkan yang lainnya menggunakan Times Roman. Mereka terdiam dan tertunduk, bungkem seribu kata, seperti kerbau tercocok hidung. Hening kembai tetapi kali ini diisi  kecemasan bercampur kegundahan  menyelimuti  perasaan mereka.  Sampai akhirnya salah seorang mengaku bahwa ia terpaksa  melakukan copy paste jawaban temannya karena kepepet waktu. Kali ini nampaknya dia berterus teranng, tetapi wajah dan getaran suaranya tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Demi rasa keadilan,  dia meminta agar  dia yang diberikan sanksi, bukan temannya. Dosen menarik nafas lega … akhirnya pengakuan itu muncul juga walaupun terasa kersang. Tetapi apa boleh buat  pengakuan itu tidak dapat menebus dosa. Dosen mengajak kedua mahasiswa itu mencermati Pedoman Perkuliahn yang mengatur, dalam keadaan demikian kedua mahasiswa diperlakukan sama … kedua-duanya harus mengulang semester berikutnya. Perbuatan yang demikian adalah melanggar “susila” kode etik akademis, apapun alasannya, apalagi dilakukan oleh mahasiswa Program S3 secara sadar, berencana, serta tahu resikonya. Kalau dalam hal begini saja terjadi penyelewengan, apa lagi dalam hal yang besar.

***

Dalam satu mata kuliah di Program S3 setiap pertemuan dimulai dengan kuis, tepat pada awal  jam perkuliahan. Tujuan kuis itu ialah untuk mengetahui  pemahaman dan kesiapan mahasiswa membahas topik perkuliahan pada hari itu serta merupakan konfirmasi kehadiran mahasiswa. Teknik ini dipakai dilatarbelakangi pengalaman aneh tapi nyata sebelumnya yang menunjukkan antara lain bahwa tidak jarang diskusi di kelas kurang berbobot karena kebanyakan mahasiswa kurang fokus pada topik, tidak mendalami dan tidak mengembangkan pembahasan karena tidak membaca referensi yang menjadi rujukan topik bahasan. Diskusi juga terkesan sebagai “obroloan di warung kopi” dengan sekali-sekali bernostalgia dengan pengalam-pengalaman  pribadi yang subjektif sehingga memancing debat kusir yang jelas mengurangi bobot akademik diskusi tetapi dinikmati banyak mahasiswa. Perkuliahan berlangsung tanpa harus baca buku, kecuali penyaji. Alasan kedua dilakukannya kuis di awal pertemuan juga didasari oleh banyaknya mahasiswa yang memasuki ruangan (terlambat) belasan bahkan kadang-kadang puluhan menit sesudah perkuliahan dimulai. Di samping itu tidak jarang terjadi terdapat tanda tangan mahasiswa di daftar hadir tapi yang bersangnkutan tidak ada di dalam kelas. Ternyata kuis diawal pertemuan mampu memotivasi mahasiswa membaca dan mencoba memahami referensi untuk setiap topik bahasan serta hadir tepat waktu. Sesungguhnya, tanpa kuis ini pun mahasiswa sebenarnya diharapkan mempersiapkan diri denngan baik sebelum menghadiri perkuliahan serta hadir tepat waktu.

Kesetiakawanan dapat juga menggoda mahasiswa berbuat amoral. Oleh karena kuis bersifat pilihan ganda dan jawaban yang ditulis hanya nomor pilihan, mahasiswa mudah melirik dan nyontek jawaban tetangga sebelahnya. Berkali-kali ditemukan jawaban yang persis sama dan seperti biasanya mereka menyanggah kalau disebut nyontek, sungguhpun mereka duduk bersebelahan. Insting dosen kadang-kadang cukup tajam, tetapi untuk membuktikannya juga memerlukan taktik tersendiri. Oleh karena mahasiswa bersikeras jawabnnya hasil pemikirannya sendiri dan dosen menduga adanya ketidakberesan dalam menjawab kuis itu, maka dosen meminta masing-masing menuliskan jawaban salah satu butir soal dengan duduk secara terpisah. Hasilnya … ternyata berbeda dan mahasiswanya tersenyum tersipu-sipu tanpa memperlihatkan rasa malu. Ternyata mahasiswa yang “sedewasa”  itu, merasa biasa-biasa saja melanggar nilai-nilai moral masyarakat akademik.

Lebih mencengangkan lagi ketika ditemukan dua lembar jawabaan kuis yang isinya persis sama baik pilihan jawab maupun warna tinta dan bentuk tulisannya tetapi nama berbeda. Ketika hasil kuis dibagikan kedua mahasiswa pemilik lembar jawaban kuis itu, tertawa ria sambil cubit-cubitan merasa bangga atas nilai yang mereka peroleh, tanpa menyadari mereka diperhatikan dosen. Ketika kelas mulai tenang, dosen menanyakan pemilik jawaban kuis yang bentuk tulisannya yang sama itu. Mereka tercengang, tidak menyangka. Salah seorang dengan nada genit menjawab, “kebetulan”. Tapi kelas terkesan tegang, mahasiswa saling memandang tapi ada juga senyum-senyum. Lalu dosen menanyakan kehadiran mahasiswa pada perkuliahan sebelumnya kepada ketuaya kelas. Sang ketua kelas tidak segera menjawab, tetapi mengalihkan tatapan ke kedua mahasiswa yang duduk bersebelahan. Sementara itu terdengar celotehan salah seorang mahasiswi, “Ngaku aja deh!!” Akhirnya perbuatan bejat sebagai wujud kesetiakawanan itu tesingkap juga. Salah seorang mengisikan jawaban kuis untuk temannya yang tidak hadir dengan harapan, temannya itu tidak kehilangan nilai kuis serta tidak dianggap absen. Keterlaluan!

Menyadari perbuatan amoral yang mereka lakukkan, kedua mahasiswi menemui dosen yang bersangkutan seminggu kemudian. Dengan wajah ceria dalam balutan busana yang menggairahkan mereka menanyakan konsekwensi perbuatan mereka dalam kuis itu. Lagi-lagi mereka diajak melihat ke aturan dalam Pedoman Perkuliahan. Hasilnya? Keseluruhan nilai kuis mereka, yang sudah dan yang akan datang dinyatakan batal yang berarti komponen nilai quiz mereka akan diberi nol. Ungkapan-ungkapan yang merayu dalam nada genit setengah tua, dengan berbagai janji, mereka meminta agar dimaafin dan nilai yang dibatalkan hanya untuk yang hari itu saja. Dosen menatap kedua wajah mahasiswi yang juga berprofesi dosen itu dengan pesona keheranan. Ungkapan-ungkapan bernada manja dan genit serta bahasa tubuh yang mereka tunjukkan terasa aneh dan lucu dilihat dari usia dan profesi mereka. Sebegitukah kepribadian mereka? Sedemikankah mereka memandang dan menyikapi dosen?  Konsisten adalah salah satu sikap profesional, tidak hanya konsisten dalam ilmu yang dianut, tetapi juga dalam menaati ketentuan dan peraturan yang sudah disepakati. Kehilangan nilai semua nilai kuis dan dapat beresiko mengulang.  No way to break the rules!

***

Sejak menjadi dosen saya diberi tugas membimbing mahasiswa diawali dari Strata 1. Pada awalnya hanya tiga orang, tetapi tahun-tahun berikutnya bertambah terus. Sejak awal saya sudah menyatakan kepada mahasiswa kesediaan membimbing mereka hanya dalam satu semester, karena itu saya meminta mereka disiplin dalam menggunakan waktu. Untuk mencapai target waktu itu, mahasiwa diberikan kesempatan menyampaikan kesulitan mereka atau bertanya melalui telpon. Kapan saja mereka siap untuk berdiskusi, akan dilayani dengan syarat memberitahu sehari sebelumnya untuk mengatur jadwal. Dari tahun ke tahun jumlah mahasiswa bertambah terus. Sampai terjadi perubahan di satu waktu.

Suatu senja … beberapa mahasiswa menemui saya di halaman kampus. Seperti biasanya raut muka yang masih muda-muda itu selalu dihiasi senyum ceria. Mereka berdiri mengelilingi saya dan sepertinya berlomba-lomba mendahului berbicara.

“Pak! Pak! … semula kami mengharapkan Bapak menjadi pembimbing kami.” kata seseorang yang berhasil pertama berbicara.

“Nggak apa-apa. Emangnya kenapa?” tanya saya.

“Nggak boleh Pak!” jawab yang lain ketus.

“Yang bilang gitu siapa?”,  tanya saya kembali.

“Ketua Prodi baru Pak! Katanya,’ Masak dosen itu lagi, dosen itu lagi? Apa nggak ada dosen lain?’ Aneh!”

Saya terdiam sejenak, baru kali ini saya mengadapi seperti ini.

“Ya,sudah! Pilih saja dosen lain. Kan masih banyak,”  saya menanggapi.

“Tapi masak gitu Pak? Kami maunya Bapak saja. Tolong Bapak ngomong deh sama Ketua Prodi.”  pintanya.

“Itu kan memang wewenang dia. Tapi nggak apa-apa deh, kapan-kapan saya tanyakan”, jawab saya.

“Segera ya Pak!”, kata yang lain melepas saya berlalu.

Dalam mengayunkan langkah saya berpikir-pikir dan heran atas kebijakan Ketua Prodi baru itu. Memang pernah saya dengar dari dosen lain bahwa Ketua Prodi ini menganggap kurang merata pembagian mahasiswa bimbingan. Ada yang membing  hanya beberapa orang, ada pula belasan, dan ada juga yang tidak ada sama sekali. Ada dosen yang tidak dipilih mahasiswa atau dipilihkan tapi mahasiswanya menolak. Mahasiswa punya alasan dalam memilih dosen pembimbing dan memberikan komentar bermacam-macam. Dosen  tidak dipilih karena sulit ditemui, tidak punya waktu untuk bimbingan, diminta bimbingan di rumah dosen, dosen tidak memberikan bimbingan yang berarti, tuntutan dosen terlalu tinggi/sulit, atau saran dosen tidak logis menurut mahasiswa.

Mungkin maksud Ketua Prodi baru adalah baik. Saya sendiri menyadari keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran. Saya pun tidak mendapat tambahan financial yang berarti kalaupun saya membimbing banyak mahasiswa. Mendapat popularitas? Juga tidak, dan bukan tempatnya. Saya sendiri tidak mempersoalkan jumlah mahasiswa yang saya bimbing berapa pun jumlahnya. Tapi alasan yang disampaikan Ketua Prodi baru itu seharusnya lebih akademis dan etis sehingga dapat dipahami dan diterima mahasiswa. Bahasa manajemen berbeda dengan bahasa operasional. Manajemen memerlukan emotional intelligence tidak semata-mata intelligence quotion yang tinggi. Terobosan-terobosan dalam manajemen masih dipagari oleh kepatutan (appropriateness)  agar tercipta iklim organisasi yang kondusif dan dinamis. Pengabaian terhadap kepatutan, sekecil apapun,  merupakan penyelewengan nilai dan etika berorganisasi.

***

Pembimbing itu ditunjuk, tentu dengan pertimbangan, tapi tidak transparan. Saya ditunjuk membimbing sejumlah mahasiswa S2 dan sebagai lazimnya pembimbing itu dua orang. Dalam prakteknya saya selalu berusaha tidak mendominasi dalam membimbing mahasiswa., bukan karena saya keberatan membantu mahasiswa tetapi terutama karena saya menghargai teman sejawat, pembimbing lain. Tapi alkisah, saya menghadapi seorang mahasiswa yang sudah senior dan berprofesi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Sejak dari awal, mahasiswa ini bersikap agak aneh, karena dia sering mempertahankan pendapatnya dengan merujuk pada saran temannya yang tidak jelas. Saya sudah berusaha untuk meluruskan pendapat dan argumentasinya itu semampu saya, tapi nampaknya ia berpendirian kukuh sehingga saya menyerah dan memintanya mempertahankan dan mempertanggung jawabkan pendapatnya itu wakktu ujian.

Mahasiswa ini juga rupaya bermasalah dengan pembimbing lainnya,  yang akhirnya karena juga merasa kewalahan membiarkan saja mahsiswa itu melaksnakan penelitiannya sesuai dengan kemauan mahasiswa itu. Pendek cerita mahasiswa itu mendesak untuk ujian, walaupunmenurut hemat saya belum layak. Tapi untuk menetraliser keadaan, saya stujui dengan catatan bahwa dia bertanggung jawab atas thesisnya.

Waktu ujian tiba. Mahasiswa itu memaparkan isi tesisnya di depan dua orang penguji dan dua orang pembimbing sekaligus penguji. Setelah selesai paparan mahasiswa, penguji pertama mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tidak bisa dijawab oleh mahasiswa itu secara terfokus dan benar. Ternyata terdapat cukup banyak kelemahan dan kesalahan dalam metodologi dan data penelitiannya. Ketua pelaksana ujian menghentikan ujian dan meminta mahasiswa itu ke luar dari ruangan. Menurut Ketua, si mahasiswa itu tidak siap dan tidak akan dapat menjawab pertanyaan penguji. Tapi diminta sidang menyepakati bahwa si mahasiswa itu dinyatakan lulus tapi harus memperbaiki thesisinya dan tidak akan  diberikan ijazah kalu penguji dan pembimbing belum menyetujui perbaikan itu. Keputusan itu diambil karena mahasiswa itu akan merepotkan pembimbing dan penguji kalau dia tidak lulus, dan menjadi beban penguji dan pembimbing. Begitulah!

Mendekati wisuda, mahasiswa itu menemui saya dengan menyatakan bahwa pembimbing yang satunya sudah setuju dan menandatangani persetujuan atas perbaikan yang dia lakukan. Saya meminta waktu untuk membacanya. Saya tidak melihat perbaikan yang mendasar pada isi thesisnya. Kesalahan notasi ilmiah pun  masih banyak  tapi pembimbing yang satu sudah menyetujui. Membingungkan. Saya memberikan beberapa tanda kesalahan-keslahan notasi ilmiah dengan harapan agar dia membaca secara keseluruhan kembali serta memperbaikinya.

Ketika ia datang saya memberitahu pendapat saya atas perbaikan yang dia lakukan. Tapi karena pembimbing yang lain sudah meberikan persetujuan, saya minta agar notasi ilmiahnya dia perbaiki secara keseluruhan. Bolak balik dia datang dengan perbaikan pada yang saya beri tanda saja sedangkan perbaikan di tempat lain tidak dilakukannya karena saya tidak memberi tanda. Akhirrnya saya mengatakan bahwa saya tidak akan memberikan persetujuan kalau dia tidak melakukan perbaikan secara keseluruhan. Dia mendesak agar saya menyetujui karena mengejar wisuda. Saya tetap tidak rela karena masih terlalu banyak kesalahan.

Sekitar tiga minggu kemudian, saya terima surat keputusan penggantian pembimbing mahasiswa itu.  Alhamdulilah, saya diganti sebagai pembimbing. Saya berniat menanyakan alasan penggantian itu kepada Pimpinan Pasca. Tapi pikir punya pikir, lebih baik membiarkannya saja. Sampai pada suatu ketika secara kebetulan saya bertemu dengan Pimpinan Pasca serta sempat ngobrol-ngobrol sampai pada penggantian saya sebagai pembimbing itu. Beliau agak terkejut ketika dia memperoleh informasi dari Kertua Prodi yang berbeda sama sekali dengan kenyataan yang saya beritahukan.  Beliau berkeinginan menelusuri masalah itu kembali tapi saya berserah saja. Apa sebenarnya yang terjadi sehingga mahasiswa yang dihentikan ujiannya dan thesisinya masih bermaslah itu buru-buru diluluskan??? Emangnya gue pikirin!

*****

Eh … eh … kaget … terjaga dan terbangun, terbangun dari mimpi …

****

Advertisements

20 thoughts on “MAKSIAT

  1. Salam,

    Cerita bapak cukup membuat sama “gak percaya”. Mahasiswa yang sudah tingkat tinggi saja bisa berbuat “curang” seperti itu. Lalu, bagaimana dengan cerita mahasiswa S1 pak? Saya ingin tahu sudut pandang dosen terhadap mahasiswa S1 yang diajarnya..:)

    Terimakasih,
    Lisa

  2. Saya yakin kejadian seperti yang diceritakan pasti ada. Kalau sudah begini bagaimana mungkin menghasilkan manusia yang lebih manusiawi? Dua sisi yang sama-sama sudah kacau, mahasiswa ada yang kacau, Ketua parodinya juga.

  3. Saya bingung mau komen apa? sebab sepertinya masalah di universitas ini ruwet enggak cuma mahasiswanya tapi juga dosen, makin bobrok dan tidak bermutu. Tapi saya berharap masih banyak juga dosen seperti bapak yang bertahan pada prinsip yang benar. Klu tidak apa jadinya masa depan pendidikan di Indonesia??? kalau tempat guru belajar saja seperti itu lalu hasilnya guru yang bagaimana pula??? Semangat terus pak Bintang

  4. meskipun cerita ini sdh lama, namun cukup relevan dgn keadaan saat ini. Menjadi guru dan dosen di zaman edan memang harus berani melakukan kebenaran dan meluruskan yg salah. Saya menjadi lebih introspeksi diri membaca tulisan bapak yg renyah ini. Hal yg harus dilakukan adalah mmbela kebenaran dan bukan pembenaran seperti apa yg dilakukan mahasiswa ketika menyontek

  5. penasaran…mahasiwa itu tetap lulus pd akhirnya… tpi sebagai dosen sy yakin dia tertampar dg perilakunya suatu hari dia akan merasai kesalahannya.. krn dosen itu hrus memberi teladan.. #menurut saya

  6. Terimakasih Pak, dari tulisan Bapak ini banyak pembelajaran yang bisa saya pahami. Sebelum perkuliahan aktif, sebagai mahasiswa terutama mahasiswa baru seperti saya, harus mampu mencermati pedoman perkuliahan. harus mendukung ANTI PLAGIARISME, dan senantiasa mempersiapkan diri sebelum perkuliahan dimulai. Ya, harus banyak membaca buku dan berdiskusi mengenai materi yang akan dibahas saat pertemuan berlangsung. Sebagai mahasiswa S2 juga harus bisa lebih kritis. Tidak boleh lagi menerima informasi/pendapat orang lain secara “mentanh-mentanh”. Kita harus bisa berpikir rasional, dianalisis secara induktif, diuji lagi secara deduktif, serta melibatkan pengalaman empiris. Supaya nanti tidak menjadi manusia “ngotot” yang bisa “merepotkan” banyak orang. Saya paham, kenapa Bapak meminta kami untuk membaca beberapa tulisan Bapak di awal perkuliahan ini. Saya Wulan, mahasiswa baru TP Non Regular.

  7. Setelah membaca cerita Bapak ini, saya jadi percaya tidak percaya. Percaya karna melihat berita yang lagi hangat hangatnya tentang pascasarjana saat ini. Tidak percaya karna melihat sikap mahasiswa s2 yang tidak seharusnya, apalagi mahasiswa tersebut berprofesi sebagai dosen. Atau apakah mahasiswa tersebut hanya sekedar ingin mendapatkan gelar masternya tanpa memperoleh ilmu yang seharusnya di dapat pada jenjang s2, Jadi mahasiswa tersebut tidak perduli dengan apa yang dilakukannya. ya, semoga hanya beberapa mahasiswa saja yang seperti itu ya pak.
    Tapi saya yakin Pak Sitepu merupakan dosen yang didambakan oleh mahasiswa untuk menjadi dosen pembimbingnya. Karna Bapak merupakan dosen yang apa adanya dalam membimbing mahasiswanya, jika salah ya salah. Jika benar ya benar. Dan Bapak juga termasuk dosen yang disiplin. semangat terus Pak Sitepu….
    salam kenal pak, Saya Mutia Hariyani, Mahasiswa Baru S2 Pascasarjana, Teknologi Pendidikan

  8. Salam bapak, honestly, setelah membacanya perasaan campur kaget dan miris. terutama untuk cerita tentang sikap mahasiswi yang sedang menjalankan kuis. Pak, saya seperti membaca kasus yang dilakukan seorang remaja, saya cukup kaget ini terjadi pada seseorang yang harusnya sudah dewasa dan berpendidikan tinggi, secara subjektif mungkin saya bisa menilai beberapa kasus tersebut berorientasi pada hasil dibanding proses. Seperti tidak menikmati setiap tambahan pengetahuan dari tugas yang diberikan, seperti merasa itu beban bukan kewajiban sehingga berfikir bagaimana cara menyelesaikan beban tersebut dengan mudah. bukan berfikir bagaimana menyelesaikan kewajiban tersebut dengan baik (ini jg akan menjadi nasihat untuk saya sebagai mahasiswi). Saya hanya berharap terutama pada diri saya sendiri untuk tetap pada niat ingin belajar, ingin memahami sesuatu bukan sekadar hanya ingin mendapati gelar … Aamiin
    terimakasih pak untuk ceritanya,banyak sekali pelajaran yang membuat diri lebih bercermin lagi.
    semoga bapak sehat dan menginspirasi selalu Aamiin

  9. Do’a, ikhtiar kebaikan maksimal tanpa mengeluh, evaluasi dan merencanakan kembali semua masalah akan dapat diselesaikan, tergantung bagaiaman mejawab masalah.
    Kegiatan akademik dikampus adalah kegiatan yang banyak sekali membutuhkan energi, kakuatan energi bisa didaptkan dari berbagai faktor, banyak diantaranya diawali dengan niat yang hakiki, menjadikan semua menjadi lebih baik untuk kedepanya,. Berkaitan dengan hal akademik banyak faktor yang tidak bisa diprediksikan oleh tingkat ilmu saintis, namun banyak hal yang tidak bisa diprediksikan tersebut terselesaikan dengan baik dengan cara-cara yang mengandung unsur kebaikan sejati. Semua hal itu merujuk kepada “ setiap hal yang dianggap terbaik bagi kita bukanlah hal yang mutlak baik untuk kita , dan setiap hal yang buruk bukanlah mutlak hal buruk dalam kehidupan kita,

  10. Menurut KBBI, maksiat berarti perbuatan yang melanggar perintah Allah, perbuatan dosa. Dan agama mengajarkan bahwa perbuatan dosa, selama dia bertobat maka diampuni. Bagaimana dengan pelanggaran peraturan perundangan? Pelanggar harus dihukum dulu baru bisa diampuni, karena manusia tidak sepengampun Tuhan. Mahasiswa curang, dihukum tidak lulus. Dosen mempermainkan nilai, dicopot pangkatnya. Institusi melanggar? UNJ kita yang ditemukan melanggar, sepatutnya dihukum. Namun hukumannya seharusnya untuk institusi, jangan merugikan anggota institusi yang tidak bersangkutan. Satu lulusan yang ditemukan plagiasi, seluruh lulusan didakwa tidak sah oleh media. Memang manusia sulit memaafkan, apalagi media. (Widyat Nurcahyo, S3 TP)

  11. Salam Sejahtera Prof.

    Sungguh, saya turut merasa prihatin atas kondisi yang terjadi. Seolah menghalalkan berbagai macam cara untuk mencapai suatu tujuan demi kepentingan pribadi semata, dengan tidak mempertimbangkan baik buruk dan dampak yang akan terjadi.
    Melihat fenomena seperti ini khususnya dalam dunia pendidikan pada tingkat universitas, sungguh sangat miris. Ketika nilai-nilai moralitas dipertaruhkan hanya untuk mendapatkan tanda kelulusan dalam hal ini nilai kelulusan mata kuliah yang bersifat akademis.
    Contoh kasus ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk permasalahan bangsa yang saat ini sedang dihadapi, yaitu krisis kepribadian, yakni krisis jati diri dimana nilai moral (kejujuran, sopan santun, adat istiadat ketimuran) bahkan nilai/norma agama dipertaruhkan yang lama kelamaan akan memudarkan rasa nasionalisme dan keyakinan kepada Tuhan YME, karena banyak terpengaruh adat, budaya dan lingkungan dari luar, sehingga terkesan tidak memiliki identitas diri (Ketidakpercayaan dan ketidakyakinan akan kemampuan diri). Tentu permasalahan ini akan berpengaruh pada generasi penerus bangsa, kaum pemuda pemudi Indonesia yang sebetulnya memiliki potensi besar demi pelestarian adat istiadat, budaya bangsa dan etika moralitas serta cinta kepada Tuhan YME.
    Pada hakikatnya, dalam pendidikan, ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses belajar, oleh karena itu pendidikan menjadi penting karena dapat merubah tingkah laku dan pola pikir seseorang menjadi lebih positif. Ilmu pengetahuan akan bermanfaat ketika dapat dibagikan dan dipergunakan sebagaimana mestinya.
    Oleh karena itu, menjadi tugas kita bersama untuk bisa menanggulangi permasalahan ini, karena saya percaya bahwa “apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai”.
    Terima kasih, semoga Prof. selalu diberikan kesehatan dan perlindungan-Nya.

    Salam Hormat,

    Aniesa Puspa Arum
    S3 TP 2017

  12. selamat ,malam Prof..
    tergugah hati saya membaca kandungan isi dari Maksiat Akademik ini, di satu sisi secara manusiawi hal itu pernah sy lakukan dan itu menjadi sebuah kewajaran, itu anggapan saya dulu saat saya kuliah di SF dimana terlalu sulit kami untuk mencontek walaupun hanya sekedar bertanya judul dari tema yang diberikan oleh dosen di sana. Sebelum saya membaca tulisan Prof ini sy hanya memandang pada diri sendiri bahwa semua itu bertujuan untuk apa?hanya merugikan mahasiswa, namun setelah saya memahami gaya mengajar bapak semakin yakinlah saya bahwa untuk kita dapat berbicara ternyata kita harus banyak membaca. Dahulu, saya tidak pernah terpikir bahwa ternyata dosen merasakan hati kecewa, gundah gulana, merasa tidak maksimal dalam pengajaran. karena sepanjang pengetahuan saya yang masih kurang ini terjadi dikotomi antara profesi guru dan dosen. Guru memang memiliki tupoksi salahsatunya adalah mendidik sesuai dengan UU. Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 berbeda halnya dengan seorang dosen dalam UU tersebut jelas bahwa dosen adalah seorang ilmuwan dan tidak dibunyikan dalam UU tersebut bahwa mendidik merupakan salah satu tupoksi dosen. Salut buat Prof. yang masih mau peduli terkait kejujuran mahasiswa…

    Banyak ilmu yang saya dapatkan dari Prof Sitepu, selain mengajar, bapak selalu menggali pertanyaan yang secara tidak langsung memang kami dituntut untuk selalu memakai otak kita secara maksimal dengan argumentasi secara ilmiah dan menghindari copy paste argumen bahkan tugas. Hanya jika ditanya oleh Prof. saya khususnya agak nge blank dikit karena kaget…heheheeee

    Semoga Indonesia terhindar dari Maksiat Akademi
    God Bless You Prof. Bintang Sitepu

    Yayan Sudrajat
    9902917009

  13. Hallo Bapak…saya tidak pernah bosan menmbaca tulisan Bapak. Apalagi tulisan ini. Sepertinya ada yang direvisi ya? Jadi lebih lengkap dan mantab ☺.
    Setiap kali saya memulai perkuliahan di kampus saya, saya juga selalu menginstruksikan mahasiswa saya untuk membaca tulisan bapak ini. Mengapa? Karena saya juga ingin mahasiswa saya terhindar dari “maksiat” akademik.
    Sebagai dosen yang profesional harus bisa menjadi role model bagi mahasiswanya. Ada pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kalau dosennya saja berbuat “maksiat”, lantas bagaimana dengan mahasiswanya???
    Kalau semua dosen seperti Bapak, mungkin angka “maksiat” akademik di kalangan mahasiswa bisa berkurang.

    Salam,
    Mita Septiani

  14. Tulisan ini menceritakan kondisi real yang memang tidak hanya di temui oleh Prof sendiri tetapi mungkin banyak ditemui oleh kita dalam segala aspek kehidupan di masyarakat. Modernisasi dan Industrialisasi menciptakan kemudahan-kemudahan dalam hidup kita sehingga semua menjadi mudah dan instan. Perlahan tapi pasti perubahan tersebut merubah juga paradigma orang. Peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian (bersakit-sakti dahulu, bersenang-senang kemudian) menjadi peribahasa yang usang. Saat ini, semua orang berharap dapat melakukan secara cepat dan instan, tanpa memikirkan etis atau tidak etis. semua orang ingin selalu cepat dan terdepan, tidak perduli prosesnya yang penting target tercapai.
    Selain hitam putih, ada abu-abu, yang menjadi wilayah tidak jelas tetapi banyak dipilih oleh orang-orang, menjadi benar karena semua orang melakukan hal yang sama. Kebenaran merupakan common opini, benar karena banyak yang melakukan, bukan benar karena sesuai kaidah. ketika semua orang melakukan hal yang sama (dan itu salah) membuat individu menjadi punya pembenaran, terlebih tidak pernah ada sanksi terhadap tindakan tersebut. Instan dan mudah menjadi bagian dari hidup kita, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang seharusnya dapat membuat manusia dari tidak beradab menjadi beradab, tidak beretika menjadi beretika menjadi tumpul dan tidak menghasilkan manusia yang beradab dan beretika ketika orang-orang yang ada di dalamnya juga melakukan tindakan seperti instan dan tanpa memikirkan kaidah kebenaran. Saat ini kita harus mendorong diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk melakukan sesuatu sesuai prosedur yang benar dan sesuai prosesnya. Tidak berharap mendapatkan secara instan dan dengan menghai alalkan segala cara. Cerita prof diatas (walaupun sudah 6 tahun yang lalu) sepertinya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini dan bisa menjadi salah satu contoh kondisi yang terjadi di mahasiswa, apalagi pasca dan UNJ yang saat ini sedang ramai di bicarakan terkait dengan hal-hal yang dianggap tidak sesuai prosedur, walaupun saya sebagai orang luar tidak mengetahui mana yang benar karena semua pihak mengklaim sebagai pihak yang benar dengan argumentasinya masing-masing. Semoga cerita Prof dapat menjadi refleksi dan pengingat buat saya sehingga saya dapat terus melakukan sesuatu sesuai prosedur dan proses yang benar. Iman Nurjaman, Mahasiswa TP S3 TP UNJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s