BERPACU MENGGUNAKAN TIK

BERPACU MENGGUNAKAN TIK

 

Dalam era globalisasi di abad 21 ini, batas antarnegara seakan-akan menjadi kabur, karena hasil kemajuan teknologi yang berkembang pesat memungkinkan orang berkomunikasi langsung atau tidak langsung secara bebas dan cepat. Globalisasi juga membuat persaingan lintas bangsa dan negara di bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya semakin ketat. Setiap negara semakin menyadari pentingnya meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam mengungguli persaingan antarbangsa atau antarnegara tersebut. Alokasi dana untuk mengembangkan pendidikan secara kuantitatif semakin meningkat di kebanyakan negara dari tahun ke tahun. Indonesia mengalokasikan dana penyelenggaraan dan pembangunan pendidikan sejumlah 20% dari APBN dan APBDnya.

Kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan yang kemudian berdampak pada perkembangan teknologi yang cepat pula. Melalui berbagai trobosan, khususnya dengan melakukan penelitian dan pengembangan,  dunia industri dari waktu ke waktu mengembangkan produknya semakin canggih dan praktis dengan harga yang semakin terjangkau masyarakat sehingga dapat memenangkan persaingan di pasar global. Laju kemajuan dan perubahan yang terjadi begitu cepat menyadarkan berbagai pihak bahwa proses belajar tidak cukup terjadi dan berakhir di lembaga  pendidikan formal atau nonformal. Untuk bisa berpacu dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta dapat meningkatkan taraf hidup individu atau kelompok, belajar sepanjang hayat menjadi kebutuhan dan keharusan. Apabila berbicara pada tatanan nasional, tidak hanya lapisan masyarakat tertentu saja, tapi seluruh bangsa secara merata perlu belajar sepanjang hidupnya. Dengan demikian tidak akan terjadi kesenjangan kemajuan yang dapat menimbulkan gejolak sosial yang negatif yang dapat merusak kesatuan dan persatuan bangsa.

Globalisasi serta kemajuan iptek memunculkan kebutuhan belajar tanpa batas waktu dan tempat. Untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan sumber belajar yang membantu dan memudahkan setiap orang memperoleh kesempatan belajar sesuai dengan keperluannya. Di sisi lain globalisasi dan iptek maju  menyediakan berbagai jenis informasi yang dapat dipergunakan untuk keperluan belajar. Teknologi informasi dan komunikasi dalam abad ke 21 ini memungkinkan kebutuhan belajar dapat dipenuhi dengan menggunakan informasi yang diunggah dan dapat diunduh di internet. Di samping itu,  kemudahan internet dapat dimanfaatkan untuk keperluan komunikasi sosial termasuk melakukan transaksi penjualan dan pembelian serta berbagai keperluan berkaitan dengan perbangkan.

Sedemikian bermanfaat dan pentingnya kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), sehingga semakin tertinggal orang atau masyarakat yang tidak mendayagunakannya. Organisasi sosial, komersial, dan pemerintah tidak dapat bersaing kalau mengabaikan pemanfaatan teknologi pada umumnya dan teknologi informasi dan komunikasi pada khususnya. Organisasi yang demikian makin lama makin tertinggal dan pada gilirannya akan punah. Oleh karena teknologi semakin penting serta menjadi salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia sehingga menambah jenis  kemampuan dasar kemampuan dasar manusia yang selama ini dikenal (membaca, menulis, dan berhitung) menjadi kemampuan membaca, menulis, berhitung dan menggunakan teknologi atau sering juga disebut melek huruf, melek angka, dan melek teknologi.

Masyarakat maju dan berbudaya sehingga memiliki peradaban tinggi, antara lain bercirikan masyarakat berpendidikan, gemar belajar, dan menggunakan teknologi maju dalam kehidupannya. Untuk mencapai masyarakat demikian harus melalui proses lama dan memerlukan dukungan sumber belajar dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk memenuhi kebutuhan setiap individu dan masyarakat. Perlunya masyarakat yang cerdas dan berbudaya juga terlihat pada pembukaan UUD RI Tahun 1945 yang secara jelas menyebutkan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan RI ialah mewujudkan bangsa Indonesia yang cerdas dan dapat meningkatkan taraf hidupnya sehingga sejajar dengan bangsa maju lainnya.

Melaksanakan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (wajar dikdas) secara bertahap mulai dari 6 tahun (1985), 9 tahun  (1995), serta kemudian ditargetkan menjadi 12 tahun, merupakan usaha pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh dan merata. Program wajar dikdas itu dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal serta menjadi tanggung jawab bersama antara orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, kebutuhan zaman sekarang menuntut setiap orang belajar sepanjang hayat, yang bermakna tidak hanya terbatas di lembaga pendidikan formal atau nonformal. Lingkungan hidup dan lingkungan bekerja menuntut pengetahuan dan keterampilan yang berbeda dan terus menerus berkembang. Tujuan yang ingin dicapai serta jenis pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari semakin beragam. Di segi lain informasi yang tersedia di dunia maya semakin berlimpah, tetapi untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar dibutuhkan keterampilan khusus.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup, diperlukan keterampilan belajar yang mencakup kemampuan mengidentifikasi apa yang perlu dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, di mana serta kapan mempelajarinya. Terakhir, yang tidak kalah pentingnya, bagaimana cara menggunakan dan mengembangkan hasil belajar untuk mengatasi masalah dalam meningkatkan kualitas hidup. Lembaga pendidikan diharapkan memberikan dan mengembangkan keterampilan belajar ini sehingga setiap orang dapat melanjutkan kegiatan belajar secara mandiri dan terus menerus sepanjang hayatnya. Salah satu keterampilan yang diperlukan dalam belajar ialah mengidentifikasi dan memilihi sumber belajar yang tepat sehingga dapat memperoleh informasi yang sesuai dengan pencapaian tujuan belajar.  Dalam konteks yang semikian, TIK sangat membantu dan mempermudah proses belajar.

Sejak satu dekadi sebelum abad ke 21, terasa perkembangan TIK mulai merambah, melimpah, dan secara cepat membanjiri kehidupan masyarakat. Berbagai produk TIK beredar dan dipergunakan oleh masyarakat dengan berbagai usia, pekerjaan, dan tingkat sosial. Di kalangan tertentu, sejak usia dini anak sudah diperkenalkan TIK serta secara bertahap menggunakannya. Misalnya, prilaku bayi diamati dengan kamera/CCTV, bayi diberikan mainan elektronik, dan ketika tumuh lebih besar diberikan permainan animasi pada ipod atau telepon seluler. Anak yang mengenal TIK sejak kecil sampai besar itu disebut generasi-I. Istilah ini berasal dari huruf awal sejumalh produk Apple seperti ipod dan iphone.

Kebiasaan anak menggunakan berbagai peralatan elektronik yang berbasis TIK, membuat mereka secara lambat laun “berbudaya” TIK dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu timbul fenomena baru yaitu anak yang demikian dapat memperoleh, memahami, dan menanggapi  berbagai informasi yang dia peroleh dari sumber yang berbeda pada waktu bersamaan. Misalnya, sambil baringan di tempat tidur anak dapat menyelesaikan pekerjaan rumahnya (PR dari sekolah) dengan benar sambal mendengarkan musik menggunakan earphone dari  MP3, saling berkirim pesan singkat  (SMS) dengan temannya (bukan tentang PR-nya itu), dan sesekali dia melihat tayangan film di tv di kamarnya.  Ketika mengerjakan PR itu, dia menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama music dari MP3 dan sesekali dia ikut tertawa menyaksikan adegan film yang tertayang di layar tv di kamarnya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa anak dapat menanggapi berbagai informasi yang bersumber dari berbagai informasi pada waktu bersamaan tanpa harus konsentrasi penuh terhadap setiap stimulus dari sumber informasi itu.

Pengalaman anak generasi-i seperti diuraikan itu tentu terbatas pada kalangan masyarakat tertentu, tetapi fenomena itu dapat mendorong orangtua, guru, dan masyarakat untuk membiasakan anak sedini mungkin menggunakan peralatan TIK sedini mungkin secara positif. Kebiasaan yang demikian akan menghindari anak gagap teknologi di kemudian hari.

Tantangan yang dihadapi dalam memanfaatkan teknologi pada umumnya dan TIK pada khususnya kepada anak sedini mungkin ialah menghindari anak dari ketergantungan pada teknologi  dan tetap kreatif dan inovatif ketika berada di lingkungan langka teknologi. Hendaknya anak terhindari dari anggapan bahwa teknologi adalah segala-galanya. Tantangan lain bagaimana anak dididik agar terampil menggunakan teknologi secara positif karena pada hakikatnya teknologi adalah bebas nilai dan nilai kebermanfaatannya tergantung bagaimana dan untuk apa digunakan. Kedua tantangan yang dikemukan termasuk pendidikan nilai atau pendidikan karakter. Hal ini perlu dilakukan sedini mungkin ketika teknologi itu diperkenalkan kepada anak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara tepat dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan mutu proses dan hasil belajar. TIK dapat mengatasi berbagai masalah pembelajaran yang dihadapi guru dan siswa. TIK juga membuat peranan guru menjadi berubah dan mendorong guru meningkatkan peranannya dalam mengembangkan desain pembelajaran, pengelolaan kelas, serta evaluasi pembelajaran. Guru juga dituntut untuk memanfaatkan TIK sehingga tetapi mendahului siswanya dalam memperoleh informasi yang terbaru berkaitan dengan bahan pembelajaran. ***

Visi 0614

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s