Gerimis

Gerimis,

Larutnya malam diiringi dengan rintikan hujan gerimis yang tiada henti sejak senja hari. Tidak bertambah lebat, tapi juga tidak berhenti, sepertinya bandel …  dan ngotot mengikuti perjalanan malam. Bunyi rintik hujan di atap diikuti dengan tetesan butir-butir  air menerpa batu-batu yang berserakan di pinggir selasar rumah. Keheningan malam membuat tetetsan-tetesan air seperti nada dan irama yang mengundang nostalgia hampir empat dekade yang lalu …

Seribu sembilan puluh tujuh puluh satu …. tempat ini masih  dikelilingi sawah dan diramaikan dengan suara kodok. Jalan ke pondokan ini masih jalan setapak di atas pematang sawah. Malam hari temeram sinar bulan atau bintang menunjuk jalan. Sepeda motor terpaksa kutitip di rumah orang lain kalau hujan karena jalan setapak itu penuh air dan berlumpur. Aku masih sendiri dan baru saja menyelesaikan program Sarjana Muda. Tapi bangga … sebagai anak desa bisa kuliah sambil menjadi guru honorer dan memberikan pelajaran bahasa Inggris dari ke rumah. Kerja keras memang, tapi sudah terbiasa sejak dari kecil, menggembalakan kerbau sambil sekolah, bangun pagi dan pulang sore.

Kerja keras itu memang akan membuahkan hasil, kata orang-orang bijak. Ternyata pengalaman hidupku tidak mengingkari dan turut membenarkannya. Batu bata, semen, dan pasir fondasi pondok mungil ini dulu diaduk dengan keringat dan air mata. Mungil karena hanya terdiri atas dua kamar, satu dapur kecil dan kamar mandi dengan sumur.  Mungil … karena jauh dari keramaian dan di tengah sawah dengan harga yang sesuai dengan kemampuan daya beli. Itu pun masih dibantu orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s